• PELUANG EMAS UNTUK MENJADI AGEN MAJALAH BAHANA
  • SEKALIGUS PEWARTA KABAR BAIK!
  • ANDA BERMINAT? SILAHKAN HUBUNGI: KANTOR MAJALAH BAHANA:
  • JL. BEO 38-40, YOGYAKARTA 55281
  • TELP. (0274)561881 EXT 113/208

Gereja Harus Siap Menghadapi Tantangan

By: Robby Go | Misi Gereja | 17 Jan 2017, 15:37:14 | Dibaca: 238 kali

Apa isu atau tantangan Kristen yang sedang "panas" belakangan ini?

Sebenarnya, ada banyak isu atau tantangan. Misalnya, khusus di DKI ada Pilkada. Isu secara umum, misalnya perselingkuhan, seks bebas, pajak, ajaran sesat, dan masih banyak lagi. Tantangan memang banyak, tetapi gereja ada untuk menghadapi tantangan. Kalau tidak ada tantangan, ya sudah, gereja pasti mati. Melihat situasi yang terjadi sekarang, apakah gereja atau pemimpin Kristen siap menghadapi tantangan?

Ya, sudah pasti siap. Gereja bisa berdiri sampai hari ini karena gereja siap menghadapi tantangan. Tantangan itu seperti peperangan. Dalam peperangan cuma ada dua pilihan, menang atau kalah. Memang banyak orang mengkritik kebijakan

gereja, tetapi kita kan tidak bisa menyenangkan semua orang. Namun, kalau faktanya sampai hari ini gereja masih eksis, artinya gereja memang mampu menghadapi tantangan dan mampu menang di atasnya.

Saat ini gereja terkesan lembek, misalnya saat menghadapi isu LGBT. Sebagai contoh, negara-negara yang berpenduduk mayoritas Kristen saat ini sudah melegalkan pernikahan sejenis. Pada kasus terbaru, PGI tidak memberikan keputusan tegas kala diperhadapkan dengan isu LGBT. Bagaimana menurut Anda?

LGBT bukan tantangan terbesar gereja saat ini dan bukan pula tantangan baru. Sejak zaman Abraham dan Lot, persoalan LGBT sudah ada. Buat saya, itu tantangan lama. Sampai sekarang, gereja masih mampu menghadapi masalah ini. Kalau ada yang bilang PGI tidak bersikap tegas, itu ‘kan sikap PGI, bukan gereja. Kita harus ingat, yang ada di PGI bukan gembala sidang, hanya pendeta organisasi. Mereka tidak terlalu paham situasi di lapangan. 

PGI melakukan itu karena ingin eksistensinya diakui. Jadi, statement saya jelas. Pertama, saat ini tidak ada lagi negara yang benar ­benar bisa disebut negara Kristen. Bahkan, di Eropa sekarang lebih banyak orang ateis. Puji Tuhan, gereja yang masih memegang Injil dan pengakuan iman rasuli tidak saya dengar melegalkan pernikahan sejenis.

Jadi, kalau ada gereja yang melegalkan pernikahan sejenis, itu adalah gereja yang tidak jelas. Bukan gereja yang basis pengajarannya pada firman Tuhan, pada humanisme,  culture , dan ingin disukai orang. Sikap saya jelas. Pertama, pelaku LGBT adalah dosa karena Tuhan menciptakan manusia, laki­laki dan perempuan, dan semuanya adalah baik. Kedua, para pelaku LGBT boleh tetap masuk gereja, tetapi belum boleh terlibat dalam pelayanan apa pun. Ketiga, menghina, merendahkan, atau mengucilkan pelaku LGBT adalah dosa. Tuhan mengasihi mereka, mengapa kita malah membenci mereka? Yang harus dibenci atau ditolak adalah perbuatannya, bukan orangnya. Keempat, pelaku LGBT adalah korban. Korban lingkungan pergaulan yang salah, korban pelecehan seksual, korban pola didik orangtua yang salah, dan sebagainya. Kelima, memiliki kecenderungan LGBT tidak berarti harus menjadi pelaku LGBT. Sebagai contoh, kalau ada orang yang memiliki kecenderungan berlaku kasar, apakah itu artinya orang itu harus berlaku kasar? Atau, mungkin ada orang punya kecenderungan bersikap sombong, apakah itu artinya ia harus sombong? Jelas tidak. Maksud saya, kecenderungan negatif tidak harus diikuti, sama dengan pelaku LGBT. 

Kalau seorang pria punya kecenderungan bersikap kewanita ­wanitaan atau seorang wanita punya kecenderungan bersikap seperti lelaki, silakan saja. Terima mereka apa adanya dan arahkan ke pergaulan yang positif.  Kapan orang dengan kecenderungan LGBT menjadi berdosa? Yaitu ketika ia mulai berpacaran atau melakukan hal­hal seksual dengan sesama jenis atau yang menyimpang. 

Apa pesan Anda agar gereja-gereja tidak ikut arus tren pelegalan LGBT? 

Alkitab berkata bahwa kita ada di dunia, tetapi kita tidak berasal dari dunia. Jenis gereja ada dua. Pertama, gereja yang menyadari bahwa kita adalah bagian Kerajaan Allah yang ditempatkan Tuhan di bumi. Standarnya adalah standar Kerajaan Allah. Inilah gereja yang tetap memegang Alkitab dan pengakuan iman rasuli. 

Kedua, gereja yang mau menjadi sama dengan dunia. Gereja seperti ini memiliki konsep bahwa kita adalah orang dunia yang sedang berjuang menuju surga. Gereja seperti inilah yang berkompromi dengan dunia. Ya sudahlah, daripada jemaat lari, terima sajalah pernikahan sejenis, seks pranikah, dll. Buat saya, gereja jenis kedua ini tidak layak disebut gereja. Hanya perkumpulan orang yang membicarakan hal­hal rohani. Jadi, kalau mau disebut gereja, kita harus ikut firman Tuhan. Tolak tegas dosa. Kalau tidak mau ikut firman Tuhan dan berkompromi dengan dosa, itu cuma perkumpulan.

Ada wacana memasukkan pelaku LGBT sebagai sasaran penginjilan. Bagaimana pendapat Anda? Panggilan gereja adalah mencari orang berdosa untuk dilayani dan dibawa kepada Tuhan agar bertobat. Intinya, kalau kita melihat ada orang berdosa, merekalah yang harus kita layani, tidak peduli apa pun bentuk dosanya.  

Gereja Harus Siap Menghadapi Tantangan
Apa isu atau tantangan Kristen yang sedang "panas" belakangan ini?
Sebenarnya, ada banyak isu atau tantangan. Misalnya, khusus di DKI ada Pilkada. Isu secara umum, misalnya perselingkuhan, seks bebas, pajak, ajaran sesat, dan masih banyak lagi. Tantangan memang banyak, tetapi gereja ada untuk menghadapi tantangan. Kalau tidak ada tantangan, ya sudah, gereja pasti mati.
Melihat situasi yang terjadi sekarang, apakah gereja atau pemimpin Kristen siap
menghadapi tantangan?
Ya, sudah pasti siap. Gereja bisa berdiri sampai hari ini karena gereja siap menghadapi tantangan. Tantangan itu seperti peperangan. Dalam peperangan cuma ada dua pilihan, menang atau kalah. Memang banyak orang mengkritik kebijakan
gereja, tetapi kita kan tidak bisa menyenangkan semua orang. Namun, kalau faktanya sampai hari ini gereja masih eksis, artinya gereja memang mampu menghadapi 
tantangan dan mampu menang di atasnya.
Saat ini gereja terkesan lembek, misalnya saat menghadapi isu LGBT. Sebagai contoh, negara-negara yang berpenduduk mayoritas Kristen saat ini sudah melegalkan pernikahan sejenis. Pada kasus terbaru, PGI tidak memberikan keputusan tegas kala diperhadapkan dengan isu LGBT. Bagaimana menurut Anda?
LGBT bukan tantangan terbesar gereja saat ini dan bukan pula tantangan baru. Sejak zaman Abraham dan Lot, persoalan LGBT sudah ada. Buat saya, itu tantangan lama. Sampai sekarang, gereja masih mampu menghadapi masalah ini. Kalau ada yang bilang PGI tidak bersikap tegas, itu ‘kan sikap PGI, bukan gereja. Kita harus ingat, yang ada di PGI bukan gembala sidang, hanya pendeta organisasi. Mereka tidak terlalu paham situasi di lapangan. 
PGI melakukan itu karena ingin eksistensinya diakui. Jadi, statement saya jelas. Pertama, saat ini tidak ada lagi negara yang benar ­benar bisa disebut negara Kristen. Bahkan, di Eropa sekarang lebih banyak orang ateis. Puji Tuhan, gereja 
yang masih memegang Injil dan pengakuan iman rasuli tidak saya dengar melegalkan pernikahan sejenis.
Jadi, kalau ada gereja yang melegalkan pernikahan sejenis, itu adalah gereja yang tidak jelas. Bukan gereja yang basis pengajarannya pada firman Tuhan, pada humanisme,  culture , dan ingin disukai orang. Sikap saya jelas. Pertama, pelaku 
LGBT adalah dosa karena Tuhan menciptakan manusia, laki­laki dan perempuan, dan semuanya adalah baik. Kedua, para pelaku LGBT boleh tetap masuk gereja, tetapi belum 
boleh terlibat dalam pelayanan apa pun. Ketiga, menghina, merendahkan, atau mengucilkan pelaku LGBT adalah dosa. Tuhan mengasihi mereka, mengapa kita 
malah membenci mereka? Yang harus dibenci atau ditolak adalah perbuatannya, bukan orangnya. Keempat, pelaku LGBT adalah korban. Korban lingkungan pergaulan yang salah, korban pelecehan seksual, korban pola didik orangtua yang salah, dan 
sebagainya. Kelima, memiliki kecenderungan LGBT tidak berarti harus menjadi pelaku LGBT. Sebagai contoh, kalau ada orang yang memiliki kecenderungan berlaku kasar, apakah itu artinya orang itu harus berlaku kasar? Atau, mungkin ada orang punya 
kecenderungan bersikap sombong, apakah itu artinya ia harus sombong? Jelas tidak. 
Maksud saya, kecenderungan negatif tidak harus diikuti, sama dengan pelaku LGBT. 
Kalau seorang pria punya kecenderungan bersikap kewanita ­wanitaan atau seorang 
wanita punya kecenderungan bersikap seperti lelaki, silakan saja. Terima mereka apa adanya dan arahkan ke pergaulan yang positif.  Kapan orang dengan kecenderungan LGBT menjadi berdosa? Yaitu ketika ia mulai berpacaran atau melakukan hal­hal seksual dengan sesama jenis atau yang menyimpang. 
Apa pesan Anda agar gereja-gereja tidak ikut arus tren pelegalan LGBT? 
Alkitab berkata bahwa kita ada di dunia, tetapi kita tidak berasal dari dunia. Jenis gereja ada dua. Pertama, gereja yang menyadari bahwa kita adalah bagian Kerajaan 
Allah yang ditempatkan Tuhan di bumi. Standarnya adalah standar Kerajaan Allah. Inilah gereja yang tetap memegang Alkitab dan pengakuan iman rasuli. 
Kedua, gereja yang mau menjadi sama dengan dunia. Gereja seperti ini memiliki konsep bahwa kita adalah orang dunia yang sedang berjuang menuju surga. Gereja seperti inilah yang berkompromi dengan dunia. Ya sudahlah, daripada jemaat lari, terima sajalah pernikahan sejenis, seks pranikah, dll. Buat saya, gereja jenis kedua ini tidak layak disebut gereja. Hanya perkumpulan orang yang membicarakan hal­hal rohani. Jadi, kalau mau disebut gereja, kita harus ikut firman Tuhan. Tolak tegas dosa. Kalau tidak mau ikut firman Tuhan dan berkompromi dengan dosa, itu cuma perkumpulan.
Ada wacana memasukkan 
pelaku LGBT sebagai sasaran penginjilan. Bagaimana pendapat Anda? Panggilan gereja adalah mencari orang berdosa untuk dilayani dan dibawa kepada Tuhan agar bertobat. Intinya, kalau kita melihat ada orang berdosa, merekalah yang harus kita layani, 
tidak peduli apa pun bentuk dosanya.  Robby Go

 

 

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer




Berita IT

© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2017
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13