Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

SURVIVORSHIP BIAS




eBahana.com – Senang sekali rasanya membaca atau mendengarkan para motivator dan orang-orang ternama menulis atau berbicara mengenai kesuksesan. Banyak langkah-langkah yang telah mereka susun untuk menggapainya disertai dengan berbagai macam testimoni. Semua ini mampu membuat setiap orang tergiur untuk menikmati kesuksesan yang sama seperti yang diceritakan tersebut. Apalagi terkesan setelah mengikuti pembahasan itu, kesuksesan dapat diraih dengan sangat mudah. Namun, apakah benar demikian kenyataannya?

Menjadi orang sukses telah menjadi impian banyak orang. Selain memang dapat menjadi kebanggaan diri, kesuksesan membuat orang merasa bisa lebih dihargai oleh lingkungan dan kelompoknya. Meski tentu saja, penilaian seseorang terhadap sebuah kesuksesan berbeda beda tapi semuanya mengarah kepada satu persamaan yaitu adanya keunggulan atau keberhasilan dalam bidang-bidang tertentu yang dapat menaikkan citra diri seseorang terhadap orang lain.

Pesona kesuksesan membuat seseorang terkadang lupa bahwa seringkali ada kegagalan yang mengikutinya karena biasanya orang lebih suka bercerita tentang kesuksesan daripada kegagalannya. Buat sebagian orang, kegagalan adalah sebuah aib yang harus dibuang jauh- jauh dan bahkan jikalau mungkin dilenyapkan dari kisah kehidupannya.

Inilah yang membuat banyak orang menjadi salah menilai kesuksesan seseorang jika tanpa melihat kegagalannya juga. Mereka berpikir bahwa dengan mengikuti setiap langkah-langkah yang telah dilakukan oleh orang sukses itu, mereka juga akan sukses tanpa mempertimbangkan lingkungan, ekonomi, latar belakang keluarga dan kehidupan orang tersebut secara utuh.

Kesesatan pikiran mengenai sebuah kesuksesan tanpa mempertimbangkan kegagalan yang juga bisa mengikutinya dikenal dengan istilah survivorship bias.

Misalnya, kita begitu terinspirasi ketika membaca kisah tentang Bill Gates dan Mark Zuckerberg yang tidak melanjutkan bangku kuliah tapi menjadi orang-orang yang sangat sukses sehingga kita pun berniat untuk melakukan hal yang sama agar bisa sukses seperti mereka padahal kenyataannya tentu saja tidaklah demikian. Ada begitu banyak orang yang memilih untuk meninggalkan bangku kuliah tapi tidak menjadi sukses seperti dua orang tersebut namun tentu saja hal itu tidak pernah dipublikasikan.

Di dalam gereja juga kerap terjadi kesesatan pikiran seperti itu. Salah satu contohnya adalah mengenai doa puasa. Kita pasti sering mendengar kesaksian tentang orang-orang yang doanya dijawab Tuhan ketika melakukan doa puasa. Padahal tentu saja, ada banyak juga orang yang melakukan hal itu tapi doanya belum dijawab. Mereka enggan menceritakannya karena menganggap bahwa itu bukan hal yang pantas untuk diceritakan. Hal ini bisa saja membuat orang yang tidak mengerti menganggap bahwa doa puasa menjadi seperti jalan untuk mendapatkan jawaban doa secara instan padahal itu merupakan hak prerogatif Tuhan sendiri. Ia menjawab doa sesuai dengan kehendakNya.

Bahaya dari pemikiran survivorship bias ini adalah kita bisa menjadi orang yang subjektif dalam menilai suatu keadaan dan permasalahan, gampang menghakimi dan menyalahkan orang lain dan cenderung tidak realistis dalam memandang kehidupan.

Di dalam Alkitab sendiri ada begitu banyak kisah mengenai orang-orang yang gagal dalam melihat rencana dan kehendak Tuhan dalam kehidupannya. Abraham, Musa, Daud, dan banyak tokoh-tokoh Alkitab

ternama lainnya pernah mengalami kegagalan tapi Tuhan tetap mengasihi dan menerima mereka kembali.

Itu berarti, Tuhan tidak anti dengan kegagalan manusia. Ia mengerti dan memahami bahwa kegagalan dan kesuksesan adalah bagian dari kehidupan yang telah dirancangkanNya untuk membuahkan kebaikan bagi semua orang yang telah dipanggilNya untuk menggenapi rencanaNya (Roma 8:28).

Di dalam Kitab Yeremia 17:5a Tuhan berfirman, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia”. Kita tidak boleh mengarahkan hidup kita atas dasar perkataan manusia yang terkadang tidak sesuai dengan kenyataan dan penuh tipu muslihat. Kita harus bisa berpikir kritis terhadap segala hal sambil selalu percaya kepada penyertaan Tuhan dan berpegang teguh terhadap setiap janji Tuhan.

Namun itu bukan berarti kita menolak mentah-mentah terhadap segala pemaparan yang baik dari para motivator atau orang-orang ternama itu. Ambillah nilai-nilai yang baik dari setiap cerita yang dikisahkan. Nilai kegigihan, pantang menyerah, dan lain-lain. Selain berpikir kritis, kita juga harus mampu bersikap bijaksana dalam mencerna setiap cerita dan pemaparan yang kita dengar dan lihat.

Tuhan Yesus juga mengajarkan untuk memperhitungkan segala hal sebelum melakukan segala sesuatu, seperti yang dikatakanNya dalam Injil Lukas 14:28-30, “Sebab siapakah diantara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?

Semua hal harus diperhitungkan dan jangan karena ikut-ikutan orang lain kita mengerjakan sesuatu, baik dalam bidang pelayanan, pekerjaan, bisnis, keluarga dan lain-lain. Janganlah kita juga mengukur diri kita sama

seperti orang lain karena setiap orang memiliki keunikan, kemampuan berpikir, kesempatan dan karakter yang berbeda-beda.

Yang seharusnya kita lakukan adalah percaya penuh dengan kemampuan yang Tuhan berikan dalam kita, berjalan dengan iman kepadaNya dan melihat kesuksesan sebagai sebuah hadiah yang bisa ada dan juga tidak serta kegagalan sebagai sebuah keniscayaan. Karena selama dalam dunia, baik kesuksesan atau kegagalan, tidak ada yang abadi.

Lantas bagaimana jika sampai saat ini kita belum melihat kesuksesan ada di depan mata padahal segala hal baik yang kita tahu sudah dilakukan.

Beberapa hal di bawah ini bisa menjadi bahan perenungan :

 

1.    Berserah kepada Tuhan sebagai Pemilik Kehidupan

Berserah bukan berarti hanya menunggu diam seakan kesempatan bisa datang tiba-tiba jatuh dari langit. Berserah berarti tetap melakukan yang terbaik dan menyerahkan setiap hasilnya kepada kedaulatan Tuhan. Percayalah, Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anakNya sendirian berjuang di dalam dunia, Ia akan membuka jalan bagi setiap orang yang percaya padaNya (Amsal 3:5-6).

2.    Tetap berjuang dan jangan menyerah

Meski kegagalan datang silih berganti, milikilah mental seorang pejuang yang tidak akan pernah menyerah oleh keadaan. Dalam Kitab Ulangan 31:8 tercatat sebuah kalimat yang sangat luar biasa, “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu,….janganlah takut dan janganlah patah hati.”. Jangan biarkan patah hati dan ketakutan merusak semangat kita, tetaplah teguh berdiri dalam segala keadaan karena Tuhan yang menjadi Nahkoda hidup kita.

3.    Belajar dari kegagalan

Kita harus memiliki kemampuan untuk bisa mengevaluasi setiap kegagalan yang terjadi sehingga penyebabnya tidak menjadi berulang di langkah kita berikutnya. Bisa juga mencari alternatif lain jika kegagalan itu terlalu parah untuk kembali dilanjutkan dengan jalan yang sama. Intinya, jangan biarkan kegagalan menghentikan langkah kita untuk bergerak maju (Amsal 24:16a).  

Kesuksesan dan kegagalan adalah seperti dua sisi mata uang. Keduanya bisa terjadi kapan saja. Oleh sebab itu, tetaplah siap siaga dan jadilah pemenang dalam kehidupan.

 

Oleh Gideon Budiyanto S.th.

(Kontributor Majalah Bahana).



Leave a Reply