Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Wike Nomelia Simanjuntak (39) : “Melawan Kanker dengan Perjuangan Iman”

Dengan menggeliat penuh rasa kesakitan Wike berjuang melawan 3 penderitaan sekaligus. Lewat doa dan perjuangan iman, ia mampu menghadapi fonis kanker nasofaring, kanker getah bening, di tengah mengandung anak ketiganya.

 

Hidup berumah tangga dan dikaruniai anak merupakan kebahagiaan tersendiri bagi pasangan suami istri. Pernikahan Wike dengan Peris Octo Maruli Siregar (36) pun demikian, mereka dikaruniai 2 orang anak, Michael Justin Siregar dan Christabel Lovely Joy Siregar. Kehidupan mereka awalnya berjalan dengan normal. Namun, pada pertengahan 2013 silam, keadaan kesehatan Wike tiba-tiba memburuk drastis. Flu, batuk, dan suara parau tiada henti menyiksanya. Wike menganggap ini sebagai sakit biasa, tetapi tak kunjung sembuh. Akhirnya Wike memutuskan untuk memeriksakan penyakitnya ke klinik dan puskesmas, tetapi tidak kunjung sembuh juga. Pihak Puskesmas pun memberikan rujukan kepada Wike untuk memeriksakan penyakitnya ke RS Cengkareng.

Perjuangan melawan Aborsi

Harapan Wike dengan berobat di RS Cengkareng semua penyakitnya dapat sembuh. Enam bulan berjalan, flu, batuk, dan suara parau makin menyiksanya. Dengan pertimbangan banyak hal, dokter menyarankan Wike untuk melakukan biopsi. Menyambut datangnya Natal, Wike terus berdoa untuk kesembuhannya. Ternyata hasil biopsi yang dia dapat menjadi kado pahit di tengah suasana Natal saat itu.Hasil diagnosis dokter menyatakan bahwa Wike terkena kanker saluran pernafasan (nasofaring). Ia harus menjalani kemo sebanyak 6 kali dan radiasi sebanyak 30 kali.

Dengan mata sembab dan muka pucat Wike menangisi keadaannya selama berminggu-minggu. Ia merasa sangat terpukul dengan hasil diagnosis dokter. Bingung, sedih, takut, mencekam hari-hari Wike. Hatinya hancur berkeping-keping seperti tidak ada harapan lagi. “Saya bingung sekali dengan kondisi ini. Setelah diperiksa,ternyata saya hamil 1 bulan. Saya pun bingung harus bagaimana,” ujar Ibu dari Michael Justin Siregar.

Saran dokter kepada Wike terkait kehamilannya seakan menghantarkannya ke ujung jurang maut. Wike sangat dilema untuk mengambil keputusan antara melanjutkan kandungan atau menggugurkannya di tengah kondisi kesehatan yang semakin memburuk. “Dengan berat hati dan penuh resiko, saya tetap memilih untuk melanjutkan kandungan karena kehamilan adalah anugerah dari Tuhan,” ucapnya.

Mempertahankan anugerah Tuhan bukanlah hal yang mudah karena ia harus menanggung kelelahan, lemas, capek, pusing, mual, muntah, pendarahan terus-menerus dari hidung, dan muntah darah. Itulah salib yang harus ia tanggung. Di tengah derita tersebut, Wike tidak mau mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu sekaligus istri. “Dalam menghadapi penderitaan tersebut saya selalu ingin menjadi ibu dan istri yang baik. Jadi urusan rumah, antar jemput anak, tetap saya kerjakan dengan sepenuh hati.”

Kanker Baru

Pada 18 Oktober 2014, melalui operasi cesar lahirlah anak ketiganya, Shalom Oliver Faith Miracle Siregar. Sesuai namanya mukjizat Tuhan nyata dalam hidupnya. “Di tengah perjuangan melawan kanker, Tuhan memberikan anugerah yang luar biasa kepada kami.”

Ketika Wike harus merawat dan membesarkan anaknya, awal 2016 ia divonis dokter menderita kanker kelenjar getah bening. Yang awalnya hanya kanker saluran pernafasan (nasofaring) , kini meluas menjadi kanker kelenjar getah bening. Memasuki masa liburan, Wike justru harus bolak-balik rumah sakit karena suhu badannya tidak stabil. Inilah waktu terberat dalam pertarungan Wike melawan penyakit kanker. Enam bulan lamanya Wike harus menjalani kemoterapi, dari Januari- Juni 2016. Pada kemoterapi yang ke-4 Wike terkena herpes zooster.

“Jangan ditanya lagi bagaimana sakitnya merasakan penyakit ini, perih, panas seperti terbakar dan melepuh,tidur hanya bisa miring sebelah kanan. Dokter kulit mengatakan penyembuhan herpes zooster kurang lebih 6 bulan, tetapi Tuhan baik, hanya dalam waktu 1,5 bulan herpes saya hilang dan bisa melanjutkan kemoterapi ke-5 dan ke-6.”

Saat orang lain bisa bernafas menghirup oksigen secara gratis, pada kemo ke-6 Wike harus mengeluarkan kocek Rp 125.000,- per hari untuk 1 tabung oksigen selama 9 bulan. Belum lagi efek kemoterapi yang harus Wike terima.  “Inilah awal saya harus berjuang lagi antara hidup dan mati. Efek dari kemoterapi membuat paru-paru saya rusak dan berlubang di ke-4 titik. Akhirnya saya seperti mengalami kelumpuhan dan tidak bisa berjalan berbulan-bulan.  Ke kamar mandi harus dipapah oleh 2 orang, harus dimandikan, disuapi, harus pakai kursi roda dan sampai harus menggunakan pampers selama beberapa bulan.”

Aku Mengerti Maksud-Mu

Kondisi Wike semakin parah, pada Agustus 2016 ia harus keluar masuk UGD. Satu bulan kemudian, dokter UGD RS Hermina mengatakan bahwa Wike sudah tidak ada harapan lagi dan hanya tinggal menunggu waktu. Kemudian dari RS Hermina, ia dilarikan ke RS Dharmais dan mengalami kritis beberapa hari. Sampai akhirnya mukjizat terjadi, Wike bisa bangun kembali. “Itu semua bukan karena kuat gagah saya, tetapi oleh karena kebaikan dan kemurahan Tuhan saya diberi kesempatan hidup yang kedua kali. Saya sangat bersyukur di tengah perjuangan saya melawan kanker Tuhan memberikan keluarga, saudara dan teman yang luar biasa baik,” ucap Ibu dari Christabel Lovely Joy Siregar.

Pada 6 September 2017, 2 minggu berturut-turut Wike mendapatkan kabar sukacita. kankernya bersih,  hasil rontgen dan hasil BTA, menyatakan paru-paru bersih.  Setelah 1 tahun paru-paru  yang berlubang tertutup kembali, TBC efek kemoterapi hasilnya negatif. Tinggal pemulihan telinga dan pendengaran yang masih terus berjuang. Wike yakin tanpa memakai alat bantu dengar, pendengarannya pasti akan sembuh.

Berkat pertolongan dokter Amir Lutfie selama 6 bulan pengobatan, akhirnya Wike bisa sembuh. Awal pengobatan paru-paru, berat badan Wike 38 kg, sekarang menjadi 55kg. “Terimakasih sudah jadi dokter yang luar biasa, ramah dan rendah hati untuk saya. Selalu dengan setia mendengar keluh kesah saya. Awal pengobatan, saya merasa putus asa, tetapi dokter memberi saya kekuatan.”

Melalui penderitaan yang Wike alami, ia mengerti mengenai kesabaran, ketabahan dan ketegaran. Saat pengharapan sudah hampir hilang,  rasa sakit menjadi sangat luar biasa, semua seperti menghakimi Wike hanya terdiam dan tersenyum.

“Perjuangan melawan kanker adalah perjuangan iman. Saya percaya Tuhan selalu menopang dan memegang teguh hidup saya. Bukan karena kesakitan tubuh,  nafas yang hampir hilang, berkurangnya fungsi pendengaran.  Banyak hal yang membuat hidup ini terasa berat dalam melewati tiap masalah penuh derai air mata. Saya selalu percaya janji-Nya ya dan amin.Tetaplah berpengharapan kepada-Nya, meskipun tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tetap percaya rencana-Nya pasti yang terbaik.” Wike/Naf

Leave a Reply