Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Yesus, Kaulah Tuhan Dan Juruselamatku Yang Hidup

Natal kembali datang. Peringatan hari kelahiran Yesus Kristus yang selalu aku rindukan. Sekalipun dirayakan secara sederhana dari tahun ke tahun, sejak kecil aku selalu menikmatinya dengan bahagia. Natal selalu membawa damai dan sukacita untukku, untuk kita semua umat ketebusanNya.

Jika aku merenungkan kembali hidupku, segenap tubuh jiwa dan rohku mengakui dengan kesadaran penuh, bahwa anugerah terbesar dalam hidupku adalah saat aku bertemu Yesus dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamatku.

Bisa mengenal Yesus adalah peristiwa menakjubkan dalam hidupku. Mulai dari mengenal Yesus sebagai bayi yang lahir di palungan, Yesus yang tumbuh dewasa dalam roh takut akan Allah,  kematianNya menggantikan diriku, sampai suatu saat nanti Dia akan datang menjemputku sebagai MempelaiNya, adalah suatu anugerah yang tak ternilai untukku. Aku benar-benar beruntung dan sangat diberkati bisa mendapatkan kasih karunia bernama YESUS.

Saat menuliskan ini tak terasa air mataku mengalir. Aku teringat akan perjalanan hidupku. Bagaikan film, pengalaman masa kecilku sampai sekarang diputar lagi di depan mataku.

Susah, senang, sakit, sehat, menangis, tertawa dan banyak pengalaman lainnya sudah terjadi dalam hidupku. Perjalananku tak selalu mulus. Tak semua yang aku inginkan bisa aku dapatkan. Ada kalanya aku harus mengalami satu masalah maupun banyak masalah yang bertubi-tubi. Satu masalah belum selesai tapi sudah harus mengalami masalah lainnya yang tak kalah berat. Bagai sudah jatuh tertimpa tangga, digigit anjing pula.

Tapi untungnya aku punya Yesus. Yesus selalu ada bersamaku di setiap perjalanan hidupku. Bayi Yesus yang lahir dihatiku itu benar-benar hidup dan diam di dalam diriku, mengerjakan banyak mujizat untuk menolongku tepat pada waktunya.

Jadi teringat cerita “Minyak Seorang Janda” di kitab 2 Raja-Raja 4 :1-7 yang berbunyi:

4:1 Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.”

Ayat ini menunjukkan pada masalah bertubi-tubi yang sedang kita hadapi. Suami meninggal, hutang menumpuk, penagih hutang datang hendak mengambil anak-anak menjadi budak. Masalah datang menyerbu bagaikan rentetan peluru yang ditembakkan pada kita.

Pernah mengalaminya? Aku mengalaminya. Saat itu hidupku yang terlihat sempurna harus mengalami sederet keadaan yang tak mengenakkan yang datang dalam sekejap tanpa spasi.

Suamiku yang sudah mapan di kantornya tiba-tiba di-PHK. Kami sekeluarga yang merantau di Bali tak punya sanak saudara, harus segera keluar dari rumah yang dikontrakkan oleh kantor, karena kantor Bali memang harus ditutup. Pertengahan Juli suami saya di-PHK, akhir Juli kontrakan berakhir. Padahal suami saya sebagai kepala cabang Bali masih harus mengurus tagihan Juli yang ditagihkan kepelanggan di bulan Agustus. Sayangnya pemilik kontrakan tak mau memberikan waktu bagi kami untuk keluar bulanAgustus, padahal kami bersedia membayar kontrak Agustus secara penuh. Intinya kami harus angkat kaki dari rumah itu secepatnya.

Panik! Barang-barang rumah sebegitu banyak harus segera kami bereskan untuk dikirim ke rumah kami di Jawa. Saat itu, anak-anak saya masih berusia 3 dan 1,5 tahun. Saya pun tak punya pembantu. Beres-beres rumah harus kami lakukan secara kilat, karena awal Agustus kami akan pindah ke kos-kosan untuk mengirit biaya. Stres jadinya.

Anak sulungku yang seharusnya memulai hari pertama sekolah jadi tertunda, karena selepas Agustus kami berencana pindah ke Jawa. Tabungan kami saat itu juga tak banyak. Anakku yang tanggal 8 Agustus berulang tahun batal dirayakan ulang tahunnya karena kami harus mengirit pengeluaran. Membeli bedakku yang habis pun tak jadi kulakukan demi membeli susu buat anak-anakku.

Aku sadar sepenuhnya hidup kami ke depan akan sangat berat, mengingat umur suamiku bukan fresh graduate yang gampang mendapatkan pekerjaan dengan jabatan kepala cabang beserta segala fasilitasnya. Aku cuma bisa menangis saat itu. Hidupku berubah drastis secara mendadak.

Tapi apa yang terjadi di ayat selanjutnya?

4:2 Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat ku perbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kau punya di rumah. “Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apa pun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.”

4:3 Lalu berkatalah Elisa: “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, daripada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit.

4:4 Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!”

4:5 Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang.

4:6 Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,” tetapi jawabnya kepada ibunya: “Tidak ada lagi bejana.” Lalu berhentilah minyak itu mengalir.

4:7 Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah,dan orang ini berkata: “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu.”

Seperti perempuan itu datang pada Elisa (bukan pada tukang sihir atau yang lainnya), seperti itu jugalah kuserahkan hidupku dalam tangan Tuhan. Seperti perempuan itu menurut pada perintah Elisa, seperti itu jugalah aku menurut pada perintah Tuhan untuk tidak meninggalkan suamiku. Jujur saat itu aku memang punya pikiran meninggalkan suamiku karena aku tak tahan hidup dalam tekanan.

Saat aku hendak pesan tiket pulang ke rumah orang tuaku bersama kedua anakku, Tuhan berbisik dengan lembut di telingaku,” Jemima, itu bibit tidak setia. ”Saat itu aku menangis dan menyesali niat burukku. Aku tak jadi meninggalkan suamiku. Aku mau menurut pada Tuhan.

Hasilnya nyata. Beberapa hari setelah itu, suamiku tiba-tiba dihubungi sebuah perusahaan di Jakarta. Pemilik perusahaan yang tidak kami kenal sebelumnya berminat merekrut suamiku untuk dijadikan kepala cabang di Bali. Gaji dan fasilitas yang diberikan beliau lebih besar dari kantor yang lama.

Aku sungguh takjub dengan cara Tuhan menolong kami sekeluarga. Kami tak jadi pulang ke Jawa. Kami tetap tinggal di Bali sampai sekarang dan tak pernah kekurangan. Anak-anakku juga mendapatkan pendidikan terbaik di salah satu sekolah internasional di Bali.

Satu per satu Tuhan pulihkan hidupku. Kuncinya cuma satu. Taat pada firman sekalipun firman itu tampak konyol untuk dilakukan, bagaikan perempuan yang disuruh mengumpulkan bejana dan menuanginya dengan minyak.

Tak ada alasan lagi bagiku untuk meragukan kasihNya. Yesus yang lahir di hatiku itulah yang menerangi hidupku saat aku harus berjalan dalam kegelapan. Yesus itu jugalah yang menjadi pintu jalan keluar bagi setiap masalahku. Terimakasih Yesus sudah mau lahir dan tinggal dalam hidupku. Selamat Natal semuanya. God bless us. Amen.

Leave a Reply