Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

“Tuhan Ringankan Deritaku dan Sembuhkan Sakitku..”

Pengalaman Iman dari Mentawai

Selasa, 1 Juli 2008 adalah hari yang sangat membahagiakan bagiku. Sore itu, aku baru saja pulang mengajar Paket A di desa Bosua. Kelelahan yang mendera tubuhku setelah bersepeda melewati pesisir pantai, jalan mendaki dan semak belukar hingga sepeda harus kupanggul, segera lenyap. Begitu mendengar kabar aku diangkat menjadi CPNS setelah sekian lama menjadi guru di SD Sao.

Aku pun segera berangkat ke Tuapejat, ibu kota Mentawai. Selama 2,5 jam badanku
terguncang-guncang di dalam perahu. Cuaca sedang tak bersahabat. Badai menemani perjalananku. Puji Tuhan, aku sampai dengan selamat. Paginya, seharian aku mengurus
berkas-berkas ke kantor dinas pendidikan. Kira-kira menjelang sore (pukul tiga) perutku mulai melilit. Nyeri dan sakit hingga aku muntahmuntah. Aku pun dilarikan ke RS.
Kendati sudah ditangani dokter dan perawat, sakit itu tak kunjung reda.

Kondisi Emergensi, Sulit Transportasi

Ibu Ruth Mien, pimpinan kami, yang kebetulan sedang berada di Padang menganjurkan agar aku segera dibawa ke Padang malam itu juga. Kebetulan kapal ferry jurusan Mentawai-Padang—yang hanya berlayar ketika cuaca bagus—sedang standby. Namun dokter tidak mengizinkan. Keesokan paginya, kondisiku makin parah. Perutku membesar dan saluran pencernaan tak berfungsi normal. Dokter memasang kateter, slang oksigen, dan slang dari mulut ke usus untuk membuang kotoran. Dokter menduga aku menderita usus buntu akut. Aku terus meraung kesakitan. Malam itu aku hendak dibawa ke Padang. Ibu Mien berusaha
mencarikan kapal walau harus membayar Rp.6 juta untuk BBMnya. Sayang, karena cuaca buruk, kapal enggan berlayar. Kami hanya pasrah pada Tuhan dalam doa.

Terhadang Badai
Jumat, 4 Juli pukul 20.00 WIB aku sudah siap di pelabuhan hendak bertolak ke Padang. Badai masih belum reda. Kapal nekat berlayar. Baru setengah perjalanan kapal berputar
haluan kembali ke pelabuhan. Badai terlalu dahsyat untuk diterjang. Saat itu, kondisiku semakin kritis. Perutku membesar, ada darah keluar dari mulut dan hidungku. Aku pun diantar kembali ke rumah sakit. Tubuhku lemahku terguncang-guncang di dalam mobil. Jarak sejauh 9 km dengan kondisi jalan yang rusak parah harus kami lalui. Secara roh, aku kuat tetapi tubuhku semakin lemah. Teman-teman menangis melihat keadaanku. Fasilitas
di RS begitu terbatas. Tak ada lagi yang bisa dilakukan, selain menunggu mukjizat Tuhan.
Tuhan mendengar doa kami. Keesokan paginya, akhirnya kapal berani juga berlayar. Aku berdoa, “Tuhan, kalau Engkau menghendaki aku hidup, izinkan kami sampai ke Padang.” Badai belum juga reda. Sesekali air laut masuk ke kapal, mengguyur tubuhku yang lemah itu.
Namun, aku percaya Tuhan berjalan bersama kami. Benarlah keyakinan itu. Kami tiba di Padang dengan selamat. Aku segera dilarikan ke RS Yos Sudarso, Padang dengan ambulan yang sudah disiapkan oleh Ibu Mien.

Terkena Kanker Ganas
Minggu, 6 Juli, pukul 14.00 WIB, aku menjalani operasi selama 4 jam. Ternyata, ada kista di perutku yang sudah pecah selama lima hari sehingga mengotori dinding perut dan organorgan lainnya. Akibatnya, aku harus menjalani dua kali operasi. Biaya pun melonjak 2 kali lipat. Lima hari setelah operasi, kondisiku tak jua stabil. Jiwaku gelisah dan tidak tenang.
Kista tadi lalu dibawa ke Jakarta untuk diperiksa di laboratorium. Hasilnya, aku divonis terkena kanker ganas stadium IV dan harus menjalani kemoterapi. Badanku mendadak lemas. Aku tidak punya biaya lagi. Perawatan selama 21 hari di RS sudah menghabiskan biaya sebesar Rp. 31 juta. Itu tidak termasuk transportasi dan biaya hidup teman-teman selama
menjaga aku di RS itu.

Tuhanlah Dokterku yang Ajaib
Seminggu setelah keluar dari RS, aku kembali ke Mentawai. Karena ketiadaan biaya, aku tidak bisa menebus obat-obatan. Namun, hari demi hari kesehatanku semakin pulih. Puji Tuhan, kini aku bisa kembali beraktivitas secara normal. Tangan Tuhan sendiri yang bekerja
memulihkanku. Terima kasih untuk semua pihak yang mendoakan dan membantu dana. Tuhan akan membalas kebaikan Anda semua.

 

(Kisah Yosephina Dakahamapu, staf PESAT di Mentawai)

Leave a Reply