Input your search keywords and press Enter.

Tetap Mencinta Walaupun Terluka

“Mencintai memiliki risiko untuk terluka, tetapi cinta sejati memiliki luka yang selalu bermakna.”

Cinta itu dalam kenyataannya selalu mempunyai dua sisi, menyenangkan sekaligus menyakitkan, membuat orang tersenyum dalam kegembiraan sekaligus membuat orang menangis. Cinta selalu membebaskan, tetapi juga mengikat. Sekalipun demikian siapa pun yang mengalaminya jika dihayati dalam kesadaran cinta akhirnya akan menghasilkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan karena cinta tidak mungkin tergantikan karena cinta pada hakikatnya agung dan mulia.

Sumber: arah.com

Setiap orang yang memiliki cinta memiliki kehidupan. Cinta barulah benar-benar disebut cinta hanya ketika pelakunya sungguh-sungguh menyadari dua sisi tersebut tanpa mengalami kekecewaan. Ketika seseorang jatuh cinta, saat itu dia baru belajar cinta yang sesungguhnya, tetapi dia belum mengetahui bagaimana cinta itu sepenuhnya. Jatuh cinta hanyalah awal, tetapi terus mencintai merupakan pembelajaran. Jatuh cinta selalu mudah karena hanya memerlukan satu indra, tetapi mencintai dan tetap mencintai itu adalah sebuah keutuhan. Saat seseorang mengalami jatuh cinta, dia bagaikan pengembara yang baru saja membuka sebuah pintu di hatinya untuk memasuki sebuah taman yang dia sendiri belum mengetahui sepenuhnya isi di dalamnya. Pintu taman itu memang menarik dan memesona, memiliki daya pikat luar biasa.

Akan tetapi begitu kita memutuskan untuk memasukinya, kita harus siap menerima segala yang ada di dalamnya. Tanaman di taman itu tidak selamanya berisi bungabunga warna-warni, tetapi juga semak dan duri. Tidak hanya berisi buah-buahan yang ranum dan menyegarkan, tetapi juga buah-buahan yang sekadar hiasan indah, tetapi tidak dapat dinikmati sepenuhnya. Di taman itu ketika kita berjalan, terkadang kita harus
mengambil jalan memutar, mungkin juga mendaki dan menurun, melintasi rerumputan yang hijau dan tebal sehingga kaki kita nyaman, tetapi juga melewati semak dan onak yang mungkin akan membuat kaki kita terluka.

C. S. Lewis dalam sebuah ungkapannya pernah menuliskan demikian: “Mencintai sesungguhnya adalah menjadi rentan. Cintailah apa saja, maka hati Anda pasti akan tersayat-sayat dan mungkin hancur.”  Sayang Lewis tidak memberi makna bahwa sekalipun tersayat-sayat, cinta tetap akan menjadi sesuatu yang indah karena cinta bukanlah cinta jika pelakunya tidak siap terluka. Yang pasti, luka karena cinta adalah luka yang bermakna, dan luka karena cinta tidak akan membuat diri kita meradang.

Demi cinta sejati kita harus siap dan merelakan diri kita mengurbankan banyak hal. Karena cinta, kita akan
kehilangan sebagian dari waktu kita bagi dia yang kita cintai. Karena cinta, kita juga harus siap mengurangi kesenangan kita demimenyenangkan dia yang kita cintai. Hal itu pasti tidaklah sepenuhnya nyaman bagi kita, tetapi di situlah letak keagungan dan kesungguhan cinta kita. Oleh karenanya, orang-orang yang egois tidak akan mampu mencintai dengan sungguh-sungguh karena mereka hanya bisa mencintai dirinya sendiri. Orang-orang yang egois hanya akan menjadikan dia yang dicintainya menjadi seperti dirinya sendiri.

Demi cinta kita harus siap menyangkal diri kita karena kita menempatkan orang yang kita cintai menjadi pribadi yang istimewa dan berharga. Karena cinta kita kepada seseorang, kita harus siap membatasi hubungan
kita dengan banyak orang dan hal itu berarti juga pengurbanan kita. Kita seharusnya tahu bahwa ketika kita berkurban demi cinta, kita tidak rugi. Namun, bila tidak melakukannya, kita akan menyesal karena cinta selalu mendatangkan kebahagiaan.

Oleh: Imanuel Kristo
Penulis, Pendeta Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI)
Gunung Sahari Jakarta Pusat.

Leave a Reply