Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Kapan Allah Mengintervensi & Saat-saat Putus Asa – Bagian 11




eBahana.com – Kita sudah bahas tiga “batu besar,” atau penghalang pencurahan kebangunan rohani: kesombongan, legalisme, dan sihir. Tiga manifestasi kodrat manusia yang jatuh ini berasal dari keinginan kita untuk hidup independen dari Allah.

Karena keinginan akan kemerdekaan yang mendalam itu, Allah sering harus membawa kita kepada akhir dari usaha-usaha kita sendiri. Kita harus sampai pada ketergantungan absolut pada-Nya sebelum Ia mengintervensi keadaan-keadaan kita. Karena belas kasih-Nya, membiarkan kita sampai pada “keputusasaan.”

Tema keputusasaan mungkin tidak populer atau menarik bagi kita. Namun jika kita mengerti bahwa itu ekspresi belas kasih Allah – persiapan pencurahan Roh-Nya – bisa menjadi pesan untuk membawa harapan bagi kita.

Ia tidak akan mengirim kebangunan rohani yang kita rindukan sampai umat-Nya mencapai titik keputusasaan total. Ketika kita sudah sampai ke titik dimana kita tahu, tidak ada harapan sama sekali, dan tidak ada sumber pertolongan lain kecuali Allah sendiri – maka Ia akan mengintervensi. Putus asa adalah persyaratan Allah.

“Ini apa arti keselamatan: Keselamatan adalah memanfaatkan satu-satunya harapan yang kita miliki untuk lolos dari neraka – lolos dari sesuatu yang begitu mengerikan sehingga pikiran manusia tidak bisa mengertinya. Tidak ada cara lain untuk lolos kecuali kita beralih kepada Yesus yang mati mewakili kita. Jika kita tidak mengambil jalan itu, maka kita akan hilang.”

Tidak banyak orang bicara tentang neraka hari ini, namun neraka sangat nyata, dan sangat dekat. Bagi beberapa orang, hanya masalah menutup mata mereka dalam kematian dan menemukan diri mereka di neraka. Kita harus menyadari betapa mendesak, bahkan putus asa, bagi orang-orang untuk diselamatkan dan lolos dari neraka.

Ini prinsip yang berhubungan dengan seluruh tema kebangunan rohani. Allah akan bergerak dan membawa kebangunan rohani pada kita hanya ketika kita sudah sampai pada titik keputusasaan.

Kenapa Allah menunggu kita putus asa? Sehubungan dengan pertanyaan itu, mari lihat nas dari kitab Yesaya: “Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu” (Yesaya 30:18).

Tuhan menunggu sampai Ia bisa memiliki belas kasih untuk kita. Ia menunggu sampai kita memenuhi syarat-syaratnya.

“Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!

Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab” (ayat 18-19).

Apa yang Tuhan tunggu? Suara tangisan. Alkitab New International Version menulis, “Betapa murah hati-Nya ketika engkau menangis minta pertolongan!” Terjemahan kata Ibrani “menangis,” “sa-akar,” berarti jeritan putus asa minta pertolongan. Jeritan seorang laki-laki yang tenggelam. Sementara ia tenggelam untuk ketiga kali, ia menjerit, “Tolong!” Allah menunggu umat-Nya sampai ke titik itu – ketika kita tenggelam untuk ketiga kalinya.

Cara Allah berinteraksi dengan Israel sebagai bangsa adalah pola cara Dia berurusan dengan bangsa-bangsa lain dan dengan kita. Ada banyak pelajaran bisa kita pelajari dari perjumpaan-perjumpaan Allah dengan Israel. Kita memiliki contoh luar biasa metode-metode-Nya dalam Ulangan 32. Sebelum Israel masuk ke tanah Kanaan, Musa mengatakan pada mereka apa yang akan terjadi pada mereka. Ia memprediksi bahwa terlepas dari semua yang Allah sudah lakukan untuk mereka, mereka akan tidak setia pada-Nya. Mereka akan beralih ke pemujaan berhala dan pada akhirnya diusir keluar dari tanah Kanaan, hidup bertahun-tahun di pembuangan. Semua ini diungkapkan kepada Israel sebelum mereka masuk ke Kanaan. Lalu, sementara mereka berkumpul di bagian timur Yordania, sebelum mereka masuk kedalam Tanah Perjanjian, Allah memberi Musa kata-kata mengerikan ini: “Aku akan menimbun malapetaka ke atas mereka, seluruh anak panah-Ku akan Kutembakkan kepada mereka.

Apabila mereka sudah lemas karena lapar dan merana oleh demam yang membara, dan oleh penyakit sampar, maka Aku akan melepaskan taring binatang buas kepada mereka, dengan racun binatang yang menjalar di dalam debu.

Pedang di luar rumah dan kengerian di dalam kamar akan melenyapkan teruna maupun dara, anak menyusu serta orang ubanan.

Seharusnya Aku berfirman: Aku meniupkan mereka, melenyapkan ingatan kepada mereka dari antara manusia, tetapi Aku kuatir disakiti hati-Ku oleh musuh, jangan-jangan lawan mereka salah mengerti, jangan-jangan mereka berkata: Tangan kami jaya, bukanlah TUHAN yang melakukan semuanya itu” (Ulangan 32:23-27).

Allah memberi alasan-Nya merubah penghakiman atas Israel menjadi intervensi atas Israel. Secara esensial, Ia berkata, “Untuk kemuliaan nama-Ku, Aku akan mengintervensi. Jika tidak, musuhmu akan berpikir mereka yang membawa semua bencana ini keatasmu.”

Lebih jauh dalam pasal yang sama, kita membaca bahwa semua ini bagian dari visi yang sama: “Sebab TUHAN akan memberi keadilan kepada umat-Nya, dan akan merasa sayang kepada hamba-hamba-Nya; apabila dilihat-Nya, bahwa kekuatan mereka sudah lenyap, dan baik hamba maupun orang merdeka sudah tiada.

Maka Ia akan berfirman: Di manakah allah mereka, – gunung batu tempat mereka berlindung – yang memakan lemak dari korban sembelihan mereka, meminum anggur dari korban curahan mereka? Biarlah mereka bangkit untuk menolong kamu, sehingga kamu mendapat perlindungan” (Ulangan 32:36-38).

Apakah kita menyadari prinsip yang sama? Allah tidak akan mengintervensi sampai “….dilihat-Nya, bahwa kekuatan mereka sudah lenyap” – bahwa kekuatan pribadi dan kuasa umat-Nya telah habis.

Lalu, Allah menyatakan deklarasi kuasa kedaulatan-Nya: “Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorang pun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku” (ayat 39).

Kita harus melihat kemahakuasaan dan kedaulatan Allah – dan kebutuhan kita atas belas kasih-Nya. Dalam realitanya, tidak ada harapan lain bagi individual siapa pun, gereja, atau bangsa selain belas kasih Allah.

Dalam kemenangannya, Allah berkata Ia akan membalas mereka yang sudah mempersekusi umat-Nya – dalam jumlah besar sekali. Dalam Ulangan 32:43, Ia berkata, “Bersorak-soraklah, hai bangsa-bangsa karena umat-Nya, sebab Ia membalaskan darah hamba-hamba-Nya, Ia membalas dendam kepada lawan-Nya, dan mengadakan pendamaian bagi tanah umat-Nya.”

Ada sesuatu di hati setiap dari kita yang berteriak untuk keadilan. Terlalu sering, kita melihat keadaan dunia dan berkata, “Tidak ada keadilan. Orang-orang bebas dengan semua jenis kejahatan. Mereka menganiaya dan menindas orang-orang.” Namun ini yang kita perlu katakan: “Ada keadilan. Keadilan akan datang. Allah akan membalas untuk umat-Nya, dan Ia akan membalas semua itu yang sudah menganiaya dan menistai secara tidak adil.” Kita perlu percaya itu.

Kita juga perlu mengerti bahwa kejahatan di dunia memburuk. Kelaliman akan meningkat ke tingkat yang kita tidak bisa bayangkan. Kita perlu tahu bagaimana merespons pada peningkatan dalam kejahatan, kekerasan, kekejaman, dan imoralitas ini. Setiap jenis praktik keji yang menjijikan sedang tumbuh di dunia – dan akan terus meningkat. Tidak akan menjadi lebih baik. Akan makin memburuk.

Umat manusia sudah mencoba memperbaiki selama ribuan tahun. Namun kondisinya hari ini lebih buruk dari sebelumnya. Tidak praktis dan logis mengharapkan keselamatan dari umat manusia. Meski demikian, kita bisa berharap melihat keselamatan dari Allah Mahabesar.

Semua yang kita lihat di dunia mengarah menuju akhir yang dramatis.

Tidak nyaman berbicara tentang masa-masa sulit yang menyebabkan kita merasa putus asa, begitu pula berbicara tentang ketidakadilan-ketidakadilan yang kita lihat disekitar kita di dunia. Sementara kita melanjutkan pembahasan kita, meski demikian, ada satu pikiran di benak: “bahwa kita sedang mengarah menuju masa tuaian Allah.”

Jika kita benar-benar jujur, kita harus mengakui bahwa kita kadang-kadang secara rahasia berpikir, “Kenapa Allah membiarkan orang-orang jahat bebas dari apa yang mereka lakukan? Kenapa Allah tidak melakukan apa-apa atas kemenangan ketidakadilan? Mari kita lihat beberapa ayat Kitab Suci yang menangani pertanyaan-pertanyaan ini.

Dalam Mazmur 92:7, Allah memiliki sesuatu yang sangat spesifik mengenai kejahatan: “Orang bodoh tidak akan mengetahui, dan orang bebal tidak akan mengerti hal itu.”

Ayat ini meramalkan akhir daripada orang jahat. Allah berkata, “Aku akan membiarkan tuaian masak.” Dalam Kejadian 15, Tuhan berkata kepada Abraham, “Aku akan memberimu tanah Kanaan – namun bukan empat ratus tahun lagi karena kejahatan bangsa Amori belum selesai (lihat ayat 16).

Ini apa yang kita harus mengerti: Allah menunggu tuaian kejahatan mencapai kematangan penuh. Di bumi hari ini, tuaian keselamatan dan tuaian kejahatan, keduanya sudah masak – sebelah bersebelah. Itu pikiran luar biasa! Dalam perumpamaan gandum dan lalang, matahari yang sama dan hujan yang sama yang mematangkan gandum dan lalang. Allah akan menangani keduanya ketika panen datang. Kapan itu terjadi? Yesus berkata, “Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat” (Matius 13:39).

Kata-kata berikut yang diucapkan oleh seorang malaikat kepada rasul Yohanes mengesankan dalam Wahyu 22:10-12: “Jangan memeteraikan perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini, sebab waktunya sudah dekat.

Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!”

Ayat 11 mengandung kata-kata yang sangat memiliki dampak: “barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar;….barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!” Lagi, kedua panen matang – sebelah bersebelah. Kata-kata selanjutnya: “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya”(ayat 12).

Oleh karena itu, dalam dunia kita hari ini, kita mengamati ada dua panen secara simultan, sebelah bersebelah: panen keselamatan dan panen penghakiman. Dalam Wahyu 14, kedua panen digambarkan satu setelah yang satunya. Mari kita lihat nas dari pasal ini, dimulai dengan ayat 14: “Dan aku melihat: sesungguhnya, ada suatu awan putih, dan di atas awan itu duduk seorang seperti Anak Manusia [Yesus] dengan sebuah mahkota emas di atas kepala-Nya…. ”

Mahkota yang di sebut dalam ayat ini bukan mahkota kerajaan. Melainkan mahkota yang dipakai seorang pemenang. Dalam Perjanjian Baru, ada dua kata untuk “mahkota.” Satu mahkota kerajaan – ikat kepala ornamental yang dipakai penguasa atau sebagai lencana loyalitas. Yang satunya adalah mahkota lambang pemenang dalam permainan olimpik. Dalam Olimpik zaman modern, kita memberi pemenang pertama medali emas. Namun dalam era Perjanjian Baru, mereka memberi mahkota pohon salam (Bumban Dafnah). Dalam sebagian besar tempat dalam Perjanjian Baru dimana kita membaca kata “mahkota,” mengacu pada karangan buah salam.

Dilain pihak, Alkitab berkata ketika Yesus kembali ke bumi menaiki kuda putih-Nya, akan ada banyak mahkota lencana loyalitas, atau wilayah kerajaan, semua dibawah kedudukan-Nya sebagai raja.

Melanjutkan nas ini, kita membaca, “Maka keluarlah seorang malaikat lain dari Bait Suci; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada Dia yang duduk di atas awan itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai; sebab tuaian di bumi sudah masak” (Wahyu 14:15-16).

Dalam Yunani asli, frasa terakhir ini mengindikasi “panen bumi kering.” Ini artinya harus dituai, jika tidak akan hilang. Itu tuaian keselamatan. Kita melihat panen ini dituai di seluruh dunia hari ini. Pada bangsa-bangsa yang secara tradisional tidak memiliki hasrat untuk Yesus, orang-orang menangis mencari injil. Ini waktu panen.

Lalu kita sampai pada panen selanjutnya, dan ini urutan yang benar dimana panen-panen terjadi di Israel. Pertama, gandum di panen. Lalu, panen terakhir adalah anggur.

“Dan seorang malaikat lain keluar dari Bait Suci yang di sorga; juga padanya ada sebilah sabit tajam.

Dan seorang malaikat lain datang dari mezbah; ia berkuasa atas api dan ia berseru dengan suara nyaring kepada malaikat yang memegang sabit tajam itu, katanya: “Ayunkanlah sabitmu yang tajam itu dan potonglah buah-buah pohon anggur di bumi, karena buahnya sudah masak” (Wahyu 14:17-18).

Tolong perhatikan bahwa panen tidak dituai sampai sudah masak penuh.

“Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam kilangan besar, yaitu murka Allah” (Wahyu 14:19).

Ini panen kejahatan. Apakah kita tahu apa yang terjadi dalam tempat pemerasan anggur ketika anggur dikumpulkan? Mereka menaruh anggur dalam baskom batu besar, dan orang-orang datang dan menginjak-nginjaknya dibawah kaki untuk menghancurkan jusnya keluar. Ini gambaran orang jahat dibuang ke tempat pemerasan anggur murka Allah. Mereka di injak-injak dibawah kaki. Ayat selanjutnya berkata, “Dan buah-buah anggur itu dikilang di luar kota dan dari kilangan itu mengalir darah, tingginya sampai ke kekang kuda dan jauhnya dua ratus mil” (ayat 20).

Apakah kita berpikir ini darah simbolis? Ini darah riil yang diperas keluar dalam pemerasan murka Allah.

Dalam kitab Yesaya, kita melihat gambar luar biasa Satu yang menginjak tempat pemerasan anggur. Yesaya 63:1 dimulai, “Siapa dia yang datang dari Edom…? Edom adalah nama untuk tanah timur Yordania. Kata itu juga berarti “merah.” Itu nama yang aslinya diberikan kepada Esau, karena ia ditutupi dengan rambut merah. Mari kita lihat konteks dari pernyataan ini dari Yesaya: “Siapa dia yang datang dari Edom, yang datang dari Bozra dengan baju yang merah, dia yang bersemarak dengan pakaiannya, yang melangkah dengan kekuatannya yang besar?” “Akulah yang menjanjikan keadilan dan yang berkuasa untuk menyelamatkan!”

“Mengapakah pakaian-Mu semerah itu, dan baju-Mu seperti baju buah anggur?”

“Aku seorang dirilah yang melakukan pengirikan, dan dari antara umat-Ku tidak ada yang menemani Aku! Aku telah mengirik bangsa-bangsa dalam murka-Ku, dan Aku telah menginjak-injak mereka dalam kehangatan amarah-Ku; semburan darah mereka memercik kepada baju-Ku, dan seluruh pakaian-Ku telah cemar (Yesaya 63:1-3).

Semua ini adalah gambaran Yesus menghakimi orang jahat. Wahyu 19:13 menggambarkan Yesus “Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah.”

Yesaya 63:4 menyampaikan pemikiran: “Sebab hari pembalasan telah Kurencanakan dan tahun penuntutan bela telah datang.”

Akan ada pembalasan. Allah adalah Allah keadilan. Keadilan-Nya menunggu. Namun secara absolut pasti dan lengkap. Kita sudah mendengar banyak kotbah dan bertemu banyak pengkhotbah, namun jarang mendengar pendeta-pendeta hari ini berbicara tentang penghakiman Allah. Tidakkah demikian? Namun ini bagian sangat signifikan dari kebenaran Firman Allah. Yesus berkata bahwa ketika Roh Kudus datang, “Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yohanes 16:8). Bagaimana Ia akan menginsafkan dunia akan penghukuman jika kita tidak pernah berkotbah tentang penghakiman Allah.

Penulis Mazmur 73 memiliki masalah yang sangat mencolok serupa dengan yang kita hadapi hari ini. Kefasikan bertumbuh di mana-mana. Mereka menyogok pengadilan, mencari uang, dan lolos dari kejahatan.

Melihat ketidakadilan ini, penulis sangat terkejut. Dalam Mazmur 73:12, ia berkata, “Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya!”

Pengamatan ini tampaknya secara umum benar. Ini bagian terbesar, orang fasik. Ide bahwa semua orang Kristen harus kaya tidak alkitabiah. Semua orang Kristen harus memiliki cukup, namun kebenarannya sebagian besar kekayaan adalah untuk orang fasik pada generasi ini.

Selanjutnya, kita melihat komentar awal pemazmur mengenai situasi yang ia hadapi: “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah” (Mazmur 73:13). Ia mengatakan, “aku sudah hidup benar, dan apa yang harus aku tunjukkan? Tidak ada.” Lalu, ia melanjutkan, “Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi” (ayat 14). Kemungkinan besar, kita bisa berkata hal yang sama: “Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.” Meskipun saya sudah hidup benar. Dan saya tidak mengikuti rancangan-rancangan orang fasik.”

Dalam ayat selanjutnya, pemazmur melanjutkan, “Seandainya aku berkata: “Aku mau berkata-kata seperti itu, “maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu” (ayat 15). Ini peringatan untuk kita agar tidak berbicara putus asa tentang mengikut Tuhan, karena dengan melakukan itu, kita bisa mengurangi iman anak-anak Allah.

“Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka” (ayat 16-17). Ada beberapa kebingungan kita tidak bisa mengerti sampai kita masuk tempat suci Allah, atau kedalam hadirat Allah. Pengertian tidak datang sampai kita mendengar dari Tuhan dan diperintahkan

oleh-Nya melalui Roh Kudus. Ini apa yang Allah tunjukkan penulis Mazmur 73: “Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka [orang fasik], Kaujatuhkan mereka sehingga hancur.

Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!

Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina” (ayat 18-20).

Allah berkata bahwa kekayaan orang fasik sudah ditaruh di “tempat-tempat licin.” Pada hari kematian mereka, mereka akan tergelincir langsung kedalam neraka tanpa alternatif. Allah Sendiri sudah menaruh mereka di tempat-tempat licin.

Bagaimana Allah mengharapkan kita untuk merespons semua ini? Kita pikir orang-orang Kristen tidak boleh berbicara tentang pembalasan. Mungkin itu benar dalam hal-hal pembalasan pribadi. Namun pembalasan Allah sama sekali berbeda seluruhnya. Kita perlu memperingatkan orang-orang bahwa Allah “melakukan pembalasan. Alkitab mendeklarasi kebenaran ini dengan sangat jelas – Ia Allah pembalas. Apa yang kita katakan ada di Alkitab. Jika kita tidak mulai mengatakan pada orang-orang kebenaran, siapa lagi?

Oleh LOKA MANYA PRAWIRO.



Leave a Reply