Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Komunitas Sant’Egidio Gelar Dialog Agama & Budaya: ‘Damai Tanpa Batas’




Jakarta, eBahana

Pada Sabtu, 26 Oktober 2019 bertempat di Aula Sekolah Tarsisius 1, Jakarta Pusat, diadakan acara dari Komunitas Sant’Egidio tentang agama dan budaya dalam dialog. Dialog tersebut dihadiri oleh 5 narasumber adalah Romo Adrianus Suyadi, SJ, Fariz Alnizar, Biksu Dr. Sulaiman Girivirya, M.Pd, Yuri Nasution dan Tarsisius Erlip Vitarsa. Acara ini dibawakan oleh Loren dan Hieronimus Wersun. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Menurut narasumber, ada 3 situasi kerukunan umat beragama di Indonesia ialah toleransi, saling menerima, menghormati atau menghargai perbedaan, kesetaraan, saling melindungi dan memberi kesempatan yang sama dengan tidak superioritas dan kerjasama, keterlibatan aktif bergabung dengan pihak lain dan memberikan empati dan simpati kelompok lain dalam dimensi sosial, ekonomi, budaya dan keagamaan. Perbincangan yang menarik tentang karya nyata dialog damai ini adalah upaya untuk menembus sekat-sekat yang membatasi manusia dalam meraih kedamaian. Semua orang sejatinya memiliki harapan dan impian akan sebuah dunia yang damai, dunia yang tenang, dunia yang penuh kasih, namun berbagai peristiwa damai yang mendorong kedamaian di dunia masih saja terjadi, sehingga seakan menjadikan kata damai adalah hal yang semakin langka di dunia saat ini, yang membuat begitu banyak air mata yang tumpah karena penderitaan dialami.

Lebih lanjut dibahas penyebab konflik antar agama yaitu pemikiran ekstremis,kepentingan elit pemimpin politik dan agama yang haus akan kekuasaan dan pengalaman psikologis sakit hati di masa lalu. Namun kata-kata dari Nabi Yesaya berikut ini, ”Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru, pada saat ia mendengar teriakmu, ia akan menjawab,” dapat membangkitkan harapan. Kata-kata ini menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai rencana terhadap Sion dan juga terhadap seluruh umat manusia. Saat untuk menunjukkan kasih telah ditentukan. Allah telah menentukan kapan dan bagaimana Sion dapat dibebaskan. Sebagaimana Allah juga merencanakan penyelamatan bagi bangsa Israel agar terbebas dari perbudakan di Mesir. Dan untuk kedua bangsa itu Allah telah menggenapi janji-Nya.

Gereja katolik turut dalam membangun perdamaian dengan adanya “sakramen” kesatuan intim dengan Allah, sesama manusia dan alam semesta. Gereja mempromosikan solidaritas sesama manusia. Mereka yang berkuasa dan kaya harus solider dengan sesama, terutama kepada mereka yang miskin dan dikucilkan, keyakinan bahwa hakikat hidup manusia bersifat komuniter, artinya hidup bersama saling tergantung satu sama lain (dengan sesama dan alam semesta) dan Tuhan menciptakan manusia demi kesatuan yang didasarkan oleh semangat cinta kasih. Kepercayaan harus tetap dipertahankan dalam situasi apapun. Janji Allah ini memberikan kepada kita, bahwa kita dapat memohon kepada Allah bagi keselamatan bangsa-bangsa yang masih menderita karena dihimpit peperangan, ketidaktenangan dalam hidup yang tak kunjung berakhir.

Damai tanpa batas artinya berdamai dengan siapa saja tidak melihat agama, suku dan negara dan melihat yang positif dari semua orang. Acara dilanjutkan dengan doa damai menurut kepercayaan masing-masing, penyalaan lilin perdamaian dan penandatanganan surat perdamaian. Harapan buat semua umat katolik dan masyarakat Indonesia ialah kedamaian harus dimulai dari yang kecil seperti samudera dibentuk atas tetes-tetesan air dan kita semua harus memulai dari lingkungan sendiri dan memang itu kecil dan kita tidak dapat merasakan akan apa gunanya orang kecil di sini atau kelompok terbatas tetapi kalau semua orang berpikir demikian damai tidak akan  pernah tercapai, tapi kalau dimulai dari kelompok kecil kesulitan-kesulitan bisa menjadi besar sehingga damainya bisa terlaksana dan tercapai. Susan



Leave a Reply