Input your search keywords and press Enter.

Pdt. Lukman Pandji : Hidup Artinya Bekerja Memberi Buah

Setiap kali Lukman Pandji beradadi persimpangan jalan, Tuhanmempertemukannya dengan orang lain. Ilustrasi sederhana pundipakai-Nya untuk meneguhkanhati.

Lukman Pandji dibesarkan dalam kehidupan keluarga pengusaha cukup sukses di Bandung. Ayahnya bergerak di bidang furniture yang menyuplai kebutuhan Mabes ABRI, Perumtel, BUMN, instansi pemerintah lainnya serta konsumen umum, sedangkan ibunya bekerja di bidang bahan bangunan.

BALAS DENDAM
Orangtua Lukman mengalami kebangkrutan diawali oleh sakit yang dialami ayahnya selama bertahun tahun. Ayahnya terkena stroke dan diopname hampir 6 tahun. Mereka juga mengalami penipuan besar-besaran hingga kehilangan lima rumah yang terletak di lokasi strategis di kota Bandung. “Peristiwa ini menimbulkan kepahitan sangat dalam pada keluarga kami. Meskipun secara turun – tenurun kami Kristen dan menjadi anggota gereja setia, bahkan Oma adalah pengikut Kristus yang taat, kami hampir terhilang. Itu terjadi ketika saya duduk di kelas 3 SMAK DAGO,” ungkap pria kelahiran Bandung 25 September 1959 ini.

Pengalaman pahit itu seakan membuat mereka tak memiliki masa depan. Semua anggota keluarga tergoncang bak kapal, berlayar tanpa arah. Begitupun Lukman. Ia mulai terjerumus ke dalam berbagai pergaulan buruk. Ia terlibat perkelahian, kebut-kebutan, dan mengonsumsi obat terlarang sebagai pelarian. Lukman bergaul dengan banyak geng bahkan ia diakui sebagai adik oleh gangster ternama di Bandung

Lukman dan kakaknya sangat dendam pada pelaku penipuan. Mereka berniat membuat perhitungan, kalau perlu menghabisinya. Hari-hari Lukman diliputi rasa marah dan geram, mencari jejak si penipu.

Di tengah-tengah usaha membalas dendamnya, Lukman ‘ditangkap’ Tuhan. Pada 1979 pertobatan terjadi di sebuah persekutuan doa Yayasan Nafiri Sion- Pusat yang dipimpin Pdt. Drs.Yopie Manduapessy. Tuhan memakai hamba-hamba- Nya. Lukman dilayani oleh Pdt. Ruth Pinta dan Pdt. Els Manduapessy. “Saat itu terjadi pelepasan dari ikatan kuasa kegelapan, mantera, dan juga narkoba

Tuhan menjamah hati Lukman. Hati yang dipenuhi dendam dilembutkan. Pergaulan buruk ditinggalkan. Tuhan menghibur dan menguatkan dengan cara-Nya yang ajaib.

Sambil bekerja di pabrik garmen, Lukman menempuh pendidikan nonformal, seperti accounting dan financial management, marketing management. Sedangkan bidang rohani, ia mengikuti beberapa School of Ministry. Ketika Yayasan Nafiri Sion berdiri menjadi gereja (GKNS) pada 1982, Lukman mengajar Sekolah Minggu dan membantu di departemen musik. Tiga tahun kemudian ia menjadi pendeta penuh dan wakil gembala. Ia juga melayani dibanyak tempat.

DARI RUANG DOA HINGGA TANAMAN
Di tengah kesibukan melayani dan sibuk dalam pekerjaan, Lukman mengalami degradasi iman. Muncul niat setelah memenuhi tugas pelayanan khotbah KKR yang telah dijadwalkan di beberapa kota, ia akan mundur dari dunia kekristenan. Ia akan berkecimpung dalam dunia usaha saja. “Hingga akhirnya kami bertemu perintis bukit doa Ungaran, Samuel Elkana (alm.). Ia mempersilakan kami singgah dan memberikan sebuah ruang doa khusus. Tepat pukul sebelas malam pada November 1990 pada puncak pergumulan, kembali saya merasakan sentuhan kasih Tuhan melalui pembacaan Yeremia 1:5-10. Saya juga, diteguhkan melalui pendoa syafaat dengan pernyataan firman Tuhan yang sama.”

Pada tahun itu pula Tuhan ‘menyalakan api yang mulai redup’ melalui Ev. Damaris M.Sc. (alm). Setelah makan siang bersama di rumah, Pak Damaris memeluk dan membawa Lukman ke halaman. Dia berkata, “Lukman, aku dikirimi pohon jambu dalam plastik oleh keponakan dari Bogor. Sampai di sini kok layu mau mati. Aku taruh di pot ini, lalu bilang ‘kamu harus hidup’…tuh lihat.” Lalu saya dibawa menuju halaman depan rumah. “Kamu lihat pohon ini terlalu tinggi sehingga mengganggu kawat listrik. Setiap ada kesempatan aku selalu urus ini taman. Coba lihat ada yang tinggi dan rendah. Lalu aku gunting rata….. sama aja seperti kehidupan jemaat ya.” Mendengar ilustrasi sederhana itu airmata haru menetes di pipi Lukman saat itu. Ia melihat mata Pak Damaris juga berkaca kaca, Pak Damaris lalu menepuk bahu Lukman dan mengajaknya duduk di ruang tamu. Mereka bicara banyak hal mengenai berbagai pelayanan dan beban bagi bangsa. Sejak itu Pak Damaris menjadi pembimbing dan rekan dalam gerakan Tubuh Kristus.

DARI GOSPEL HINGGA SERUNI
Pada 1991 ia mengikuti lokakarya seni lukis Indonesia di Karang Tumaritis bersama Damaris M.sc. Pdt.Daniel Alexander, hambahamba Tuhan, dan beberapa pelukis kristiani. Peristiwa inilah yang menjadi benih Seruni-Seni Rupa Kristiani Indonesia. Bersama hambahamba Tuhan di Bandung, Lukman melakukan pelayanan holistik pada masyarakat kurang beruntung seperti anak-anak jalanan dan pemulung. Pada 1994 sebelum peristiwa Situbondo, ia memobilisasi Doa bagi Bangsa dan mengikuti fellowship bersama Dannis Belcome

Pada 1997 Lukman ikut merintis pelayanan musik penjangkauan Body of Christ-Music Gospel bersama para musisi Jazz Indonesia-IGM: Cendi Luntungan, P. Jeffry Tahalele, Frank Kondoy, Yongky Ramlan, Lidya Nursaid, dll dengan menggunakan sebuah diskotik di Bandung dan Thamrin-Jakarta selama beberapa tahun, (Worship explosion). Tujuannya menghidupkan semangat kawula muda di bidang musik dan pujian serta pelayanan kreativitas, seperti dancer dan cabareth untuk menjangkau jiwa di kalangan orang muda dan pengunjung klab malam

Pada setiap kesempatan, selain melakukan pelayanan khotbah Lukman juga mentoring beberapa gereja dan persekutuan khususnya di kalangan keluarga muda dan youth (kaum muda) untuk memotivasi peningkatan kualitas pelayanan setempat.

“Pada 2002 saya melakukan perintisan komunitas jemaat The House of Worship, Teaching and Love, jemaat persaudaraan Imanuel- Bandung dengan label legalitas GKNS –IMANUEL” jelas Chief accounting & official management. Group KEMBAR MAS- Real estate dan Chief accounting di perusahaan printing & offset ini.

Pada 2008 dan 2009 Lukman bertemu kembali dengan Setiyoko, pelukis alumni senirupa ITB tim pelayanan era 1987-1990-an di Bandung.” Pertemuan empat mata berlangsung di sebuah mal Karawaci. Di situ saya merasa luapan kasih Tuhan yang mengikat kami begitu kuat setelah tak jumpa belasan tahun. Inti pembicaraan adalah seputar pelayanan bidang seni rupa. Setelah pertemuan tersebut, dilakukan kembali pertemuan kedua di Cinere, tempat tinggal Setiyoko dan akhirnya dipertemukan pula dalam 1 visi dengan Gunawan. Terbentuklah Seruni. Saya sendiri bukanlah pelukis,” jelas salah satu penasihat Jaringan Seni Rupa Kristiani Indonesia yang melayani juga melalui facebook The Voice of Kingdom-Indonesia.

SETIAP NAPAS
Di hati Lukman terpatri penebusan Kristus yang telah mengangkatnya dari kehidupan gelap. Ia selalu memandang karya salib. Bagi suami Herlinawaty Herdiana dan ayah Christie Samuel Pandji. S.T.kim. Dan Chrestella Abigail Pandji, hidup adalah bekerja memberi buah

Menurut Lukman, hidup bukan menjadi milik kita sendiri sehingga tidak memilah-milah mana bagian Tuhan dan kepentingan sendiri lagi. Semua aspek hidup kita adalah milik-Nya. “Jadikanlah tiap embusan napas untuk berkarya bagi Dia. Sebagaimana Dia bergerak terus di dalam dan melalui kita,” ajaknya penuh semangat. Redaksi

Leave a Reply