Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Perempuan di Kedai Kopi




eBahana.com – Kami berbelok menuju perbukitan. Jalanan mulai menanjak dan dingin mulai merayap. Kebun-kebun kopi berjejer rapi di kanan kiri.

“Apa itu?” tanya Teresa. Aku mengikuti telunjuknya.

“Oh, itu kedai kopi.”

Teresa mengusap kaca mobil yang berembun. “Sudah lebih sepuluh kedai dari tadi dan pengunjungnya cuma laki-laki. Di mana yang perempuan minum?”

Aku tergelak. Hahaha.. “Teresa, memang cuma kaum pria yang duduk-duduk di kedai sambil ngopi. Memang begitu di sini.”

Dahi Teresa mengernyit. Apalagi ketika aku menjelaskan di sini hampir tidak ada bapak yang mengganti popok anak atau membantu memasak di dapur.

“Tapi yang perempuan juga ikut ke ladang, kan?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Dan mereka mesti mencuci pakaian ke pancuran?”Aku mengiyakan.

“Mereka juga mengambil air dan menjunjungnya di kepala sampai rumah?”Aku membenarkan.

“Katakan, apa mereka tidak butuh santai? Mengapa mereka tidak ngopi-ngopi juga di kedai?” Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.

***

Aku tidak terlalu memikirkan sekian tanya yang dilontarkan Teresa. Jangan bicara kesetaraan gender di daerah yang berbudaya memang berbeda. Sebagai seorang polisi wanita Jerman tentu Teresa sukar mengerti bagaimana bisa perempuan-perempuan desa itu bertahan menjalankan perannya sebagai perempuan.

“Mereka bahagia kok, Tere.”, ucapku ketika malamnya topik itu singgah kembali dalam perbincangan.

“Dari mana kamu tahu?” Teresa membalikkan badan yang gelisah. Sudah larut malam dan suara dari luar masih ribut. Pesta adat pernikahan adiknya Teresa dengan temanku sudah selesai. Satu keluarga mereka dari Jerman datang dan karena quide mereka berhalangan maka aku menggantikannya.

“Besok kamu akan tahu. Sekarang tidur supaya ga telat gereja, ok?” kataku setengah mengantuk. Sidikalang adalah kota yang begitu dingin dan aku sudah ingin meringkuk di balik selimut yang tebal.

***

Gereja itu adalah yang terbesar di sana. Terletak di tepi jalan dengan puluhan anak tangga. Lonceng gereja berdentang sepuluh kali. Kami mengambil duduk di barisan tengah. Jemaat sudah memenuhi gereja. Ibu-ibu berpakaian bagus dengan tatanan rambut yang rapi dan dandanan nyaris sempurna seperti ke pesta. Aku melirik Teresa yang mulai mengitari pandangan seputar tempat duduk.

“Aku hanya melihat sedikit bapak-bapak. Di mana mereka?” tanya Teresa.

Karena di gereja tidak sopan tergelak maka aku menyembunyikan tawa di balik sapu tangan.

“Itu yang kubilang semalam, Tere. Meski tidak bersantai di kedai, perempuan di sini tahu tempat mana yang membuatnya berbahagia. Di sini perempuan-perempuan rajin beribadah. Coba dengar nanti mereka bernyanyi, suaranya indah.”

Paduan suara minggu itu dari kaum ibu dalam bahasa daerah Batak. Tetapi nadanya Teresa kenal, sebab lagu itu diambil dari nyanyian gereja Jerman. Dia pun menunduk dan sepertinya memikirkan sesuatu. Aku berharap Teresa bisa mengerti bahwa untuk mendapatkan kesetaraan dan pengakuan, Tuhanlah yang bisa memberikannya dengan sempurna. –Caroline T.M

 



Leave a Reply