Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Ilmu Sihir Dalam Samaran & Ilmu Sihir Dalam Gereja & Doa Pelepasan – Bagian 10




eBahana.com – Apa tujuan samaran? Untuk menyembunyikan identitas. Itu kodrat ilmu sihir. Tidak ingin kita ketahui identitas sebenarnya, supaya kita tidak menolaknya. Kita akan melakukan apa yang rasul Paulus lakukan di Filipi ketika ia mengusir “roh ular pyton” keluar dari petenung budak perempuan. Meski apa yang ia katakan memiliki kebenaran – “Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan” (Kisah Para Rasul 16:17) – namun pewahyuannya secara spiritual korup karena sumbernya dari Satan. Ilmu sihir dalam samaran.

Kita akan mempelajari banyak cara: halus, cerdik, licik, dan tak kentara dimana ilmu sihir ingin mengendalikan dan mempengaruhi setiap aspek kehidupan sehari-hari orang-orang Kristen.

Pertama, kita perlu mengerti bahwa ilmu sihir adalah pekerjaan utama “kedagingan”: “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Galatia 5:19-21).

Perhatikan Paulus memasukkan penyembahan berhala dan sihir dalam daftar. Dalam banyak versi Alkitab, kata “sihir” diterjemahkan sebagai “ilmu sihir atau witchcraft.” Namun seperti kita bahas sebelumnya, ilmu gaib, guna-guna, mantra-mantra dan ramalan adalah tiga aspek kuasa kegelapan. Ilmu sihir dan kutukan-kutukan adalah ekspresi kodrat kedagingan manusia. Dan seperti kita perhatikan sebelumnya, seorang individual yang bekerja dibawah keinginan kodrat kedagingan menginginkan kontrol, atau memiliki dominion, atas orang lain untuk melakukan apa yang individual itu inginkan. Keinginan seperti itu tidak pernah datang dari Allah. Ini ekspresi kodrat manusia yang jatuh.

Kedua, sangat sering, kita melihat manifestasi ilmu sihir bukan hanya pekerjaan kedagingan namun juga pekerjaan roh jahat – setan yang masuk ke seorang yang memuaskan diri dalam kedagingannya.

Siapapun bisa bergulat dengan hawa nafsu sebagai ekspresi kodrat manusia yang jatuh. Namun jika seorang secara reguler berulangkali memuaskan diri dalam hawa nafsu dengan berbagai cara, hampir pasti mereka berakhir sebagai budak hawa nafsu setan. Demikian pula dengan kebencian, ketakutan, atau emosi-emosi negatif. Pada dasarnya, ini semua kecenderungan alamiah dari kodrat kejatuhan kita. Namun ketika kita menyerah padanya, hampir dipastikan, elemen setan masuk kedalamnya. Ini pola cara-cara Satan mencoba mengendalikan orang-orang.

Ada tiga kata sehubungan dengan kehadiran dan operasi ilmu sihir: (1) manipulasi, (2) intimidasi, dan (3) dominion. Tujuan akhir selalu yang ketiga – dominion atau kontrol.

Jadi, ada dua rute berbeda untuk mengontrol: pertama melalui manipulasi dan lainnya dengan intimidasi.

Berdasarkan Mazmur 58, roh manipulatif bisa dimulai saat kelahiran: “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat” (ayat 4).

Roh Kudus tidak pernah membuat seseorang merasa bersalah. Sebaliknya, Roh Kudus “menginsafkan” akan dosa (lihat Yohanes 16:8). Jadi, jika kita bergumul dengan rasa bersalah, ini bukan dari Roh Kudus.

Tidak menyenangkan menerima fakta bahwa ilmu sihir ada dalam gereja, namun ini kenyataan yang kita harus hadapi. Pada saat seseorang menjadi Kristen, mereka mencatatkan diri untuk peperangan. Kita dalam peperangan antara dua kerajaan spiritual – kerajaan Allah dan kerajaan Satan.

Ilmu sihir taktik musuh nomer satu untuk melawan umat Allah. Kita harus mengerti ilmu sihir dalam samaran dalam gereja untuk menghadapi pertempuran dengan bijaksana. “Kebangunan rohani dalam gereja dan dunia bergantung pada keberhasilan kita dalam pertempuran ini” – dan kita memiliki alasan untuk bersuka cita karena Kristus kita akan bertahan.

Banyak bisa ditulis mengenai cara-cara ilmu sihir, khususnya dalam bentuk manipulasi, menjalankan kontrol-nya dalam gereja. Berikut beberapa contoh umum.

Lihat berapa banyak pemimpin-pemimpin gereja minta sumbangan dana. Banyak pengkhotbah, pendeta, dan evangelis tampak merasa perlu memanipulasi pendukung-pendukung mereka untuk menggalang dana.

Dalam pertemuan atau makan malam mencari donor. Apa yang memotivasi mereka untuk menyumbang dana? Rasa bersalah. Ingat, Allah tidak pernah memotivasi orang dengan rasa bersalah. Skenario ini sesuatu yang terjadi lagi dan lagi di berbagai tempat di dunia.

Cara lain pengkhotbah-pengkhotbah bisa menggunakan manipulasi untuk mendapatkan donasi adalah dengan memberi deskripsi-deskripsi mengerikan mengenai situasi-situasi tragis yang mereka pernah lihat. Tidak salah mengatakan kebenaran tentang situasi-situasi orang sakit, miskin, dan menderita di dunia. Tidak salah mengijinkan orang tahu kebutuhan mereka untuk pertolongan. Meski demikian, suatu kesalahan membuat orang menyumbang dana karena rasa bersalah. Ini cara satanik.

Metode sangat umum lain, membuat “janji-janji” seperti “Jika keluarga kamu ingin diberkati, kirim persembahan, dan saya akan berdoa mohon berkat melimpah Allah untuk keluargamu.” Itu manipulasi. Banyak dari mereka penipu.

Camkan itu dipikiran.

Cara lain adalah kontrol melalui ketakutan dan ancaman. Beberapa pendeta berkata jika kamu meninggalkan gereja ini, kamu tidak akan pernah makmur.”

Kita banyak melihat, tuntutan kesetiaan total pada pendeta atau pelayanan. “Saya pendeta kamu, dan kamu harus mentaati saya, jika kamu tidak mentaati apa yang saya katakan, kamu tidak mentaati Allah.” Itu kebohongan!

Cara lain memanipulasi anggota-anggota gereja adalah dengan membawa mereka kedalam suatu “perjanjian.” Perjanjian-perjanjian seperti itu tidak alkitabiah karena semua orang Kristen sudah dipersatukan melalui perjanjian dengan Allah melalui darah Yesus. Kita tidak harus membuat perjanjian “khusus”. Ini satanik.

Contoh-contoh di atas tanda-tanda pemujaan. Ada banyak tempat pemujaan atau “cult” Kristen. Tolak menjadi budak untuk dimanipulasi dengan rasa bersalah atau ketakutan.

Sayangnya, kadang-kadang kita melihat manipulasi masuk dengan menggunakan operasi-operasi spiritual, seperti karunia interpretasi setelah mendengar ucapan dalam bahasa lidah. Bahkan doa bisa digunakan sebagai pengaruh pengendali atas orang-orang. Kita tidak boleh mengendalikan siapa pun dengan doa.

Lalu ada yang disebut “ramalan karismatik.” Dalam Yehezkiel 12:24, Tuhan menghukum dosa-dosa yang membawa kehancuran Yerusalem, dan Ia berkata, “Sebab tidak akan ada lagi penglihatan yang menipu ataupun tenungan yang menyesatkan di tengah-tengah kaum Israel.”

Gereja hari ini dipenuhi dengan “penglihatan menipu ataupun tenungan yang menyesatkan.”

Kita perlu memberi peringatan terhadap salah satu dari dosa-dosa ini – “menyanjung.” Amsal 29:5 berkata, “Orang yang menjilat sesamanya membentangkan jerat di depan kakinya.”

Sering sekali, orang-orang mencoba menjerat kita dengan pujian, khususnya dengan sanjungan “nubuatan-nubuatan” dimana seseorang berkata, “Kamu akan menjadi rasul,” atau “Allah memanggil kamu menjadi nabi,” atau “Kamu akan menjadi pendeta dengan jemaat besar.” Dimana daya tariknya?

Kesombongan (pride).

Jangan salah, kita percaya pada nubuatan. Banyak peristiwa penting sudah digenapi. Kita percaya pada karunia-karunia hikmat dan pengetahuan. Namun kita percaya ada tiruan satanik untuk setiap karunia-karunia spritual sejati.

Satu cara untuk mengidentifikasi tiruan adalah dengan mengutip kata-kata Yesus dalam Yohanes 16:14, dimana Ia berbicara tentang Roh Kudus: “Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku.”

Satu dari pelayanan-pelayanan tertinggi Roh Kudus adalah memuliakan Yesus. Dimanapun kemuliaan diberikan kepada seseorang selain Allah dan Yesus, kita harus mempertanyakan apakah ini dari Roh Kudus. Begitu pribadi manusia diletakkan didepan, dipusat dan ditinggikan, perhatian kita diarahkan menjauh dari Allah dan mengarah kepada mereka: “Ia orang dengan jawaban-jawaban.” “Ia akan memberi kata-kata pengetahuan sejati.” Pada dasarnya, sangat tidak mungkin pernyataan-pernyataan seperti itu datang dari Roh Kudus karena Ia tidak memuliakan orang-orang – Ia hanya memuliakan Allah Anak, Yesus Kristus.

Roh Kudus penyemangat, dan Ia akan mengucapkan kata-kata penyemangat kepada kita. Meski demikian, lagi, kata-kata ini akan membawa kemuliaan bagi Yesus.

Perhatikan siapa yang menjadi pusat perhatian dan siapa yang ditinggikan.

Apakah kita tahu bagaimana mengundang hadirat Roh Kudus? Sangat sederhana. Tinggikan Yesus. Lebih kita meninggikan Yesus, lebih senang Roh Kudus dibuatnya. Kita tidak perlu memaksa-Nya untuk datang. Kita tidak harus “mengusahakan-Nya.” Roh Kudus siap datang. Dia akan datang ketika kita berbicara tentang Yesus dan salib.

Kapanpun kita meletakkan seseorang, gerakan, organisasi, atau bahkan pengalaman menggantikan tempat Yesus, kita berpijak pada dasar yang berbahaya. Sebagai contoh, banyak orang pentakosta tersesat karena memuliakan baptisan dalam Roh Kudus. Mereka meletakkan baptisan menggantikan Yesus. Memberitakan “tentang” kuasa Roh Kudus tidak begitu penting. Lebih penting memberitakan “dalam” kuasa Roh Kudus.

Mengenai sihir dalam gereja, ada masalah lain yang sangat serius, kita harus mengungkapnya: rayuan seksual. Kita percaya terjadi dalam jumlah sangat besar dalam gereja hari ini. Baik laki-laki maupun perempuan bisa menjadi korban. Bagi laki-laki dalam posisi kepemimpinan, bisa terjadi melalui konseling dengan perempuan – khususnya perempuan yang sedang distres, tertolak, atau haus akan kasih sayang. Bisa dimulai dengan motivasi murni, namun berakhir dengan imoralitas seksual. Kita perlu melindungi diri kita. Bagi laki-laki sebaiknya tidak melakukan konseling dengan perempuan sendirian.

Sayangnya, perempuan sering dirayu oleh laki-laki dalam posisi otoritas spiritual. Tidak ada yang dikecualikan dari pencobaan-pencobaan seperti ini.

Amsal 7:21 bagian pasal terakhir berbicara tentang pelacur dan korbannya: “Ia merayu orang muda itu dengan berbagai-bagai bujukan, dengan kelicinan bibir ia menggodanya.”

Apakah kita memperhatikan kata “kelicinan”?

“Maka tiba-tiba orang muda itu mengikuti dia seperti lembu yang dibawa ke pejagalan, dan seperti orang bodoh yang terbelenggu untuk dihukum, sampai anak panah menembus hatinya; seperti burung dengan cepat menuju perangkap, dengan tidak sadar, bahwa hidupnya terancam.

Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, perhatikanlah perkataan mulutku.

Janganlah hatimu membalik ke jalan-jalan perempuan itu, dan janganlah menyesatkan dirimu di jalan-jalannya.

Karena banyaklah orang yang gugur ditewaskannya, sangat besarlah jumlah orang yang dibunuhnya” (Amsal 7:22-26).

Satu ciri sangat menyolok dari sihir adalah mengejar laki-laki dalam jabatan tinggi. Target nomer satunya kepemimpinan yang berpengaruh. Sayangnya, sering berhasil.

Jadi apa yang bisa kita lakukan? Dengan sederhana disebut dalam 2 Korintus 1:12, dimana Paulus berbicara mengenai dirinya dan pelayanannya?: “Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah.”

Untuk melakukan tindakkan benar kadang-kadang mensyaratkan konfrontasi. Hikmat Amsal apa yang benar-benar kita butuhkan hari-hari ini. Amsal 27:5 berkata: “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi.”

Ini artinya lebih baik menantang seorang secara terbuka daripada mengasihi mereka secara rahasia. Lalu dalam Amsal 28:23, kita membaca, “Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat.”

Perhatikan penggunaan kata “menjilat.” Jika ada sesuatu yang salah dalam hidup seseorang yang dekat dengan kita – mungkin perilaku yang menyinggung kita atau gereja – jangan menanganinya melalui pintu belakang dan menggunakan bujukan atau rayuan. Hadapi melalui pintu depan. Tantang mereka secara terbuka.

Contoh pelayanan Paulus menantang seseorang secara terbuka, ia tulis dalam Galatia 2:11: “Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.”

Petrus pemimpin para rasul, jadi untuk menentangnya dibutuhkan keberanian di pihak Paulus, “Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat” (ayat 12).

Karena ketakutan “beberapa orang” yang masih mengikuti hukum Musa, Petrus mengundurkan diri dari makan dengan orang-orang non-Yahudi yang baru menjadi Kristen. Untuk pelanggaran ini, Paulus “memanggil Petrus keluar.”

“Dan orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia…” (ayat 13).

Perhatikan keterusterangan bahasa Paulus. Ia memanggil mereka “munafik.”

“…sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka.

Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas dihadapan mereka semua: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakan engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?” (ayat 13-14).

Ini contoh cara yang benar untuk menangani situasi yang sangat sulit. Paulus mengkonfrontasi Petrus secara terbuka karena Petrus secara terbuka mendukung praktik yang salah dan perlu dikoreksi. Lagi, bagi Paulus untuk mengkonfrontasi Petrus secara terbuka membutuhkan keberanian, karena Paulus yunior dibanding Petrus. Petrus rasul besar, pemimpin yang dipilih oleh Yesus. Namun di Antiokhia dimotivasi oleh ketakutan, Petrus melakukan sesuatu yang ia tidak boleh lakukan. Jika ini terjadi hari ini, apa yang sebagian besar orang-orang di gereja akan lakukan? Mereka akan memulai gerakan anti Petrus.

Mereka akan lewat belakang, mengumpulkan kelompok orang, dan berkata, “Apakah kamu melihat apa yang Petrus lakukan? Ia munafik!”

Jika Paulus melakukan itu, ia terlibat dalam “politik gereja,” yang adalah kedagingan dan tidak pantas. Kita harus belajar terbuka dan jujur satu sama lain – dalam kasih yang rendah hati, tidak dalam kepahitan atau sikap angkuh. Kita perlu mengikuti contoh Paulus, yang bisa menghasilkan hasil-hasil penebusan bagi setiap orang yang terlibat.

Jika kita memiliki masalah dengan bentuk sihir dalam hidup kita, ada dua respons yang harus kita lakukan. Pertama, jika kita terlibat dalam penggunaan sihir dengan cara apapun, betapapun halusnya, untuk bisa mengontrol orang lain – maka kita perlu bertobat dan menolaknya.

Jika, dilain pihak, beberapa bentuk sihir pernah digunakan melawan kita oleh orang lain – maka kita perlu melawan dan menolaknya.

Alkitab berkata “…barangsiapa berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan” (Roma 10:13). Jadi, jika kita memanggil nama Tuhan dan memenuhi syarat-syarat-Nya, kita akan dilepaskan. Mari kita berdoa doa berikut bersama. Ketika kita sudah berdoa dan mengatakan amin, stop berdoa. Kenapa? Karena kita tidak dilepaskan dengan berdoa. Kita menerima kelepasan dengan mengusir dan mengeluarkan roh-roh jahat. Markus 16:17 berkata, “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku.”

Bagaimana kita menangani setan-setan? Dengan mengusir mereka. Dengan kita berdoa bagus, doa-doa agamawi atau bahkan berbicara dalam roh, kita justru memblokir jalan untuk setan-setan itu pergi. Jadi, ucapkan doa kita dan usir! Hembuskan napas dari mulut kita untuk mengeluarkan roh jahat. Roh adalah napas. Terminologi “roh” dan “napas” sama dalam Yunani. Sebagian besar roh-roh keluar dari mulut. Tidak semua, namun sebagian besar. Ini kenapa kita harus bernapas keluar untuk mengusir mereka.

Hati-hati kesombongan kita bisa menghalangi roh-roh jahat keluar. Kita bisa berkata kepada diri kita, “Saya merasa bodoh berdoa mengenai sihir. Ini bukan benar-benar masalah zaman modern.” Kita harus memilih antara dua: harga diri kita atau kelepasan kita. Ijinkan harga diri kita hilang untuk sementara dan menerima kelepasan kita. Setelah kita dilepaskan, harga diri kita akan kembali. Kita tidak akan kehilangannya.

Apakah kita siap mengambil tindakkan keras melawan musuh kita dan mengusirnya? Jika demikian, tolong berdoa doa berikut. Katakan kata-kata ini dengan bersuara keras kepada Yesus: Tuhan Yesus Kristus, saya percaya Engkau Anak Allah dan Engkau mati di kayu salib untuk dosa-dosa saya dan bangkit kembali dari antara orang mati. Saya sekarang bertobat dari semua dosa-dosa saya dan berbalik darinya. Saya menolak dan meninggalkan semuanya.

Khususnya, saya menolak dan meninggalkan dosa sihir. Saya bertobat dari upaya mengontrol orang-orang lain untuk melakukan apa yang saya mau. Saya mengakui ini sebagai dosa dan menyadari mungkin ada roh sihir dalam hidup saya yang menyebabkan saya melakukan dosa ini. Jika demikian, saya minta pengampunan-Mu dan saya menerimanya dengan iman. Saya mengambil sikap melawan sihir. Saya hancurkan ikatannya atas hidup saya. Saya menolaknya dan mengusirnya, dalam nama Yesus.

Perhatian: Selanjutnya, hembuskan napas keluar. Usir roh jahat dan biarkannya pergi. Begitu mereka pergi, bersukacitalah dalam kebebasan yang Kristus sudah berikan!

Oleh LOKA MANYA PRAWIRO.



Leave a Reply