Input your search keywords and press Enter.

Jonathan Prawira: BILA KAU YANG MENGURAPIKU

Sumber: Desiring God

TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku, Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku …. (Mazmur 18:21)

Generasi ini sedang mengalami tanda-tanda akhir zaman. Tanda-tanda umumnya adalah masa yang semakin sukar dan dunia yang semakin jahat. Namun, umat TUHAN tidak berarti mesti kalah. Kita hanya perlu lebih sungguh-sungguh mencari TUHAN karena Dialah sumber kekuatan dan kemenangan kita. Itulah mengapa sejak kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, TUHAN mulai menggerakkan saya untuk membuat lagu-lagu yang mempersiapkan umat TUHAN menghadapi tanda-tanda akhir zaman. Karena belajar dari Daud, penyembahan yang benar bukan soal merayu TUHAN dengan pujian, melainkan justru soal membangun hati dan perbuatan yang menyenangkan TUHAN. Rindu menjadi umat pemenang seperti Daud pada akhir zaman? Mari kita belajar dari Daud.

“Kau TUHAN yang tak akan berpangku tangan terhadap perkara hidupku …”

Hati penyembah bukannya tidak perlu mengantisipasi masalah, melainkan ia lebih berfokus pada TUHAN. Daud bukannya tidak mengalami masalah sebelum dan sesudah ia menjadi raja. Ia telah mengenal TUHAN secara pribadi dan terbiasa melibatkan TUHAN dalam setiap langkahnya, sehingga masalah apa pun, tidak bisa menghentikannya, justru dijadikannya alasan untuk dihadapi bersama TUHAN.

“Yang penting kulakukan apa yang benar dan berlaku setia pada-Mu…”

Hati penyembah bukan tidak boleh melakukan apa yang diinginkan. Ia memilih melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Niat baik saja tidak cukup. Proses pun perlu dilalui dengan benar. Daud bukan tidak punya keinginan pribadi. Apalagi sebagai raja ia punya kuasa dan harta untuk memperoleh apa pun. Namun, ia terbiasa memahami dan mendahulukan kehendak TUHAN. Oleh karena itu, ia tidak mudah terpengaruh oleh berbagai perlakuan orang terhadapnya. Ada insiden di mana Simei terus-menerus menghina Daud, sehingga anak buah Daud yang mendengarnya pun menjadi panas dan ingin menghajarnya. Namun, Daud justru memilih untuk menenangkan hati anak buahnya. Ia tahu pentingnya melakukan apa yang benar dan bukan apa yang sekadar memuaskan kemarahan.

“Kupercaya bila Kau berkenan padaku, Kau sendiri yang akan berperang gantiku…”

Hati penyembah bukannya tidak boleh menyenangkan manusia. Ia lebih memilih menyenangkan hati TUHAN di atas segalanya. Pada zaman persaingan ini, kita perlu belajar dari Daud. Bahkan dalam berperang pun Daud bukan punya ambisi untuk mengalahkan musuh. Ia berperang dengan motivasi untuk menyelamatkan bangsa yang tertindas oleh musuh-musuhnya. Ia memerintah dengan motivasi untuk menegakkan keadilan, kebenaran, dan keamanan di negerinya. Tidak heran bila TUHAN memerintahkan malaikat-Nya berkemah di sekelilingnya.

 

“Kupercaya bila Kau yang mengurapiku, kemenangan ada di pihakku.”

Hati penyembah bukannya tidak perlu mengembangkan talentanya. Ia lebih membutuhkan pengurapan TUHAN. Bagi saya pribadi, membuat lagu rohani adalah talenta yang perlu dipelajari dan dikembangkan. Hanya pengurapan TUHAN yang membuatnya berdampak bagi jiwa-jiwa yang menyambut lagu tersebut. Orang yang terbiasa mengandalkan kelebihannya sendiri akan sulit melihat kuasa TUHAN karena ia tidak sadar bahwa kelebihannya itu berasal dari TUHAN juga. Daud adalah seorang pembunuh raksasa. Namun, ia menyadari bahwa TUHANlah yang memberinya kesempatan maupun kemampuan. Itulah bentuk urapan yang Daud terima.

Kemenangan yang Daud alami adalah janji yang sama yang TUHAN sediakan bagi kita. Bagian kita hanyalah menjadi penyembah TUHAN yang benar, sebagaimana yang Dia cari. Haleluya!

 

 

Leave a Reply