Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

HARMONI NATAL

Oleh Tony Tedjo

 

Sepucuk surat undangan dilayangkan oleh bidang kemahasiswaan sekolah di mana anak perempuan saya belajar. Awalnya saya terkejut, sebab saya mengira apakah anak saya memiliki masalah di sekolahnya, namun ternyata dugaan itu salah. Rupanya surat itu merupakan undangan berkhotbah di acara Natal di SMPK Rehobot Bandung. Saya sangat senang. Apalagi tema Natal yang diangkat “Harmony of Christmas.”

Saya persiapkan bahan khotbah Natal tersebut dengan sebaik mungkin. Berikut ini saya menyampaikan isi khotbah yang disampaikan pada waktu Natal bersama SMPK Rehobot Bandung, tanggal 10 Desember 2018.

Pada pagelaran orchestra terdapat berbagai macam alat musik yang dimainkan, ada bas, terompet, trombone, biola, harpa, saxophone, gitar, piano, drum, dan sebagainya. Musik-musik ini dimainkan secara teratur sesuai dengan arahan dirigen, sehingga tercipta sebuah alunan lagu yang merdu. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya bila masing-masing alat music berjalan sendiri sesuai kehendaknya, tanpa adanya harmonisasi. Tentu saja akan kacau.

Mazmur 133:1-3 menuliskan: “Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”

Mazmur 133 termasuk dalam kumpulan “Nyanyian ziarah” bersama dengan 14 Mazmur lainnya, dari Mazmur 120-134. Nyanyian ziarah ini ditulis oleh Daud, seorang raja Israel yang memiliki karunia bermain kecapi dan penulis lagu. Bahasa Ibraninya “nyanyian ziarah” adalah “Shir Hama’aloth” artinya “nyanyian pendakian”.

“Nyanyian pendakian” mengacu kepada mazmur-mazmur yang dinyanyikan orang Yahudi bersama-sama, mana kala mereka “naik” ke Yerusalem, tempat Bait Allah, sebagai peziarah untuk merayakan hari raya kudus orang Israel. Ziarah bertolak dari sebuah kesadaran dalam diri yang penuh dengan cinta dan harapan.

Pada Natal tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana tahun ini kita memiliki cinta dan harapan. Cinta dibuktikan oleh Allah dengan memberikan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Yohanes 3:16 ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Tidak ada kasih yang lebih besar selain kasih yang sudah diberikan Tuhan Yesus yang sudah menebus dosa seluruh umat manusia.

Harapan yang diinginkan pada Natal ini adalah terbentuknya sebuah harmoni. Harmoni adalah keselarasan dan keharmonisan. Dalam hal apa kita mengharapkan keharmonisan? Pertama, hidup rukun (Mzm. 133:1). Hidup rukun dalam rumah tangga, antara orang tua dan anak, suami dan isteri, maupun sesame anak-anak. Ada banyak keluarga hancur karena tidak adanya keharmonisan dalam rumah tangga. Anak-anak dan orangtua bermusuhan, bahkan ada juga anak-anak yang sudah tidak mengakui lagi orangtuanya. Demikian pula sebaliknya, ada orangtua yang sudah tidak lagi mau mengakui anak-anaknya.

Hidup rukun di sekolah antara pengurus yayasan, guru, staff sekolah, maupun murid-murid. Pengurus yayasan, guru-guru dan staf harus hidup rukun, saling menghargai dan menghormati. Demikian pula dengan hubungan antara guru dan murid. Murid-murid harus menghargai para guru sebagai wakil orangtua di sekolah. Guru-guru juga tidak hanya mengajar pengetahuan bagi otak murid-muridnya, namun juga berbagi hidup kepada mereka. Murid-murid juga harus tetap dihargai sebagai manusia yang suatu kali nanti akan menjadi guru atau orang yang berguna bagi bangsa dan negara.

Rukun di gereja antara pendeta, majelis dan jemaat. Pendeta tetap melayani kebutuhan rohani dari majelis dan jemaatnya. Majelis dapat bekerja sama dengan pendeta dalam melayani jemaat di gereja. Jemaat harus memperhatikan kebutuhan jasmani pendetanya, sehingga pendeta dapat tetap focus pada pelayanan.

Kedua, ada penundukan diri pada otoritas. Agar tercapainya sebuah harmoni, maka setiap orang dapat memperhatikan posisinya masing-masing. Orang yang mendapatkan kepercayaan untuk memegang jabatan, seperti kepala sekolah maupun pengurus yayasan, tidak mempergunakan jabatannya dengan sewenang-wenang.

Ketiga, ada komunikasi yang baik di antara sesame anggota komunitas. Hindari berita hoax yang sudah jelas berita itu bohong. Hindari adu domba, jangan mudah mempercayai ucapan orang tentang kejelekan para pemimpin kita. Jangan mudah terprovokator. Setiap informasi harus diselidiki dahulu kebenarannya. Jangan langsung mempercayainya.

Keempat, mendewasakan rohani kita. Rohani kita perlu diberi makan, agar semakin hari makin kuat dan bertumbuh menjadi dewasa. Membaca Alkitab, berdoa dan tetap setia beribadah akan membawa rohani kita bertumbuh. Apabila rohani kita menjadi dewasa, maka tidak akan mudah dipecah belah.

Kelima, bersikap bijaksana dalam menghadapi persoalan pribadi maupun persoalan dengan orang lain. Sikap yang harus dijaga adalah tetap introspeksi diri, dan tidak mudah menyalahkan orang lain.

Keenam, menjadi teladan yang bias ditiru bagi orang lain. Orangtua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Pendeta dan majelis dapat menjadi teladan bagi jemaat yang dilayaninya. Para pengurus yayasan dan guru di sekolah bias menjadi teladan bagi murid-murid.

Apabila sudah menjalankan keenam hal tersebut, maka dapat terbentuk harmoni di sekolah, di gereja, maupun di keluarga. Bila sudah terbentuk harmoni, maka Tuhan akan memerintahkan berkat-Nya. Berkat berupa uang, kesehatan, naik jabatan, dan sebagainya akan diberikan kepada kita. Terlebih lagi Tuhan akan memberikan kehidupan untuk selama-lamanya, yaitu keselamatan masuk ke sorga. Kisah Para Rasul 4:12 menyatakan “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Harapan agar di tahun depan dapat tercipta sebuah harmoni di sekolah kita, di gereja kita, maupun di keluarga kita. Bila di tahun ini masih belum tercapai, maka di tahun depan kita berharap agar dapat terwujud. Bersama dengan Tuhan Yesus kita pasti bias menciptakan sebuah keharmonisan. Akhirnya, selamat Natal 2018 dan menyambut Tahun Baru 2019. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

 

 

 

Leave a Reply