Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Wilayah yang Belum Dipetakan & Kerajaan yang Tidak Tergoyahkan – Bagian 14




eBahana.com – Sebagai orang percaya, kita menghadapi dua kemungkinan yang berbeda di masa depan: runtuhnya sistim dunia zaman ini dan panen tuaian besar untuk Allah. Bagaimana kita mempersiapkan diri?

Tampaknya tidak ada yang benar-benar permanen atau bisa kita andalkan di titik ini dalam sejarah.

Anak-anak muda sekolah tinggi dan lebih tua melangkah kedalam wilayah yang belum dipetakan. Tidak ada benar-benar peta manusia untuk menasihati mereka jalan mana yang diambil. Namun kita percaya dengan adanya tantangan-tantangan besar yang kita hadapi, juga berarti adanya kesempatan-kesempatan besar! Ada nasihat dalam Alkitab yang bisa memampukan kita membuat keberhasilan dari hidup kita.

Dalam arti dunia sebenarnnya, kita percaya Allah bertujuan agar setiap orang percaya “berhasil.” Kita tidak berbicara tentang menjadi sangat kaya raya atau bahkan berpendidikan tinggi. Namun “setiap anak Allah” – termasuk kita – “di lahirkan menjadi pemenang.” Kita dilahirkan untuk menghadapi tantangan hidup dalam zaman unik ini dan mengatasinya. Kita dilahirkan untuk hidup untuk pada akhirnya meninggalkan akibat-akibat kekal. Itu perkiraan kita bagaimana menjadi anak Allah, dalam umur berapapun dalam sejarah yang Allah tempatkan kita.

Agar mengalami keberhasilan yang Allah inginkan untuk kita, kita harus mengikuti nasihat Firman Allah. Satu dari keputusan paling penting yang kita harus lakukan tergantung dari mana kita menerima nasihat kita. Ayat pertama Mazmur 1 berbunyi, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik.” Itu meletakkan seluruh tema kitab Mazmur.

Mari kita tanya diri kita: Dari mana kita mendapat nasihat kita? Siapa mengarahkan pemikiran kita? Apakah dari sumber-sumber pemikiran sekular, atau pendidikan – pendidikan tinggi? Universitas-universitas adalah tempat-tempat yang sangat tertutup. Mereka ibarat pulau-pulau kecil tersendiri. Dalam banyak hal, mereka terputus dari realita kehidupan. Ada banyak jenis pemikiran intelektual yang datang dan pergi.

Jika kita bergantung pada hikmat manusia untuk menuntun kita, kita mungkin berakhir di tempat yang kacau dan membingungkan. Hanya ada satu sumber penuntun yang bisa diandalkan. Apa itu? Alkitab.

Alkitab kekal abadi tanpa batas waktu. Berlaku dalam zaman apa pun, dalam kebudayaan, dan bagi kelompok manapun. Satu-satunya kitab yang menjangkau setiap manusia, dimanapun mereka, dan dari latar belakang apapun.

Kita harus menyelaraskan hidup kita dengan prioritas-prioritas Allah. Dengan kata lain, jadikan prioritas-prioritas Allah prioritas-prioritas kita. Jika kita lakukan itu, kita sudah menempatkan diri kita untuk menerima berkat, perlindungan, dan persediaan Allah (lihat Matius 6:33).

Bagaimana kita bisa tahu prioritas-prioritas Allah? Ia sudah nyatakan dengan sangat jelas dalam nas Perjanjian Baru yang mungkin sudah dikenal oleh semua – “Doa Bapa Kami.” Doa ini dimulai dengan memberi kemuliaan kepada Bapa. Lalu mengajukan petisi mendahului semua yang lain: “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu dibumi seperti di sorga” (Matius 6:10).

Ini prioritas nomer satu untuk Allah – kedatangan kerajaan-Nya di bumi dalam pribadi Raja pilihan-Nya, Yesus. Jika kita tidak selaras dengan ini sebagai prioritas kita, kita akan menemukan diri kita tidak dalam harmoni dengan Allah. Kita dalam situasi dimana kita tidak memiliki jawaban dan kita tidak tahu bagaimana merespons.

Jadi, langkah pertama yang kita perlu ambil adalah mengambil keputusan bahwa ini prioritas kita: “Apa yang paling penting dalam hidup kita adalah kerajaan Allah akan datang ke bumi melalui Yesus Kristus.” Jika kita tidak bisa menyelaraskan diri kita dengan prioritas ini, jangan berdoa Doa Bapa Kami, karena itu berarti kita munafik. Petisi spesifik pertama Doa Bapa Kami adalah, “Datanglah Kerajaan-Mu.”

Berapa juta orang berdoa kata-kata ini dan tidak pernah menyadari untuk apa mereka berdoa? Mereka mengartikulasi prioritas nomer satu-Nya. Segala sesuatu yang terjadi dalam sejarah manusia diarahkan oleh Allah ke satu kesimpulan itu – kedatangan kerajaan-Nya di bumi.

Kenapa kita harus berdoa untuk kedatangan kerajaan Allah? Karena bumi tidak memiliki harapan lain. Jika kita harus bergantung pada apa yang para politikus bisa lakukan, tidak ada harapan! Mereka memiliki banyak waktu, dana, dan kuasa untuk mengimplementasi rencana-rencana mereka, namun dunia dalam kekacauan yang lebih buruk hari ini daripada kapanpun dimasa lalu.

Tidakkah luar biasa ada orang-orang yang cukup bodoh mempercayai bahwa biar bagaimanapun para politikus akan membawa kita keluar dari kekacauan ini? Kita tidak percaya mereka bisa. Kita percaya kita memiliki kewajiban untuk berdoa untuk pemimpin-pemimpin politik kita.

Namun kita tidak berharap “keselamatan” kita datang dari mereka atau dari partai politik manapun. Tidak ada dari mereka yang memiliki jawaban. Mungkin beberapa dari mereka sedikit lebih dekat pada kebenaran daripada lainnya, namun sangat sulit mengetahui dengan pasti.

Jika kita tidak menyelaraskan diri kita dengan prioritas-prioritas Allah, kita tidak akan berhasil. Kejadian nyata ini terjadi dalam takdir Imperium Britania. Para pejabat Inggris pada tahun 1940an melakukan segalanya dalam kuasa mereka – perang terbuka pendek – untuk mencegah lahirnya Negara Israel. Meski demikian, Israel dilahirkan – dan Imperium Britania runtuh.

Apakah kita pernah menganalisa koneksi antara dua peristiwa itu? Imperium Britania bertahan dua perang besar dunia, mempertahankan kemakmuran dan kekuatan. Hanya ada sedikit masa dalam sejarah ketika Britania pernah dikalahkan dalam perang. Meskipun demikian, karena mengambil sikap menentang tujuan Allah untuk Israel mengakhiri kekuasaan Imperium Britania. Hal yang sama bisa terjadi pada bangsa manapun yang melawan rencana-rencana Allah untuk negara Israel. Sebuah negara tidak bisa menyelaraskan dirinya melawan tujuan Allah dan tetap makmur dan berhasil – demikian pula dengan kita.

Sebagai prioritas pertama, kita perlu menyerahkan hidup kita kepada Allah dan kepada kedatangan kerajaan-Nya ke bumi melalui Yesus Kristus. Dalam melakukan itu, kita menyelaraskan diri kita dengan tujuan akhir-Nya.

Kita melihat betapa penting penyelarasan dengan tujuan-tujuan Allah bisa memberi kemakmuran dan keberhasilan untuk bangsa Indonesia, atau individual siapapun. Pada akhirnya, tidak ada kerajaan lain selain kehendak Allah yang akan tetap berdiri. Kebenaran ini dengan jelas digambarkan untuk kita dalam Ibrani 12:25-28: “Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?

Waktu itu suara-Nya mengoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.”

Ungkapan “Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan.

Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.”

Apakah kita percaya kebenaran tentang nas digoncangkan ini? Apa tujuan Allah mengijinkan goncangan terjadi di seluruh dunia? Jawabannya untuk menetapkan dan menyoroti apa yang “tidak dapat” digoncang.

Hanya ada satu kerajaan yang tidak dapat digoncang. Bukan kerajaan duniawi. Melainkan kerajaan Allah – kerajaan yang didirikan diatas Yesus Kristus. Yesus Sendiri berkata jika kita membangun pada fondasi ini, tidak ada badai bisa meruntuhkan apa yang kita bangun (Matius 7:24-25).

Segalanya yang lain yang bisa digoncang akan digoncang – dan sebagian besar sedang digoncang saat ini. Tanya diri kita: “Institusi-institusi apa yang bisa digoncang?” Pemerintah? Hanya sedikit pemerintah di bumi yang tidak di goncang saat ini. Bagaimana dengan bank? Bank sudah pasti bisa di goncang. Institusi keuangan di seluruh ekonomi sedang di goncang. Bagaimana dengan denominasi-denominasi gereja? Apakah mereka bisa di goncang? Banyak denominasi gereja sedang digoncang sampai ke inti mereka. Apakah keluarga bisa di goncang?

Mereka sedang di goncang dengan parah pada zaman modern sekarang. Hanya keluarga-keluarga yang dibangun di atas Batu Karang, Yesus Kristus, akan bertahan.

Tuhan menyortir segala sesuatunya kedalam dua katagori: apa yang bisa digoncang dan apa yang tidak bisa digoncang. Kita harus tahu dimana kita. Apakah kita benar-benar dalam kerajaan yang tidak bisa digoncang? Jika tidak, kita akan runtuh. Akan ada goncangan atas semua yang sudah dunia percaya, namun kerajaan Allah akan melewati goncangan dengan tetap teguh. Kita tidak akan dikecualikan dari goncangan. Namun hasilnya akan berbeda dalam hidup kita. Kita akan berdiri ketika segala sesuatu lainnya kolaps di sekitar kita.

Dalam Hagai 2:7, Allah mendeklarasi, “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat.” Goncangan ini dialami setiap bangsa di muka bumi – kaya atau miskin, demokratik atau despostik, beradab atau tidak beradab. Allah akan menggoncang semua bangsa, dan kita siap. Dalam goncangan yang akan datang, hanya akan ada satu jenis orang yang tidak bisa di goncang.

Orang itu digambarkan dalam 1 Yohanes 2: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya” (ayat 15).

Dalam Yunani asli, frasa terjemahan “dunia” berarti sistim sosial. Sistim dunia sekarang adalah “dunia.” Yohanes berkata, “Jangan mengasihi sistim dunia sekarang.”

Setelah peringatan ini, Yohanes membuat pernyataan yang sangat serius: “Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu” (1 Yohanes 2:15).

Dengan kata lain, kita tidak bisa mengasihinya bersamaan. Kita tidak bisa mengasihi dunia dan mengasihi Allah pada saat yang sama. Kasih Allah kasih yang cemburu. Ia tidak akan mentoleransi kesetiaan kita pada dunia. Kita harus mengambil keputusan kemana kita akan meletakkan cinta dan prioritas-prioritas kita.

“Sebab semua yang ada di dalam dunia – yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup – bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia” (1 Yohanes 2:16-17).

Keinginan daging yang digambarkan dalam ayat 17 didasarkan pada kasih pada dunia, akan lenyap. Camkan dipikiran bahwa itu semua sedang terjadi – termasuk kita juga, jika kita melekat padanya. Dunia sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap [hidup selama-lamanya]”

Siapa satu-satunya orang yang tidak bisa digoncang di bumi hari ini? Satu yang memiliki komitmen secara total pada kehendak Allah. Jika kita ingin memiliki kesuksesan masa depan dalam dunia hari ini, komit diri kita tanpa syarat kepada kehendak Allah untuk hidup kita. Kita akan tetap hidup untuk selama-lamanya. Kita akan menjadi tidak tergoncangkan. Kita akan menjadi tidak tergoncangkan seperti kehendak Bapa sendiri – karena kita akan di identifikasikan dengan kehendak Allah.

Sudah jelas, proses memurnikan diri kita dan mendedikasikan diri kita secara total pada kehendak dan kerajaan Allah harus menjadi prioritas kita. Dalam kebudayaan sukses sekular hari ini, ide membuat prioritas tema yang sangat populer. Namun “kebenarannya,” prioritas adalah terpenting dalam kehidupan Kristen.

Prioritas kita akan menentukan arah dan hasil dari kehidupan kita. Apapun yang menjadi prioritas tertinggi dalam hidup kita, mendapat waktu dan perhatian terbanyak.

Ini nasihat Allah mengenai prioritas kita yang diberikan kepada kita oleh Yesus: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

“Maka semuanya itu” berarti segala sesuatu yang kita butuh untuk hidup kita sehari-hari: makanan, baju, rumah, transportasi – apapun. Allah berkata jika engkau cari dahulu Kerajaan-Nya, Ia akan memelihara setiap kebutuhan kita yang lain.

Sebagai kesimpulan, miliki prioritas yang benar. Bariskankan dengan kehendak Allah mulai saat ini dan seterusnya. Jadikan hasrat baru dalam hidup kita untuk menyelaraskan diri kita sepenuhnya dengan Tuhan.

Tempatkan diri kita di atas Batu Karang, Yesus Kristus. Maka, kita bisa berdiri tegap ketika semua yang lain di goncang.

Oleh Loka Manya Prawiro.



Leave a Reply