Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Menghormati Pak Latui

Dari delapan tokoh awam dan pendeta yang mendirikan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) pada tahun 1954,
hanya tinggal seorang yang masih ada dan bahkan masih berkiprah terus, yaitu Peter Dominggus Latuihamallo. Bayangkan selama 55 tahun Pak Latui terus membantu LAI sebagai pengurus, ketua umum, dan kini sebagai ketua dewan pembina yayasan. Kini beliau berusia 91 tahun.

Untuk mensyukuri kiprah Pak Latui, pada bulan Oktober 2009 LAI menerbitkan buku berjudul Berteologi Memang Asyik-Kumpulan Refleksi Teologis Menghormati 91 tahun Pdt. Prof. Dr. P. D. Latuihamallo.

Tetapi Latuihamallo bukan hanya sesepuh di dunia penerbitan Alkitab, melainkan juga di dunia gerakan
ekumene dan terutama di dunia persekolahan teologi. Ia adalah putra Indonesia pertama yang mengajar di STT Jakarta pada tahun 1951, selain juga membantu Perhimpunan Sekolah-Sekolah Teologi di Indonesia (Persetia) dan Association of Theological Education in South East Asia (ATESEA). Di dunia gerakan ekumene, Latui sepanjang kurun 24 tahun terpilih sebagai ketua atau ketua umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan juga berkiprah di Christian Council of Asia (CCA) dan World Council of Churches (WWC).

Oleh sebab itu buku Berteologi Memang Asyik yang mensyukuri kiprah Latuihamallo ini ditulis oleh 19 orang
dari dunia persekolahan teologi, gerakan ekumene, dan penerbitan Alkitab. Sularso Sopater menulis tentang terkabul dan ketidakterkabulan doa dengan konteks pergumulan keluarganya yang mempunyai anak cacat tubuh. Liem Khiem Yang membuat tulisan yang menolak konsep tentang Allah yang idiil sebagaimana disalahpahami oleh banyak umat Kristen. Robert Borrong menulis tentang kebusukan praktik politik di negara kita. Martin Sinaga menulis tentang tiga dimensi pertalian firman Allah dengan politik. Joas Adiprasetya menulis tentang kerancuan umat Kristen Indonesia yang mendukung kebijakan Israel secara apriori dalam kericuhan Palestina.

Pada awal buku ini, Andar Ismail menulis refleksi semi-biografis tentang Latuihamallo, pergumulan Latui tentang teologi kontekstual dan sejumlah cerita tentang pribadi Latui, a.l. tentang rapat yang tegang di kantor PGI karena Berita Oikoumene PGI terancam diberangus oleh Pangkopkamtib gara-gara sebuah karangan Andar Ismail.

Di samping 17 artikel, buku Berteologi Memang Asyik juga memuat 22 foto dokumentasi keluarga Latui. Kata-kata bijak terdapat dalam puisi Almarhumah Ibu Daisy Latuihamallo untuk anak cucunya, “… De jaren gingen, de jaren gaan, wat God zij dank is blijven bestaan”.

Buku setebal 158 halaman ini menolong kita membuka mata bahwa berteologia bukanlah perkara sok tinggi di awangawang, melainkan perkara kita sehari-hari yang mengasyikan.

Buku refleksi ini ternyata tidak hanya reflektif, melainkan juga kontemplatif yang membuat kita termenung akan pekerjaan Allah dalam dunia penerbitan Alkitab, gerakan ekumene, dan persekolahan teologi. Kita seolah-olah mendengar gema 3000 tahun lalu dari bait Allah dan mengamini keenam verba yang menggambarkan kebaikan pekerjaan Allah dalam sejarah, TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau, TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia, TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera (Bil. 6:24-26).

 

Oleh Andar Ismail, M.Th, Ph.D.
Penulis buku-buku renungan “Seri Selamat”

Leave a Reply