Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Gracia Indri: Mengubah Kesedihan Menjadi Tanggung Jawab

Susah Melepas Image
Di sela-sela wawancara dengan Bahana, teman-teman Indri kadang “menginterupsi” dengan banyolan mereka. Indri merespon dengan banyolan yang lain atau hanya tersenyum dan melanjutkan menjawab pertanyaan yang diajukan. Image sebagai gadis berperangai buruk seperti yang terlihat di sinetron sekejap lenyap. “Itu cuma peran saja,” jawab Indri ketika Bahana mengomentari sifat aslinya. Gambaran remaja jutek dan jahat mulai melekat dalam diri Indri, sejak ia memerankan Jesica dalam sinetron Bidadari II. Indri beradu akting dengan Marshanda yang memerankan tokoh protagonis. Sinetron dengan banyak peminat ini mampu bertahan selama lima tahun. Imbasnya, image antagonis sulit dilepaskan dari Indri.
Perempuan kelahiran 14 Januari 1990 ini bersyukur jika pemirsa bisa mengapresiasi aktingnya. Meski akibatnya, ia kerap mendapat perlakuan tak menyenangkan. Salah satunya,
dimarah-marahi orang. “Biasanya ibu-ibu hamil, sebel banget sama peran antagonis, sampai dia bersumpah, supaya anaknya tidak seperti saya, tapi itu berarti dia sangat menyukai peran aku, positive thinking aja” ujarnya sambil tersenyum.

Dalam sinetron terbarunya, Melati untuk Marvel, Indri kembali dipercaya memainkan tokoh antagonis bernama Keisha. Yang berbeda dari karakter yang sebelumnya, kata Indri, ada unsur komedi yang diselipkan dalam sinetron ini. Gak bosan dapat peran antagonis? ” Nggak, karena aku selalu berdiskusi dengan sutradara, biar gak gitu-gitu aja,” jawab pemain film Malam Jumat Kliwon dan Coblos Cinta ini.

Dukungan Orangtua
Bakat anak pasangan Edu Sulistiarto (alm) dan Nevos Setyaningrum ini, memang sudah terlihat semenjak kecil. “Kata mama, sejak kecil aku sering berkaca, karena itu mama masukin aku ke kursus modelling milik Titi Qadarsih,” kenang Indri. Dukungan kedua orangtuanya, membuat Indri makin mantap menjajaki dunia hiburan. Setiap ada tawaran main sinetron, ia pun selalu berdiskusi dengan orangtuanya. Meskipun mendukung, orangtua
Indri tidak langsung melepas anaknya begitu saja. Ayah dan ibunya selalu mewanti-wanti Indri untuk tidak terjerumus hal-hal yang negatif. Berkaitan dengan seringnya mendapat peran antagonis, orangtuanya selalu mengingatkan Indri bahwa perannya di sinetron tidak boleh terbawa ke kehidupan nyata.

Belajar Otodidak
Indri tidak pernah mendapatkan pelajaran akting secara formal, ia belajar akting secara otodidak. Kemampuan akting Indri, terasah lewat pembelajaran di lapangan. Ia sangat bersyukur, karena Tuhan telah menganugerahkan bakat alamiah ini. Namun, ia menyadari bakat yang ia miliki harus terus dikembangkan. Adik Indri, Gisella Cindy juga terjun ke dunia sinetron. Sama seperti kakaknya, Gisella juga sering memerankan tokoh antagonis. Menurut Indri, adiknya menjadi pemain sinetron karena ketidaksengajaan. “Cindy masuk dunia
entertainment tuh gak sengaja, waktu dia nganter aku, sutradaranya suka banget dia. Rambutnya kan keritingkeriting, lucu banget,” kenangnya. Kakak beradik ini memang saling
mendukung. ”Dia mendukung aku, aku mendukung dia, saling kasih saran dan kritik,” ujarnya. Menurut Indri, mereka jarang bertengkar, tapi terkadang Indri suka iseng menggoda Cindy, dan membuat adiknya itu marah. “Aku isengin dia, karena aku kangen,” ujarnya.

Kehilangan Papa
Tanggal 20 Maret 2009, keluarga Indri mengalami cobaan berat. Ayah Indri, dipanggil ke hadirat Tuhan. Tak ayal, kepergian mendadak itu membuat Indri dan keluarganya terkejut. Saat kejadian, Indri masih di lokasi syuting. Begitu mendapat kabar sang ayah telah tiada, ia langsung menuju RSPAD Gatot Subroto, Jakarta tempat ayahnya disemayamkan. Tiba di RSPAD, Indri melihat sang ayah seperti sedang tidur biasa saja. Ia seakan tak percaya bahwa roh ayahnya sudah tak bersemayam dalam tubuhnya. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya.
Hanya air mata yang kemudian mengalir dari sudut-sudut matanya. “Papa, wake up (bangun),” bisik Indri dalam hatinya saat itu. Namun, ayahnya memang sudah pergi untuk selamanya. Sebelumnya, sang ayah memang mengeluh dadanya sakit dan segera dilarikan ke rumah sakti.

Meski sedang sakit, ia selalu menyakinkan keluarganya bahwa ia baik-baik saja. ”Papa tidak mau membuat keluarga khawatir,” tutur Indri. Tak berapa lama masuk rumah sakit, ayahnya pun koma. Ternyata setelah diperiksa, ayah Indri mendapat serangan jantung. Kematian datang bagai pencuri dan memberi kesedihan bagi yang ditinggalkan. Walau demikian, Indri
berusaha tegar, apalagi melihat ibu dan adiknya begitu berduka. “Mama dan adikku, down banget. Wajar karena mama sudah puluhan tahun hidup sama papa, adikku juga down karena dia mau ujian. Kalau semuanya down, nanti gak ada yang bisa menyemangati lagi, jadi mau gak mau, aku harus tegar di depan mereka,” kata Indri dengan suara tertahan. Setelah disemayamkan di RSPAD, almarhum ayah Indri dimakamkan di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur. Meski merasakan kesedihan yang mendalam, ada satu kebahagiaan yang terselip di hati Indri. “Aku senang lihat papa meninggalnya senyum, benar-benar
senyum. Karena itu aku bisa menerima, karena papa benar-benar ikhlas,” kenang Indri.
Kepergian sang ayah, membuat suasana Paskah di keluarga Indri menjadi berbeda. Biasanya mereka berkumpul bersama dengan keluarga besar lainnya. Bagaimana menghadapinya? ”Paskah tahun berikutnya, yang dipersiapkan adalah mental karena Paskah ke depan nggak sama papa.”

Terus Berjalan
Hidup harus terus berjalan, apa pun yang terjadi. Meski kesedihan belum beringsut, Indri dan keluarganya harus terus berjalan. Setelah izin dua hari untuk berkabung, Indri kembali
syuting sinetron kejar tayang Melati untuk Marvel. Yang membuat Indri tegar yakni kata-kata almarhum ayahnya yang selalu mendorong ia dan adiknya untuk syuting. ”Jadi aku berpikir dengan aku syuting papa bisa senang, Jadi istilahnya aku bisa bikin papaku bangga,” ungkap Indri. Sebagai anak sulung, Indri harus terlihat tegar di depan ibu dan adiknya. Indri berusaha sedapat mungkin tidak menangis di depan mereka jika teringat oleh almarhum ayahnya. Untuk membuat ibunya senang, sekarang Indri sering mengajaknya ke lokasi syuting. Satu penghiburan yang menyemangati Indri, bahwa Tuhan memanggil ayahnya,
karena ia orang baik dan tugasnya di bumi sudah selesai. Berserah kepada Tuhan, itu juga yang membuat Indri merasa lega. ”Kalau misalnya aku sedih aku pasti berdoa sama Tuhan, aku minta supaya papa dilapangkan jalannya, dan juga minta agar Tuhan memberi aku kekuatan,” kata Indri yang selalu berdoa rosario setiap malam ini. Walaupun Indri dan adiknya mempunyai pendapatan sendiri, namun sang ayah tetap menjadi tulang punggung secara ekonomi. Kini, mereka harus membagi tanggung jawab untuk menghidupi keluarga. ”Pokoknya duit aku, duit adikku, duit mamaku kita gabung buat kita bertiga,” ujarnya.

Harapan
Harapan ke depan, untuk karier, ia tidak mau kemaruk mengambil semua tawaran. Ia ingin menjalani satu-satu, sesuai dengan kemampuan dan staminanya. Walaupun, beberapa tawaran ia tolak, ia tidak khawatir itu akan mengurangi rezekinya. Ia percaya Tuhan sudah memberi jatah kepada masing-masing orang. “Yang penting aku udah semaksimal mungkin jalaninnya,” tegas Indri. (Dian)

Leave a Reply