• PELUANG EMAS UNTUK MENJADI AGEN MAJALAH BAHANA
  • SEKALIGUS PEWARTA KABAR BAIK!
  • ANDA BERMINAT? SILAHKAN HUBUNGI: KANTOR MAJALAH BAHANA:
  • JL. BEO 38-40, YOGYAKARTA 55281
  • TELP. (0274)561881 EXT 113/208

KETIKA KELERENGKU TETAP HILANG

By: Imanuel Kristo | Vitamin | 18 Mar 2015, 13:17:49 | Dibaca: 2438 kali

Seorang anak laki-laki kehilangan salah satu kelereng miliknya, dia terus menghitung dan kembali menghitung. Dan ternyata memang benar jumlahnya tidak lagi sama, kelerengnya berkurang satu butir. Dia berusaha mencari dan menemukan, menanyakan kepada seisi rumah kalau-kalau ada di antara mereka yang tahu. Namun hasilnya adalah: “nihil”, tidak ada satu orangpun yang tahu. 

Anak laki-laki itu mulai berdoa. Dia memohon kepada Tuhan agar dapat menemukan kelerengnya, dia sangat yakin Tuhan akan membantunya. Berhari-hari dia menaikkan doa yang sama. Kondisi demikian awalnya membuat ibunya bangga, memiliki seorang anak yang begitu yakin akan kemahakuasaan Tuhan. Namun lama kelamaan orang-orang rumah mulai khawatir apabila kelerengnya benar-benar hilang dan tidak pernah di temukan, anak itu akan berubah menjadi tidak lagi percaya Tuhan. 
Setiap petang ibunya selalu bertanya, apakah kelereng kesayangannya sudah di temukan. Namun jawabannya selalu sama “belum.” Kecemasan keluarga semakin bertambah, hingga akhirnya mereka mendapatkan jawaban yang mengejutkan dari sang anak. Waktu itu ibunya bertanya: “Nak, apakah kelerengmu sudah ditemukan?” Anak laki-laki itu dengan cepat menjawab: “Belum!”. Mendapatkan jawaban singkat itu ibunya kembali bertanya: “Bagaimana jika seandainya kelerengmu benar-benar hilang dan tidak pernah ditemukan kembali?”  Anak laki-laki  itu segera menjawab: “Ah tidak apa-apa, saya sudah mengubah doa aya kok?” jawabnya ringan.  Ibunya menjadi semakin cemas: “Lalu...bagaimana bunyi doamu yang sekarang nak?”Anak itu menghentikan memainkan kelereng-kelerengnya, dan  berkata: “Dulu saya selalu berdoa meminta supaya Tuhan segera mengembalikan kelereng yang hilang, karena saya yakin Tuhan mampu menemukannya, tetapi ternyata sampai sekarang kelereng itu tetap hilang. Dan kalau Tuhan tidak bersedia mengembalikannya, maka saya pikir saya harus mengganti isi doa saya.” Dia kemudian menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan perkataannya: ”Sekarang saya berdoa, supaya Tuhan menolong saya untuk dapat melupakannya.” 
Dalam kehidupan yang kita jalani selalu ada hal-hal yang dengan mudah kita dapatkan dan miliki, tetapi ada juga hal-hal yang sulit bahkan tidak dapat kita miliki. Kesungguhan untuk  mengupayakan memiliki apa yang dapat kita miliki adalah semangat yang indah. Membuat kita terus bergerak dan tetap berkarya, tetapi menjadi lemas dan duduk terkulai ketika kita tidak mampu memiliki apa yang kita ingin  miliki bukanlah pilihan bijak dalam hidup kita. 
Mendapatkan apa yang kita inginkan adalah kebahagiaan yang patut kita syukuri, tetapi tidak mendapatkan apa yang kita inginkan juga bukanlah bencana yang perlu kita tangisi terus menerus.
Jika kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita sukai maka mulailah belajar untuk menyukai apa yang sudah kita dapatkan. Hanya dengan cara itulah maka hidup yang kita jalani pada akhirnya akan menjadi serangkaian kebahagiaan. Mendapatkan ataupun tidak mendapatkan itu bukanlah masalah, mengambil ataupun melepaskan juga bukan persoalan. Semua itu hanyalah cara untuk menikmati. Jika kita mengambil maka pertama- tama bukan untuk menambah, dan jika melepas juga bukan berarti kehilangan, karena yang menentukan adalah hati-bagian terdalam dari diri kita. Saat kita memiliki maka kita tidak akan berlebih, dan saat kita melepaskan pun kita tidak akan merugi.
Jadi “ketika kelereng itu tetap hilang”, kita tetap dapat bersyukur dan tetap dapat menjalani hidup dengan indah, karena masih ada banyak kelereng yang kita miliki. Dan ketika jumlah kelereng itu bertambah maka kitapun tidak akan menjadi sombong dan takabur, karena semuanya adalah anugerah.

Seorang anak laki-laki kehilangan salah satu kelereng miliknya, dia terus menghitung dan kembali menghitung. Dan ternyata memang benar jumlahnya tidak lagi sama, kelerengnya berkurang satu butir. Dia berusaha mencari dan menemukan, menanyakan kepada seisi rumah kalau-kalau ada di antara mereka yang tahu. Namun hasilnya adalah: “nihil”, tidak ada satu orangpun yang tahu. 

Anak laki-laki itu mulai berdoa. Dia memohon kepada Tuhan agar dapat menemukan kelerengnya, dia sangat yakin Tuhan akan membantunya. Berhari-hari dia menaikkan doa yang sama. Kondisi demikian awalnya membuat ibunya bangga, memiliki seorang anak yang begitu yakin akan kemahakuasaan Tuhan. Namun lama kelamaan orang-orang rumah mulai khawatir apabila kelerengnya benar-benar hilang dan tidak pernah di temukan, anak itu akan berubah menjadi tidak lagi percaya Tuhan. 

Setiap petang ibunya selalu bertanya, apakah kelereng kesayangannya sudah di temukan. Namun jawabannya selalu sama “belum.” Kecemasan keluarga semakin bertambah, hingga akhirnya mereka mendapatkan jawaban yang mengejutkan dari sang anak. Waktu itu ibunya bertanya: “Nak, apakah kelerengmu sudah ditemukan?” Anak laki-laki itu dengan cepat menjawab: “Belum!”. Mendapatkan jawaban singkat itu ibunya kembali bertanya: “Bagaimana jika seandainya kelerengmu benar-benar hilang dan tidak pernah ditemukan kembali?”  Anak laki-laki  itu segera menjawab: “Ah tidak apa-apa, saya sudah mengubah doa aya kok?” jawabnya ringan.  Ibunya menjadi semakin cemas: “Lalu...bagaimana bunyi doamu yang sekarang nak?”Anak itu menghentikan memainkan kelereng-kelerengnya, dan  berkata: “Dulu saya selalu berdoa meminta supaya Tuhan segera mengembalikan kelereng yang hilang, karena saya yakin Tuhan mampu menemukannya, tetapi ternyata sampai sekarang kelereng itu tetap hilang. Dan kalau Tuhan tidak bersedia mengembalikannya, maka saya pikir saya harus mengganti isi doa saya.” Dia kemudian menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan perkataannya: ”Sekarang saya berdoa, supaya Tuhan menolong saya untuk dapat melupakannya.” 

Dalam kehidupan yang kita jalani selalu ada hal-hal yang dengan mudah kita dapatkan dan miliki, tetapi ada juga hal-hal yang sulit bahkan tidak dapat kita miliki. Kesungguhan untuk  mengupayakan memiliki apa yang dapat kita miliki adalah semangat yang indah. Membuat kita terus bergerak dan tetap berkarya, tetapi menjadi lemas dan duduk terkulai ketika kita tidak mampu memiliki apa yang kita ingin  miliki bukanlah pilihan bijak dalam hidup kita. 

Mendapatkan apa yang kita inginkan adalah kebahagiaan yang patut kita syukuri, tetapi tidak mendapatkan apa yang kita inginkan juga bukanlah bencana yang perlu kita tangisi terus menerus.

Jika kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita sukai maka mulailah belajar untuk menyukai apa yang sudah kita dapatkan. Hanya dengan cara itulah maka hidup yang kita jalani pada akhirnya akan menjadi serangkaian kebahagiaan. Mendapatkan ataupun tidak mendapatkan itu bukanlah masalah, mengambil ataupun melepaskan juga bukan persoalan. Semua itu hanyalah cara untuk menikmati. Jika kita mengambil maka pertama- tama bukan untuk menambah, dan jika melepas juga bukan berarti kehilangan, karena yang menentukan adalah hati-bagian terdalam dari diri kita. Saat kita memiliki maka kita tidak akan berlebih, dan saat kita melepaskan pun kita tidak akan merugi.

Jadi “ketika kelereng itu tetap hilang”, kita tetap dapat bersyukur dan tetap dapat menjalani hidup dengan indah, karena masih ada banyak kelereng yang kita miliki. Dan ketika jumlah kelereng itu bertambah maka kitapun tidak akan menjadi sombong dan takabur, karena semuanya adalah anugerah.

 

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer




Berita IT

© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2017
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13