Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Jangan Tunggu Sampai Besok Apa yang Dapat Kamu Kerjakan Hari Ini

Oleh: Abhotneo Naibaho

Salah satu tindakan yang kedengarannya kurang baik dan hampir seluruh manusia pernah melakukannya adalah kata “penundaan”. Hal menunda sesuatu tidaklah jarang kita dengar. Entah itu menunda pekerjaan, bisnis, tugas-tugas rumah bahkan menunda janji-janji yang sudah kita buat sebelumnya dengan orang lain. Mengapa hal ini seringkali terjadi? Berbagai macam alasan jika ditanya apa penyebab hal tersebut bisa terjadi.

Jika demikian apakah dengan menunda sesuatu akan mendatangkan hasil yang baik nantinya, atau malah sebaliknya akan berdampak buruk bagi mereka yang suka menunda?
Saya mencoba menanyakan hal ini kepada beberapa orang dan bagaimana tanggapan mereka dalam hal “penundaan”. Orang pertama berpendapat: “Menunda tidak selalu berdampak negatif, tergantung apa yang ditunda. Kalau memang hal yang akan ditunda itu penting ya sebaiknya jangan ditunda. Ya pokoknya tergantung pribadi masing-masing lah………”

Ada juga yang berkata: “sebab kadang kala dengan menunda kita bisa membuat sesuatu menjadi lebih sempurna dan bisa juga membuat menumpuknya pekerjaan. Tetapi tenang, saya kan….bisa negerjain di malam hari.”
Pendapat orang yang terakhir yang saya tanyakan menjawab demikian: “Penundaan berarti membatalkan kegiatan atau pekerjaan yang sudah dijadwalkan dan mencerminkan orang yang kurang disiplin serta berakibat tidak selesainya suatu pekerjaan yang akan dikerjakan.”

Ketiga pendapat di atas terdapat beberapa kesamaan tetapi ada yang dengan cepat mengatakan bahwa menunda itu mencerminkan orang yang kurang disiplin.

Menunda berasal dari kata tunda yang artinya membatalkan untuk sementara waktu. Beberapa contoh-contoh penundaan: Seorang karyawan di sebuah perusahaan yang mempunyai bidang dan tanggung jawab pekerjaan yang harus dia kerjakan dan taati. Tapi suatu kali dia menunda apa yang seharusnya ia kerjakan pada hari itu juga. Mungkin pada hari itu dia mengalami kelonggaran waktu (bisa dikatakan tugasnya telah beres / terselesaikan), atau mungkin disebabkan oleh karena pada saat itu dia merasakan malas, atau mungkin juga ia mengalami penyakit yang datangnya secara tiba-tiba seperti: sakit kepala/ pusing, sakit perut, maag, dan lain sebagainya. Jika demikian, maka otomatis dia akan menunda pekerjaannya untuk beberapa waktu atau pun beberapa hari, tergantung kondisi penyakit yang dialaminya apakah mengalami pemulihan singkat atau lama.

Dengan demikian tugas yang seharusnya menjadi pekerjaan pada hari itu berubah menjadi tugas esok harinya. Dan waktu yang seharusnya digunakan untuk hal yang lain tadi demi untuk menyelesaikan tugas yang sempat tertunda tadi. Dan yang lebih aneh bin ajaib lagi ada orang yang paling suka menunda pekerjaannya hanya untuk hal-hal yang boleh dikatakan tidak terlalu bermanfaat. Bisa saja di kantor dia suka ngerumpi, suka bengong atau ngelamun atau ada juga yang suka tidur/ mengantuk di tempat pekerjaan dan bahkan ada yang suka keluar-masuk ruangan hanya berjalan-jalan disekitar kantor tanpa tahu apa maksud dan tujuannya.

Tapi apakah masalah penundaan semuanya negatif? Tentunya tidak semua. karena ada juga yang mengakibatkan kebaikan pada saat penundaan itu dilakukan. Alasannya apabila seseorang kurang mood maka dia berusaha menundanya demi hasil yang lebih baik.

Memang benar bahwa semua hal penundaan tidaklah selalu buruk. Tetapi jawaban yang tidak jarang kita dengar adalah disebabkan oleh faktor kemalasan. Inilah yang pantas disebut penundaan yang buruk. Bahkan banyak juga yang mengatakan: “saya tidak punya banyak waktu, mungkin lain kali aja ya.” Waktu yang Tuhan sediakan tidaklah pernah berkurang sedetik pun. Selalu dua puluh empat jam sehari. Yang menjadi masalah adalah apabila kita telah terbiasa menunda-nunda pekerjaan yang seharusnya bisa kita kerjakan pada hari itu juga. Kalau hal ini sering kita lakukan maka kita merupakan orang yang kurang disiplin, tidak punya tanggung jawab diri. Bagaimana kalau sikap ini terus-menerus kita lakukan sampai tiba saatnya Tuhan menyatakan diri-Nya untuk datang kembali yang tiada seorang pun yang tahu kapan Ia datang. Bagaikan pencuri yang datang pada waktu malam.

Dalam Injil Yohanes 7:6 Maka jawab Yesus kepada mereka: “Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu.” Yesus sudah sangat jelas mengatakan hal waktu yang sebenarnya kita masih diberikan kesempatan untuk berubah dari tingkah laku kita yang tidak baik. Tuhan manakah yang, selain Tuhan Yesus yang selalu memberikan kesempatan bagi kita untuk berbalik dari jalan-jalan kita yang jahat? Bahkan Dia tidak menginginkan kematian orang fasik.

Kitab Roma 13:11 juga dikatakan supaya kita bangkit dari tidur atau kemalasan kita. “Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.”

Alangkah senangnya apabila setiap tugas maupun pekerjaan kita dapat terselesaikan dengan baik. Saya percaya bahwa bukan saya saja yang mampu berkata demikian. Semua orang yang mengalami hal demikian pasti akan berkata yang sama seperti saya. Perasaan kita tentunya akan mengalami kebahagiaan dan menjadi kepuasaan tersendiri bagi kita.

Untuk itu marilah kita meneladani sikap Rasul Paulus yang tidak pernah menyia-nyiakan waktu yang telah Tuhan berikan bagi dia. Dia selalu giat melayani dan ditengah kesibukannya dalam pemberitaan Injil, dia tidak pernah lalai untuk berkarya dalam melakukan pekerjaannya untuk menopang pelayanan yang dilakukannya seraya tetap bersukacita dan mengucap syukur kepada Allah. (Efesus 5:15-16). Dan di tengah-tengah dunia yang semakin jahat ini kita dituntut untuk berbeda dengan dunia ini. Dimulai dengan hal-hal kecil khususnya menunjukkan kedisiplinan dalam hal waktu dan juga sikap maupun perbuatan kita terhadap sesama. Karena untuk meraih kesuksesan kita harus menghargai waktu hari ini bukan hari esok.

* MENGHARGAI WAKTU ADALAH SIKAP YANG DISIPLIN *