Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Kebudayaan Dalam Kebingungan – Bagian 13




eBahana.com – “Putus asa” adalah tantangan kehidupan Kristen, yang dalam hikmat Allah, membiarkan kita mengalami proses menyakitkan sampai ke akhir dari diri kita – agar kita berseru kepada-Nya minta pertolongan. Kita melihat bagaimana menjangkau titik keputusasaan itu – dimana tidak ada apa-apa dan siapa-siapa selain Allah yang bisa menolong kita – bisa benar-benar menjadi penggerak untuk kebangunan rohani. Bisa menjadi bagian integral dari persiapan-persiapan Allah untuk pencurahan Roh Kudus – Nya. Bukankah ini yang kita rindukan? Bukankah ini jenis kebangunan umat manusia yang begitu diperlukan dengan putus asa?

Sementara kita melihat dunia ini jatuh terjerembab makin cepat menuju titik final keputusasaan, kita harus menjawab satu pertanyaan: “Bagaimana mereka bukan dari dunia…tetapi…mengambil dari dunia” (lihat Yohanes 17:14-15). Sampai sekitar pertengahan abad ke 20, sebagian besar negara-negara Barat disebut masyarakat “Kristen.” Yang dimaksud moralitas dan etika warisan Yudeo – Kristen dengan kuat mempengaruhi bagaimana mayoritas orang-orang hidup. Hari ini, meski demikian, dunia secara radikal berbeda. Kita melihat kebudayaan yang tidak memiliki label “paska-Kristen,” sebaliknya meningkat menjadi “anti-Kristen.”

Perspektif dari Kitab Suci: “dunia hancur berantakan.” Setiap hari, kita melihat bukti melalui media massa bahwa situasinya diluar kontrol. Para politikus tidak bisa mengendalikannya. Para ilmuwan tidak bisa mengendalikannya. Spesialis pendidikan tidak bisa mengendalikannya. Bahkan lebih lagi, para pemimpin agamawi tidak bisa mengendalikannya. Bagaimana Alkitab mengatakan pada kita untuk hidup dalam dunia yang hancur berantakkan? Bagaimana kita bisa hidup lebih daripada hanya bisa sekedar bertahan hidup? Kita bisa berkata, seperti pemazmur, “Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai” (Mazmur 16:6). Meski demikian, kita prihatin pada generasi muda yang baru saja mulai dalam kehidupan. Kita prihatin pada lainnya juga yang sudah menghadapi keputusan-keputusan sulit dalam kebudayaan yang hancur berantakkan kedalam kekacauan.

Kita akan dengan singkat membahas sedikit nas Kitab Suci yang berhubungan dengan zaman sekarang. Dalam Lukas 17:26-30, Yesus memberi kita sebuah gambaran seperti apa di hari-hari terakhir sebelum kedatangan-Nya: “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah hal-nya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua.

Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun.

Tetapi pada hari Lot pergi ke luar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua.

Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya.”

Ayat-ayat ini menggambarkan hari-hari dimana kita hidup. Dalam gambaran survei yang sangat cepat, ada enam atribut dari hari-hari Nuh dan Lot yang menonjol dan meningkat hari ini. Empat pertama adalah hari-hari Nuh, dan yang pertama paling penting: Pertama, umat manusia di-infiltrasi oleh malaikat-malaikat jahat dari kerajaan Satan (dicatat dalam Kejadian 6:1-3).

Kita percaya hal yang sama terjadi pada umat manusia hari ini.

Kedua, setiap pikiran hati manusia jahat (lihat Kejadian 6:5).

Ketiga, bumi dipenuhi dengan kekerasan (lihat Kejadian 6:11). Hari-hari kita kemungkinan paling keras dalam sejarah manusia.

Keempat, macam-macam penyimpangan seksual tak terkendali (lihat Kejadian 6:12). Satu ekspresi khusus penyimpangan seksual dari hari-hari Lot homoseksualitas mencolok (Kejadian 19:4-5).

Hari ini, orang-orang homoseksual paling agresif di dunia. Sama seperti di hari-hari Lot.

Dalam catatan dalam Kejadian 19, ketika dua tamu malaikat Lot datang ke Sodom dan meminta mereka untuk tinggal di rumahnya, semua orang di kota – tolong catat, “semua orang dalam kota” – berkumpul dan berkata. “Dimana orang-orang? Bawa mereka keluar agar kita bisa berhubangan seks dengan mereka.”

Ciri kelima dari hari-hari Nuh dan hari-hari Lot adalah materialisme. Menurut Yesus, orang-orang makan, minum, kawin, berkeluarga, membangun, menanam, membeli, dan menjual (lihat Lukas 17:26-30). Tolong mengerti tidak ada yang salah dengan aktivitas-aktivitas itu. Namun laki-laki dan perempuan-perempuan Nuh dan hari-hari Lot begitu tenggelam dalam gaya hidup mereka sehingga mereka tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka. Kita percaya hal yang sama bisa terjadi pada orang-orang Kristen hari ini. Banyak yang sudah dikuasai oleh materialisme sehingga mereka tidak mengerti penghakiman Allah yang akan datang atas bangsa-bangsa di dunia.

Yesus mengutip atribut keenam dalam Matius 24. Berbicara tentang “permulaan penderitaan menjelang zaman baru” (ayat 8), atau sakit bersalin, yang akan memperkenalkan zaman baru ketika kerajaan Allah didirikan di bumi. Ia berkata akan ada banyak perang: “bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan” (Matius 24:7).

Berikut catatan penting: kata terjemahan Yunani “bangsa” adalah “ethnos,” asal dari kata “etnik.” Kemungkinan konflik etnik dan rasial akan menjadi satu dari sakit bersalin besar dalam zaman ini. Meluas di Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika, dan meluas kedalam tempat-tempat lain dengan kecepatan luar biasa. Kelompok-kelompok yang sudah bisa hidup bersama dengan damai sekarang saling mengancam diseluruh

dunia. Di titik tertentu, ketegangan-ketegangan etnik dan rasial ini akan meningkat kedalam konflik bersenjata. Ini akan menjadi satu dari karakteristik paling utama dari zaman dimana kita hidup.

Mari kita lanjutkan pembahasan kita mengenai karakteristik-karakteristik akhir zaman dengan melihat satu pasal dalam 2 Timotius. Paulus menulis kata-kata berikut mengenai kondisi-kondisi masyarakat pada hari-hari terakhir: “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.

Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka pengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah” (2 Timotius 3:1-4).

Terjemahan kata Yunani “masa yang sukar” digunakan hanya dalam satu tempat lain dalam Perjanjian Baru, yang meng-gambarkan dua orang laki-laki yang di rasuk setan keluar dari kuburan sebagai “sangat ganas” (Matius 8:28). Menurut Paulus, di hari-hari terakhir, “masa-masa ganas” akan datang.

Paulus memberi kita alasan untuk perkembangan ini. Tidak akan dihasilkan dari perkembangan pesat teknologi, penemuan-penemuan ilmiah, atau ancaman senjata pemusnah massal. Akan dihasilkan dari kekorupan kodrat manusia. Paulus menulis, “Manusia akan….” dan lalu ia mendaftar delapan belas cacat moral dan etikal yang mencirikan umat manusia mendekati penutupan zaman ini. Jika kita melihat dunia hari ini, pada dasarnya, semua dari cacat ini mencolok.

Satu kebenaran tentang kekorupan berdasarkan Kitab Suci bahwa “kekorupan tidak bisa diubah.”

Mudah-mudahan kita dimaafkan untuk mengatakan ini, namun beberapa gereja melayani untuk memperlambat proses kekorupan, mereka tidak merubahnya. Allah tidak mengatakan pada kita untuk mencoba melambatkan kekorupan – Ia berkata agar kita dilahirkan kembali. Kita harus memiliki awal baru secara total, kodrat baru yang bebas dari dosa kekorupan.

Menariknya, dari delapan belas ciri yang Paulus daftar, yang pertama “Manusia mencintai dirinya sendiri,” dan yang kedua, “menjadi hamba uang.” Di akhir daftar, “menuruti hawa nafsu.” Apakah kita bisa berpikir dari tiga frasa yang lebih baik menggambarkan kebudayaan di mana kita hidup hari ini? Mengasihi diri sendiri, mengasihi uang, dan mengasihi hawa nafsu.

Kata kuncinya adalah mengasihi “diri sendiri.” Kita percaya ini akar dari mana semua sisanya akan tumbuh. Ketika kita mulai mengasihi diri kita lebih dari siapapun atau apapun lainnya, kehancuran masyarakat terjadi. Mengasihi diri sendiri – dalam arti kata mementingkan diri sendiri – itu memecah perkawinan dan keluarga.

Begitupula, alam politik dalam sebagian besar negara hari ini secara esensial di dominasi oleh berbagai kelompok-kelompok penekan dan kepentingan diri sendiri sesuai agenda mereka. Sangat sedikit dari mereka yang memiliki keprihatinan riil untuk kesejahteraan bangsanya. Apa masalahnya? Mengasihi diri sendiri.

Kita percaya dari akar mengasihi diri sendiri ini datang hancurnya keluarga, yang mengarah pada hancurnya masyarakat, yang mengarah ke anarki. Jika kita betul dalam penilaian ini, dari anarki datang tirani, despotisme atau kelaliman dan kediktatoran. Kita percaya banyak pemerintahan akan runtuh kedalam anarki, dan dari keputusasaan, orang-orang akan menerima kediktatoran untuk merestorasi ketertiban dan stabilitas. Akan ada satu kediktatoran final – yang terburuk dari semua – pemerintahan antikristus. Kita percaya ini arah dimana dunia sedang menuju, dan kita percaya waktunya sudah lebih telat daripada sebagian besar dari kita sadari.

Kita mungkin berkata, “Sejarah penuh dengan contoh-contoh apa yang kita bahas disini.” Itu benar.

Namun tidak ada satu pun dari contoh-contoh historis itu terjadi dengan skala dan dengan manifestasi yang sama diseluruh dunia dari apa yang kita lihat hari ini.

Ada ciri unik dari zaman ini, meski demikian, yang belum pernah ada sejak abad pertama: hadirnya bangsa Israel di negara mereka sendiri. Berkumpulnya kembali mereka di abad 20 mengarah ke terbentuknya Negara Israel. Tidak ada paralel dengan tonggak pencapaian di abad sebelumnya, dan kita percaya ini indikasi yang menentukan dari bagaimana dekatnya kita menuju penutupan zaman. Sudah dikatakan bahwa bangsa Yahudi adalah jarum jam pada waktu nubuatan Allah. Melalui pembacaan jam kita, jarum menit berada kira-kira di dua menit ke tengah malam.

Nabi Yeremia dengan jelas bernubuat mengenai Israel: “Sebab, sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan memulihkan keadaan umat-Ku Israel dan Yehuda – firman TUHAN – dan Aku akan mengembalikan mereka ke negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka, dan mereka akan memilikinya” (Yeremia 30:3).

Tanpa diragukan, hanya ada satu tanah yang Allah berikan kepada nenek moyang bangsa Israel. Tanah itu yang disebut Israel hari ini. Hanya restorasi nama Israel satu dari ciri paling signifikan dari zaman kita.

Ketika negara Israel dilahirkan. Hampir di menit terakhir, pemimpin-pemimpin berdebat nama apa yang akan diberikan padanya. Banyak mendukung “Yudea.” Namun kita lihat, nama itu akan bertentangan dengan Kitab Suci. Kenapa? Karena Allah sudah berkata ketika bangsa Yahudi kembali ke tanah mereka, mereka tidak akan lagi terbelah menjadi kerajaan selatan Yehuda dan kerajaan utara Israel. Akan ada satu kerajaan. Di menit terakhir, nama Israel dipilih. Allah meletakkan tangan-Nya dalam keputusan itu.

Sehubungan dengan ini, di akhir Yeremia 30, Tuhan berkata, “pada hari-hari yang terakhir kamu akan mengerti hal itu” (ayat 24).

Tidak lama sebelum kesengsaraan dan kematian-Nya, murid-murid Yesus bertanya pada-Nya pertanyaan ini: “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (Matius 24:3). Lebih dari dua ribu tahun kemudian, kita bertanya pertanyaan yang sama.

Ini jawaban Yesus: “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri” “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia” (Matius 24:36-37).

Kita tidak tahu kapan Tuhan akan kembali dalam kemuliaan. Namun seperti kita sudah lihat, satu indikator faktor masyarakat seperti pada hari-hari Nuh dan Lot.

Terbukti bahwa kita hidup dalam waktu-waktu luar biasa serupa dengan hari-hari itu.

Oleh Loka Manya Prawiro  



Leave a Reply