• PELUANG EMAS UNTUK MENJADI AGEN MAJALAH BAHANA
  • SEKALIGUS PEWARTA KABAR BAIK!
  • ANDA BERMINAT? SILAHKAN HUBUNGI: KANTOR MAJALAH BAHANA:
  • JL. BEO 38-40, YOGYAKARTA 55281
  • TELP. (0274)561881 EXT 113/208

TRAUMA AKIBAT KEKERASAN

By: B.S.Sidjabat | Tips | 21 Aug 2015, 14:00:37 | Dibaca: 927 kali

PARENTING

Pada umumnya orangtua gembira menyambut rencana anaknya yang sudah cukup usia dan kesanggupan untuk menikah dengan pilihan hatinya. Mereka akan mempersiapkan segala sesuatu terkait dengan acara istimewa yang dinanti. Doa dan harapan orangtua ialah kelak anak dapat membangun rumah tangga harmonis, memperoleh dan membesarkan keturunan yang sehat, cerdas, dan hormat kepada Tuhan.

            Akan tetapi lain halnya dengan penuturan hati Nari yang telah menginjak usia empat puluhan. Katanya ia takut menikah. Belasan tahun silam pernah ada laki-laki menyatakan cinta kepadanya, tetapi ungkapan dan sikap pemuda itu dianggapnya basa basi belaka. Ia tidak percaya. Jika ada lagi laki-laki yang mendekati, segera ia menutup pintu hati. Ia menganggap laki-laki yang mengajaknya pacaran hanya bersandiwara.

Ketika bercerita tentang keluarga asalnya, dikatakan bahwa yang disaksikannya adalah pertengkaran setiap hari. “Tidak ada hari yang bebas pertengkaran sengit. Yang satu memaki yang lain. Yang satu berteriak dan yang lain membalasnya,” begitu kenangnya. “Tidak jarang pertengkaran itu diwarnai perkelahian secara fisik atau perusakan perabot rumah tangga,” lanjutnya.

            Dua kakak Nari telah menikah dan beroleh keturunan. Karena itu, mereka meyakinkan sang adik bahwa laki-laki yang akan menikah dengannya tidak selalu sama dengan ayah yang berlaku kasar kepada ibu mereka. Namun, hati Nari sesak dengan pengalaman traumatis. Pemandangan buruk masa lalu itu sering hadir di pikirannya. Sangat mengganggu.  

            Bertolak dari pengalaman kenalan tersebut dalam kesempatan ini saya menuliskan apa yang perlu dilakukan orangtua dalam membesarkan anaknya. Apalagi bila mereka sudah menjelang usia remaja atau berstatus pemuda dan pemudi. Lima hal yang patut mendapat perhatian orangtua adalah:

 

  1. 1.      Bertekad bulat membangun kerukunan

Ciri suami istri yang rukun adalah saling mengerti. Mereka bekerja sama menghadapi

dan menyelesaikan masalah. Keduanya menghindari pertengkaran apalagi perkelahian. Nada suara di rumah bukan teriakan seolah ada kebakaran. Komunikasi keluarga dengan Tuhan melalui doa dan persekutuan dipelihara. Mereka percaya bahwa tangan Tuhan sanggup mengikat pasangan beserta anak-anaknya dalam kehangatan.

 

  1. 2.      Belajar hadapi konflik dengan kreatif

Cara buruk menghadapi pergesekan akibat perbedaan ialah mengucapkan kata-kata

kasar.  Termasuk julukan (label) yang tidak enak didengar, seperti “goblok”, “bodoh”, “tolol”, “brengsek.” Bisa juga dengan menuduh pasangannya selalu salah. “Dari dulu kamu tidak pernah benar,” begitulah misalnya. Mungkin pula salah satu menempeleng atau meninju yang lain. 

Cara baik menyelesaikan persoalan adalah membicarakannya dengan hati dan pikiran damai. Jangan ada prasangka buruk terhadap pasangan bila pendapatnya berbeda atau suaranya meningkat tinggi. Terapkan pola pikir positif. Keduanya patut selalu berdoa memohon pertolongan Tuhan.

 

  1. 3.      Membangun harga diri anak

Dalam kasus di atas, Nari selalu memandang pujian pemuda yang mendekat sebagai

kepalsuan. Ia berprasangka buruk terhadap ketulusan lawan jenisnya. Ia selalu ingat olok-olok yang diterima dari orangtua dan kakak-kakak, seperti “Kamu jelek!” atau “Kamu goblok!” Pesan-pesan kasar masa lalu itu meruntuhkan penerimaan dirinya.

            Firman Tuhan mengajarkan kita patut mempergunakan perkataan yang membangun supaya mereka yang mendengar beroleh kasih karunia (Ef. 4:29). Patutlah ayah dan ibu memuji putra dan putrinya secara jujur dan tulus tanpa pilih kasih. Ungkapan seperti “Mama sayang kamu, Nak!”atau  “Kamu membanggakan Papa. Trima kasih!” akan menanamkan perasaan berharga pada anak. Selanjutnya, orangtua pun perlu mengajari kakak menghargai adik. Begitu pula sebaliknya.

 

  1. 4.      Mempercakapkan dinamika keluarga

Jika anak sudah remaja, tentu pikiran masa depan menghampirinya. Termasuk ke dalam

batinnya hadir pertanyaan, “Bagaimana, ya, kalau saya nanti menikah? Apakah bisa membangun keluarga yang memberikan rasa nyaman? Apakah saya dan calon pasangan tidak seperti mama dan papa?”

            Ayah atau ibu patut menjelaskan kepada anak bahwa suami istri berbeda dalam banyak perkara. Karena perbedaan itu, mereka bisa berselisih paham. Namun, keduanya harus bekerja sama untuk saling menerima. Bila anak melihat ayah dan ibu tidak mampu berdamai, tidak ada kisah dan memori baik yang dibawa ke dalam perjalanan hidup selanjutnya.

 

  1. 5.      Menolong anak saat jatuh cinta

Remaja yang memiliki orangtua berpengertian, tidak akan sungkan menceritakan

perasaan hatinya ketika jatuh cinta. Jika hal itu terjadi, saatnya memberikan waktu bercakap-cakap tentang perasaan atau impiannya. Hal itu membantu remaja wanita meresponi ungkapan sayang dari laki-laki yang meliriknya. Pemuda yang jatuh cinta kepada gadis pujaannya lalu menceritakan perasaannya pun patut disambut dengan hangat oleh ayah dan ibu.

            Jadi, mengakhiri urian ini ditekankan bahwa orangtua patut menghindari kekerasan dan kekasaran di keluarga agar anak bertumbuh dalam rasa aman dan nyaman. Jika mereka menghargai anak, kelak ia tidak takut menghadapi penolakan. Ia mampu memercayai ketulusan cinta kasih orang lain. Apabila tidak demikian, rasa curiga berlebihan yang mengikuti perjalanan hidup seterusnya.

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer




Berita IT

© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2017
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13