Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Agar Tidak Ada yang Binasa & Kehidupan di Bawah Permukaan – Bagian 12




eBahana.com – Kenapa Yesus tidak datang sekarang dan mengakhiri semua kesakitan dalam dunia ini? Kenapa orang-orang Kristen diseluruh bumi harus hidup di tengah penderitaan, kesengsaraan dan ketidakadilan yang meningkat? Sekali lagi, kita menemukan diri kita bertanya pertanyaan berikutnya yang tidak bisa dihindari: “Apa yang Allah tunggu?” Bagian dari jawaban ditemukan dalam 2 Petrus 3:9; “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”

Frasa “Ia sabar terhadap kamu” mengacu kepada orang-orang pilihan Allah. Kita percaya pada pilihan Allah. Kita percaya Ia memiliki mereka yang Ia sudah pilih.

Apakah kita mengerti? [Lihat Roma 8:33; Titus 1:1] Kita percaya bahwa kita bagian dari mereka.

Beberapa orang menghadapi kesulitan dengan ide bahwa orang-orang Yahudi adalah bangsa pilihan. Namun

orang-orang Kristen “umat” pilihan juga. Kita tidak akan pernah menjadi orang-orang Kristen jika Allah tidak memilih kita. Yesus Sendiri dengan jelas menyatakan kebenaran ini ketika Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu….” (Yohanes 15:16). Maka, kita tidak bisa benar-benar mengerti Alkitab kecuali kita mengerti pilihan Allah.

Supaya jelas contohnya, kita bukan Calvinis. Kita tidak percaya beberapa orang dipilih untuk dihukum dan lainnya diselamatkan. Namun Alkitab berkata: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung diantara banyak saudara.

Dan mereja yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Roma 8:29-30).

Jadi apa yang Tuhan tunggu? Semua yang Ia pilih untuk diri-Nya Sendiri. “Karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan semua orang berbalik dan bertobat” (2 Petrus 3:9). Ia tidak akan membawa penghakiman final atas dunia sampai setiap orang milik-Nya sudah masuk. Ia akan menunggu dengan kesabaran tak terbatas. Sebanyak kita merindukan kebangunan rohani, Yesus menunggu untuk memberi kita kesempatan untuk bertobat dan untuk diselamatkan.

Kita percaya harus ada sedikitnya satu jiwa dari setiap “bangsa, suku, orang-orang, dan lidah (lihat Wahyu 7:9). Oleh karena itu, kita percaya tidak ada lagi tugas mendesak bagi gereja selain menyebarkan injil kepada bangsa-bangsa yang belum terjangkau. Yesus tidak akan datang sampai setiap orang sudah terjangkau. Ia tidak akan datang sampai sedikitnya ada satu anggota dari setiap kelompok berdiri dihadapan tahkta. Allah Bapa akan memastikan ini karena untuk memuliakan Anak-Nya, yang pengorbanan-Nya dicurahkan bagi setiap orang dari setiap bangsa di bumi.

Jadi Allah menunggu karena belas kasih-Nya. Untuk alasan ini, Ia akan mentoleransi kejahatan yang menuntut intervensi-Nya. Pada akhirnya, Ia akan menghakimi orang fasik. Namun, untuk momen sekarang, Ia menunggu setiap orang terakhir yang Ia pilih untuk masuk kedalam kerajaan-Nya.

Kita terkesan dengan cara Allah menemukan orang-orang yang Ia pilih. Ia pergi jauh untuk menemukan orang-orang yang tidak layak untuk dipertimbangkan. Namun mereka anak-anak pilihan Allah. Allah tidak akan menarik “jaring ikan” sampai setiap orang yang terpilih sudah menerima keselamatan.

Dalam terang kebenaran ini, kita perlu mengembangkan pandangan berbeda mengenai kejahatan. Kita harus melihat melampaui kejahatan dan belas kasih dan kesabaran Allah yang tak terbatas sementara Ia menunggu mereka yang Ia pilih. Sudah pasti, kita tidak boleh pasif dalam proses ini. Kita harus melakukan sesuatu untuk menjangkau yang belum terjangkau.

Kita percaya sepenuhnya dalam Matius 24:14: “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”

Ini apa yang Allah tunggu. Barangsiapa memperlambat kedatangan Tuhan, karena kita orang-orang percaya tidak memberitakan injil!

Seperti orang-orang Kristen dipilih Allah untuk menjadi “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (1 Petrus 2:9), maka Israel.dipilih oleh Allah sebagai satu bangsa.

Ada di hati banyak orang hari ini – bahkan orang-orang Kristen – yang tidak terucapkan mengenai orang-orang Yahudi. Ada sesuatu tentang mereka yang seluruh dunia sama-sama tidak suka. Dari mana rasa tidak suka itu berasal? Bisakah karena fakta sederhana Allah memilih mereka?

Tujuan-tujuan Allah sering menjadi sebuah misteri untuk kita. Namun ini kebenarannya, jika kita tidak percaya pada orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihan, kita mengurangi keselamatan kita sendiri. Keselamatan kita bergantung pada Allah memilih kita, sebanyak takdir bangsa Yahudi bergantung pada Allah memilih mereka.

Ada peristiwa penting yang harus terjadi sebelum kedatangan Yesus sebagai Mesias Yahudi. Dalam kitab Zakaria, Allah berkata, “Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung” (Zakharia 12:10).

Ini satu dari pernyataan luar biasa dalam Alkitab. Tuhan yang berbicara, dan namun Ia berkata, “mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam.” Kemungkinan satu identifikasi diri Yesus paling jelas sebagai Mesias yang ditikam. Meski demikian, tidak seorang pun tahu siapa Yesus kecuali melalui pewahyuan, dan pewahyuan itu datang dari Roh Kudus (lihat Matius 16:16-17). Jadi, sampai Roh Kudus mengungkapkan Mesias kepada orang-orang Yahudi, mereka akan tetap buta pada kebenaran mengenai Yesus. Ketidakmampuan orang-orang Yahudi mempercayai injil, secara luas, adalah penghakiman Allah. Namun penghakiman ini sedang dibatalkan. Menariknya, diantara orang-orang Yahudi hari ini; seolah-olah Allah menyelinap di sisi buta mereka.

Mereka tidak mengerti apa yang terjadi, namun Roh Kudus mulai meyakinkan mereka tentang kebenaran bahwa Yesus adalah Mesias.

Seorang profesor non-Kristen di Hebrew University yang mengajar tentang agama – khususnya Kekristenan, berkata, “Beberapa tahun yang lalu, murid-murid saya hanya tertarik pada aspek-aspek doktrinal agama. Namun sekarang mereka semua tertarik pada pribadi Yesus.

Orang-orang Yahudi Ortodox tidak akan pernah menyebut Yesus dengan nama hak-Nya, mereka tidak juga mengakui bahwa Ia Yahudi. Kata Ibrani untuk Yesus adalah “Yeshua,” namun sebagian besar dari mereka menyingkirkan huruf terakhir dan menyebut-Nya “Yeshu,” mengindikasi bahwa Ia non-Yahudi. Mereka mengatakan, “Ia bukan bagian dari kita, dan kita tidak akan memberi-Nya nama Yahudi.” Sikap itu juga berubah. Banyak kemajuan terjadi yang tidak bisa dijelaskan kecuali Allah yang memulai pekerjaan. Ada perubahan terjadi sementara Yesus sedang diungkapkan kepada orang-orang Yahudi.

Mari kita kembali ke nubuat Zakharia. Allah bernubuat bahwa sebelum kedatangan Mesias Israel, Ia akan ” mencurahkan roh pengasihan [kasih karunia] dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem” (Zakharia 12:10).

Dengan kata lain, Allah berkata, “Aku akan mencurahkan Roh ke atas mereka, Roh Kudus, yang akan memampukan mereka bedoa pada tingkat melewati pengertian mereka. Aku akan memampukan mereka memohon belas kasih yang mereka tidak akan bisa dapatkan tanpa pertolongan Roh-Ku.” Roh Kudus adalah “Roh kasih karunia dan permohonan,” dan dengan-Nya, mereka akan memandang kepada-Ku yang telah mereka tikam” (ayat 10). Semua ini akan datang kepada mereka melalui Roh Allah.

Gereja juga butuh “Roh kasih karunia dan permohonan” jika ingin melihat kebangunan rohani. Jika kita berdoa jenis doa-doa yang benar-benar memiliki suatu arti, kita memerlukan kemampuan supernatural Roh Kudus. Kita di titik krisis global, dan hanya ada satu sumber pertolongan: Allah yang kita terlalu sering abaikan, lalaikan dan remehkan. Meski demikian, Ia masih mengasihi setiap dari kita, meskipun kita acuh tak acuh terhadap-Nya. Ia masih bersedia mencurahkan Roh-Nya jika syarat-syaratnya dipenuhi.

Diibutuhkan lebih daripada keputusan kehendak kita untuk membawa kebangunan rohani. Jadi, apa yang dibutuhkan?

Apa bagian yang kita miliki untuk berperan dalam pencurahan hujan Roh Kudus? Esensial bagi kita mengerti bagian kita karena hujan Roh yang membawa benih-benih itu kepada kehidupan. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa melihat ke Yoel, nabi pencurahan Roh Kudus akhir zaman. Kitab Yoel dibuka dengan gambaran kesedihan dan ketandusan – sejenis situasi keputusasaan yang sudah kita bahas. Tidak ada tanaman, apakah di ladang atau buah di pohon-pohon. Segala sesuatunya layu dan musnah. Tidak ada makanan untuk orang-orang atau binatang mereka. Tidak ada kehidupan. Namun lalu, kita membaca ditengah pasal 2: “Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN. “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.”

Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.

Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu” (Yoel 2:12-14).

Apa yang disyaratkan dari orang-orang? Menjadi putus asa.

“Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan.

Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu.

Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap.

Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN yang hebat dan dahsyat itu.

Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil TUHAN akan termasuk orang-orang yang terlepas” (Yoel 2:28-32).

Ketika Yoel dikutip dalam Perjanjian Baru dalam Kisah Para Rasul 2:7, dikatakan, “Akan terjadi pada hari-hari terakhir” ketimbang “sesudah itu” namun keduanya sama artinya. Mari pertimbangkan signifikans “sesudah itu” sejenak. Sesudah apa? Sesudah umat Allah melakukan apa yang Ia katakan pada mereka untuk lakukan: berbalik pada-Nya dengan seluruh hati mereka, dengan berpuasa, menangis, dan mengaduh. Allah berkata ketika itu terjadi, Ia akan mencurahkan Roh-Nya ke atas semua manusia.

Nas ini sangat jelas menggambarkan akhir zaman – “hari TUHAN yang hebat dan dahsyat itu.” Kenapa barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN dalam situasi ini akan diselamatkan? Karena Roh Kudus akan dicurahkan. Ketika Roh Kudus dicurahkan, kita akan melihat orang-orang berbondong-bondong masuk kedalam kerajaan Allah.

Kita percaya ini berlaku untuk semua bangsa dimana orang-orang percaya yang setia sudah berdoa berpuluh-puluh tahun untuk kebangunan rohani.

Jawaban-jawaban final-nya mensyaratkan doa keputusasaan.

Kita harus berhadapan dengan fakta bahwa tidak ada harapan lain. Tidak ada yang bisa lainnya. Bangsa-bangsa akan hilang kecuali Allah mengintervensi – dan Allah menunggu tangisan putus asa. Kita tidak bisa menciptakan suasana putus asa. Tidak ada gunanya “mencoba” jadi putus asa. Hanya Roh Kudus yang bisa mencurahkan ke atas kita Roh kasih karunia dan permohonan.

Kita perlu mengatakannya sangat hati-hati. Kita percaya kita harus minta pimpinan Roh Kudus sebelum kita merespons. Kita percaya Allah akan menaruhnya dalam hati kita untuk minta jika kita adalah satu dari mereka yang akan meng-komitmenkan diri kita, sementara Roh Kudus memberi kuasa dan memampukan kita, untuk berdoa doa keputusasaan. Berdoa dalam cara putus asa ini membutuhkan kesadaran bahwa kita sudah sampai pada akhir dari diri kita.

Tolong pertimbangkan tantangan ini dengan hati-hati. Jangan kita membuat respons buatan….palsu…pura-pura kepada Allah. Meski demikian, kita berharap kita mendengar Roh Kudus bertanya, “Apakah kita bersedia membiarkan-Nya membuat kita putus asa untuk kebangunan rohani dalam bangsa kita Indonesia? Apakah kita bersedia membiarkan-Nya melakukan terobosan dalam hidup kita, merubah prioritas-prioritas kita, dan, jika perlu, membuat kita meletakkan muka kita di lantai, hari demi hari, sampai kita melihat hujan turun dari surga?”

Doa seperti ini panggilan bagi mereka yang Roh Kudus pimpin. Ini bukan untuk setiap orang. Tangisan keputusasaan supernatural dan dilepaskan oleh Roh Kudus. Tolong mengerti jika kita tidak merasa terpanggil untuk ini, bukan karena kekurangan dalam diri kita. Ini panggilan dari Roh Kudus dan tidak berdasarkan pada kemampuan     didalam diri kita. Jika Ia tidak meletakkan ini di hati kita, karena Ia memiliki sesuatu yang lain untuk kita lakukan.

Oleh karena itu, ambil satu momen sekarang dan dengarlah pada Roh. Lihat jika Ia minta kita, “Bersediakan engkau membiarkan Aku membuatmu putus asa untuk bangsamu?” Jika kita percaya Allah ingin menggunakan kita dengan cara ini, maka dengan sederhana nyatakan kesediaan kita untuk mengikuti-Nya dengan panggilan ini dengan doa berikut: “Bapa, saya berdiri dalam kekaguman di hadirat-Mu. Terima kasih untuk tantangan Firman-Mu yang datang pada saya. Saya berseru pada-Mu untuk belas kasih bagi bangsa saya Indonesia. Allah, miliki belas kasih atas kita!

Dalam penghakiman ingat belas kasih. Mampukan saya dengan kasih karunia-Mu dan dengan Roh Kudus untuk mengalami terobosan dalam doa – untuk berdoa dalam keputusaasan untuk pencurahan Roh Kudus. Saya minta Engkau menarik bangsa ini kembali pada-Mu. Bapa, saya berdoa agar Engkau bergerak dalam Roh Kudus membawa kebangunan rohani ke negeri kami – dan keseluruh bumi. Dalam nama Yesus. Amin.”

Oleh LOKA MANYA PRAWIRO.



Leave a Reply