Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

God is My Provider

Keterpurukan yang seakan bertubi-tubi menghunjam keluargaku tak membuat kami patah, lungkrah, dan kehilangan arah. Maka, kendati hingga kini kondisi belum pulih, kami tetap setia dan mampu bersyukur.

Kejatuhan Ekonomi
Ujian yang dialami oleh keluargaku seakan datang bertubi-tubi. Diawali tahun 2006, keluargaku mengalami kejatuhan ekonomi. Dalam kondisi terpuruk kami tetap setia dan terus berharap pada Tuhan. Kami sangat percaya dan yakin Yesus selalu mengasihi kami seperti janjinya dalam Rm 8:35. Maka, tak ada satu pun alasan yang dapat memisahkan kami dari kasih Kristus. Termasuk kemiskinan, kelaparan, ketelanjangan bahkan kematian.
Namun, keyakinan kami itu harus diuji. Kondisi ekonomi keluarga yang karut marut, berdampak pada kelangsungan studiku. Aku dan kembaranku Vioni Oktara (16) bisa lulus SMP dengan lancar. Namun ketika mulai masuk SMA, masalah mulai datang. Kondisi ekonomi tidak kunjung membaik sementara biaya kebutuhan makin naik. Kedua orang tuaku, Herry Sanjaya (46) dan Merry Chrisley (46) harus berupaya keras supaya kami tidak putus sekolah.

Menjual Perabotan
Satu per satu perabotan di rumah harus kami relakan untuk dijual, menyusul barang-barang lain yang sudah dijual sebelumnya. Itu pun masih tidak cukup. Untunglah, Tuhan mengirimkan hamba-Nya untuk membantu kami sehingga kami bisa menyelesaikan kelas 1 SMA dengan baik. Memasuki bangku kelas 2 SMA, saya dan Vioni terus menguatkan hati seperti firman dalam Yos 1:8-9. Di saat kondisi ekonomi belum membaik, papa justru jatuh sakit. Diabet yang diidapnya sejak tahun 2002 menimbulkan ekses lain. Kali ini, menyerang paru-paru. Akibatnya, papa tidak bisa bekerja maksimal. Padahal selama ini bersama mama, papa adalah tulang punggung keluarga. Sakit itu tak terlalu dirasakannya. Papa tetap bekerja
keras seperti sebelumnya. Bahkan sering pulang larut malam. Akibatnya, terjadi komplikasi: ada kelainan di detak jantungnya. Kendati begitu, kami sekeluarga selalu mengucap syukur. Sekalipun kami seperti berada di lembah kekelaman tetapi ada gada dan tongkat Tuhan yang
selalu menyertai dan menghibur kami (Mzm. 23:4b). Walau kadang-kadang, kami tidak bisa berangkat sekolah karena tidak ada ongkos tapi tetap bersukacita. Karena kami tetap bisa mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. Bahkan bisa mendapat nilai baik.

Menunggak SPP 10 bulan
Sebetulnya, kami punya cita-cita ingin mendapatkan beasiswa. Sayang, konsentrasi kami kerap terpecah karena memikirkan kondisi orangtua. Maka, hingga saat ini kami belum mampu mencapai target nilai ratarata 7,5. Namun, kami tetap dapat merasakan kasih Tuhan. Persis seperti keyakinan kami bahwa Tuhan selalu bekerja dalam segala sesuatu untuk
mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihi Dia (Rm. 8:28). Karena tidak ada biaya, di kelas 2 ini kami menunggak bayar SPP hingga 10 bulan. Berdasar peraturan sekolah, seharusnya kami tidak diperbolehkan sekolah namun hingga kini kami masih diperkenankan sekolah. Memasuki ujian akhir semester nanti harus membayar seluruh kewajiban sebesar
Rp. 4,9 juta. Jumlah yang amat besar. Dan, orangtua sama sekali tidak punya biaya. Namun, saya percaya seperti Tuhan telah menolong kami berdua melewati kelas 1, kali ini pun Tuhan
pasti tolong.

Tetap Setia dan Bersyukur
Karena, “Tuhan adalah gembalaku, tak kan kekurangan aku” (Mzm 23:1). Dia Allahku yang mencukupkan segala kebutuhanku menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya di dalam Yesus
Kristus (Flp. 4:19). Saya percaya, Tuhan memberkati orang-orang yang mengandalkan-Nya (Yer. 17:7-8). Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepian air. Tuhan akan memimpin aku
dan kembaranku mengikuti ujian. Kami berdua punya tekad, di kelas tiga nanti kami harus bisa meraih nilai baik untuk mendapatkan beasiswa. Kalau Abraham bisa percaya sekalipun tak ada dasar bagi dia untuk percaya (Rm. 4:18-21), maka kami pun pasti bisa. Keyakinan inilah yang membuat kami tetap tekun berdoa, dan setia melayani di sebuah gereja. Mama melayani sebagai pendoa syafaat dan juga asisten guru sekolah minggu. Sungguh kami punya iman bahwa Yesus tidak akan mengecewakan kami. He is my provider… Vionna Oktara Sanjaya/Rie

Leave a Reply