• PELUANG EMAS UNTUK MENJADI AGEN MAJALAH BAHANA
  • SEKALIGUS PEWARTA KABAR BAIK!
  • ANDA BERMINAT? SILAHKAN HUBUNGI: KANTOR MAJALAH BAHANA:
  • JL. BEO 38-40, YOGYAKARTA 55281
  • TELP. (0274)561881 EXT 113/208

Menjadi Terang dan Garam Dunia

By: Eng Hoe | Vitamin | 25 Jun 2015, 16:29:05 | Dibaca: 4449 kali
Bagaimana cara agar umat Tuhan (orang Kristiani) bisa menjadi terang dan garam di tengah bencana?
Pertama kita harus memahami apa yang dimaksudkan Yesus ketika Ia berkata bahwa murid-murid-Nya adalah garam dan terang. Banyak yang berpikir bahwa melakukan perbuatan baik adalah  strategi kita-orang Kristen untuk memberitakan Injil. Yesus tidak berkata demikian. Dia tidak memanggil kita melakukan pekerjaan-pekerjaan baik sebagai sebuah strategi memberitakan Injil. Ketika Yesus mengatakan bahwa murid-murid-Nya adalah garam dan terang, Dia sedang mengajari murid-murid-Nya sebuah budaya (culture) atau nilai-nilai Kerajaan Allah. Menjadi garam dan terang merupakan refleksi dan ekspresi karakter Allah (nilai-nilai Kerajaan) kepada dunia. Mengapa kita melakukan itu? Karena kita adalah anak-anak Bapa kita di surga. Jadi, mereka yang benar-benar adalah anak-anak-Nya akan mencerminkan karakter-Nya. Ini bukan strategi. Ini hanya menunjukkan  siapa diri kita (sebenarnya) di dunia ini. 
Yesus berkata ketika kita adalah garam dan terang, dua hal yang akan dihasilkan: 1) Kita akan memuliakan Allah (mencerminkan karakter-Nya - orang akan melihat perbuatan baik kita dan memberikan Tuhan kemuliaan) dan 2) Kita akan menjadi pengaruh untuk membawa perubahan dalam masyarakat. Kita akan menjadi agen transformasi Kerajaan Allah bagi kerajaan-Nya [agar bisa nampak dan] datang ke dunia ini. 
Caranya?
Dengan cara bagaimana kita menjadi garam dan terang? Dalam istilah praktis, kita akan menjadi garam dan terang ketika kita seperti orang Samaria yang baik hati - ketika kita mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Kita harus menjadi garam dan terang di mana-mana dan setiap saat, terutama ketika orang-orang di sekitar kita berada dalam keadaan krisis dan membutuhkan. 
Sering saya mendengar orang Kristen mengatakan, " Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Itu bukan panggilan saya. Serahkan saja tanggung jawab tersebut kepada  LSM profesional, mereka (LSM) akan lebih efektif. " Ini tanggapan saya terhadap orang-orang Kristen yang demikian: "Apa yang akan Anda lakukan jika saudara anda sendiri, atau kakak, atau orang tua Anda dikejutkan oleh bencana dan mereka tidak punya rumah, tanpa air, makanan, pakaian, dll, Mereka merana (hancur/terluka) dan berduka. Apakah Anda tega menyerahkan begitu saja saudara, kakak, atau orang tua Anda sendiri kepada LSM?" 
Kasih Allah
Saya kira, kasih Allah yang ada di dalam diri kita akan memaksa kita untuk mengobati mereka yang membutuhkan sebagai keluarga kita sendiri. Orang Samaria yang baik hati tidak hanya memberikan sejumlah uang kepada orang yang membutuhkan. Tetapi ia sendiri turun tangan dan pergi keluar ke jalan merawat orang yang dirampok itu secara pribadi. Itulah yang bisa menyebabkan orang lain melihat dan berkata, "Wow, Anda benar-benar berbeda. Anda tidak melakukan ini demi mendapatkan nama untuk dirimu. Kasih Anda benar-benar asli. Sesungguhnya Tuhanmu besar. " 
Kasih Tanpa Pamrih
Apa yang orang butuhkan bukan hanya tempat tinggal, air, sanitasi, makanan, pekerjaan, dll. Yang dibutuhkan orang ketika hidupmereka telah hancur (terkena bencana) adalah orang-orang untuk menjadi teman sejati mereka (Orang-orang yang bersedia berada bersama-sama dengan mereka). Sebenarnya orang-orang akan tahu kapan kasih Anda asli, dan kapan kasih itu palsu.
Sebagai contoh bagi kita untuk direnungkan, inilah kisah nyata yang pernah saya tahu saat saya memimpin sebuah LSM Kristen. Setelah Tsunami di Samudera Hindia pada tahun 2004, organisasi mereka memberikan kapal untuk nelayan yang kehilangan perahu mereka karena Tsunami. Sebulan kemudian, pemimpin pergi mengunjungi daerah itu untuk memeriksa apakah kapal itu masih ada atau para nelayan sudah menjualnya. Saat ia berdiri di pantai mengambil foto perahu yang mengambang di atas air, ia menyadari rupanya ada seorang nelayan yang berdiri di samping sedang mengamatinya. Saat ia berpaling kepada nelayan tersebut, nelayan itu berkata kepadanya, "Aku tahu kenapa Anda memberi kami perahu, tetapi Anda tidak memberi kami jaring penangkap ikan."
Pemimpin itu sedikit terkejut, jadi ia bertanya kepada nelayan itu, "Kenapa?" Nelayan itu menjawab, "Karena Anda dapat menempatkan nama organisasi Anda di atas perahu, tetapi Anda tidak bisa menempatkan nama organisasi Anda di atas jaring."
***

1. Bagaimana cara agar umat Tuhan (orang Kristiani) bisa menjadi terang dan garam di tengah bencana?

Pertama kita harus memahami apa yang dimaksudkan Yesus ketika Ia berkata bahwa murid-murid-Nya adalah garam dan terang. Banyak yang berpikir bahwa melakukan perbuatan baik adalah  strategi kita-orang Kristen untuk memberitakan Injil. Yesus tidak berkata demikian. Dia tidak memanggil kita melakukan pekerjaan-pekerjaan baik sebagai sebuah strategi memberitakan Injil. Ketika Yesus mengatakan bahwa murid-murid-Nya adalah garam dan terang, Dia sedang mengajari murid-murid-Nya sebuah budaya (culture) atau nilai-nilai Kerajaan Allah. Menjadi garam dan terang merupakan refleksi dan ekspresi karakter Allah (nilai-nilai Kerajaan) kepada dunia. Mengapa kita melakukan itu? Karena kita adalah anak-anak Bapa kita di surga. Jadi, mereka yang benar-benar adalah anak-anak-Nya akan mencerminkan karakter-Nya. Ini bukan strategi. Ini hanya menunjukkan  siapa diri kita (sebenarnya) di dunia ini. 

Yesus berkata ketika kita adalah garam dan terang, dua hal yang akan dihasilkan: 1) Kita akan memuliakan Allah (mencerminkan karakter-Nya - orang akan melihat perbuatan baik kita dan memberikan Tuhan kemuliaan) dan 2) Kita akan menjadi pengaruh untuk membawa perubahan dalam masyarakat. Kita akan menjadi agen transformasi Kerajaan Allah bagi kerajaan-Nya [agar bisa nampak dan] datang ke dunia ini. 

Caranya?

Dengan cara bagaimana kita menjadi garam dan terang? Dalam istilah praktis, kita akan menjadi garam dan terang ketika kita seperti orang Samaria yang baik hati - ketika kita mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Kita harus menjadi garam dan terang di mana-mana dan setiap saat, terutama ketika orang-orang di sekitar kita berada dalam keadaan krisis dan membutuhkan. 

Sering saya mendengar orang Kristen mengatakan, " Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Itu bukan panggilan saya. Serahkan saja tanggung jawab tersebut kepada  LSM profesional, mereka (LSM) akan lebih efektif. " Ini tanggapan saya terhadap orang-orang Kristen yang demikian: "Apa yang akan Anda lakukan jika saudara anda sendiri, atau kakak, atau orang tua Anda dikejutkan oleh bencana dan mereka tidak punya rumah, tanpa air, makanan, pakaian, dll, Mereka merana (hancur/terluka) dan berduka. Apakah Anda tega menyerahkan begitu saja saudara, kakak, atau orang tua Anda sendiri kepada LSM?" 

Kasih Sejati

Saya kira, kasih Allah yang ada di dalam diri kita akan memaksa kita untuk mengobati mereka yang membutuhkan sebagai keluarga kita sendiri. Orang Samaria yang baik hati tidak hanya memberikan sejumlah uang kepada orang yang membutuhkan. Tetapi ia sendiri turun tangan dan pergi keluar ke jalan merawat orang yang dirampok itu secara pribadi. Itulah yang bisa menyebabkan orang lain melihat dan berkata, "Wow, Anda benar-benar berbeda. Anda tidak melakukan ini demi mendapatkan nama untuk dirimu. Kasih Anda benar-benar asli. Sesungguhnya Tuhanmu besar. " 

Teman Sejati

Apa yang orang butuhkan bukan hanya tempat tinggal, air, sanitasi, makanan, pekerjaan, dll. Yang dibutuhkan orang ketika hidupmereka telah hancur (terkena bencana) adalah orang-orang untuk menjadi teman sejati mereka (Orang-orang yang bersedia berada bersama-sama dengan mereka). Sebenarnya orang-orang akan tahu kapan kasih Anda asli, dan kapan kasih itu palsu.

Sebagai contoh bagi kita untuk direnungkan, inilah kisah nyata yang pernah saya tahu saat saya memimpin sebuah LSM Kristen. Setelah Tsunami di Samudera Hindia pada tahun 2004, organisasi mereka memberikan kapal untuk nelayan yang kehilangan perahu mereka karena Tsunami. Sebulan kemudian, pemimpin pergi mengunjungi daerah itu untuk memeriksa apakah kapal itu masih ada atau para nelayan sudah menjualnya. Saat ia berdiri di pantai mengambil foto perahu yang mengambang di atas air, ia menyadari rupanya ada seorang nelayan yang berdiri di samping sedang mengamatinya. Saat ia berpaling kepada nelayan tersebut, nelayan itu berkata kepadanya, "Aku tahu kenapa Anda memberi kami perahu, tetapi Anda tidak memberi kami jaring penangkap ikan."

Pemimpin itu sedikit terkejut, jadi ia bertanya kepada nelayan itu, "Kenapa?" Nelayan itu menjawab, "Karena Anda dapat menempatkan nama organisasi Anda di atas perahu, tetapi Anda tidak bisa menempatkan nama organisasi Anda di atas jaring."

2. Apakah ada ayat firman Tuhan yang menyatakan secara khusus terkait bencana dan apa yang harus dilakukan orang Kristen? 

Dalam Matius 24 Yesus berbicara tentang gempa bumi, perang, bencana akibat cuaca, dan kelaparan. Semua krisis, termasuk krisis ekonomi, akan menghasilkan kebutuhan manusia. Apa yang akan orang-orang Kristen lakukan sebagai respon terhadap kebutuhan tersebut? Jawabannya adalah di Matius 25. Beberapa orang akan bangun, namun sebagian lagi akan terus tidur. Beberapa akan pergi dan mengasihi, seperti domba, namun sebagian lagi akan menutup hati mereka terhadap siapa pun yang membutuhkan, seperti kambing.

Beberapa orang akan menggunakan bakat mereka untuk membangun kembali kehidupan dan masyarakat, seperti hamba yang setia, tetapi beberapa orang juga akan mengubur bakat mereka di dalam tanah, seperti hamba yang jahat.

3. Mengapa banyak bencana Tuhan ijinkan terjadi di negeri ini? Apakah ada maksud Tuhan?

Yesus berkata segala macam krisis akan terjadi di seluruh dunia sebelum Dia datang kembali. Bukan hanya Indonesia. Ini adalah bagian dari awal sakit bersalin sebelum "bayi" - Kerajaan Allah dalam kepenuhannya - dilahirkan. Semakin dekat kepada kedatangan Kristus, akan semakin besar (sering) kita mengalami intensitas nyeri dan pendek interval antara masing-masing "kontraksi".

Jika kita memahami Alkitab, maka kita akan tahu bahwa Allah memakai rasa sakit dan penderitaan untuk membangunkan orang-orang dan untuk menguji dan memurnikan dan membentuk mereka menjadi semakin menyerupai Dia (Roma 8 :16-29).

Di Ibrani 12, kita tahu bahwa Allah memberi ajaran kepada orang yang Ia kasihi. Jadi, penderitaan mungkin benar-benar menjadi bukti kasih-Nya -Keinginannya untuk menyucikan kita dan membentuk kita menjadi seperti Dia. Hanya menggunakan ujianlah, kita jadi mengerti terbuat dari apakah sesuatu itu. Tanpa diuji, apa yang sebenarnya ada di dalam diri seseorang tidak akan nampak, hal tersebut akan tetap tersembunyi. 

Orang-orang yang miskin akan selalu menjadi ujian bagi orang yang kaya, mereka yang membutuhkan akan menjadi tes (ujian) bagi mereka yang memiliki harta. Saya percaya Tuhan sedang menguji umat-Nya di Indonesia. Dia ingin membentuk umat-Nya untuk menjadi seperti Dia. Saya tidak mengatakan bahwa itu adalah kasus untuk semua penderitaan atau semua bencana (lihat jawaban ke pertanyaan 4 di bawah). Tapi untuk Indonesia saya yakin bahwa itu adalah apa yang Tuhan sedang lakukan.

Jadi, pertanyaan untuk Anda yang ada di Indonesia adalah, "Bagaimana kita menanggapi apa yang sedang terjadi di bangsa kita? Apa yang akan kita lakukan untuk menanggapi semua krisis yang terjadi di sekitar kita? Apakah kita peka terhadap kebutuhan orang-orang yang sedang mengalami krisis?" Seluruh ciptaan menunggu dengan sangat rindu akan saatnya Allah menyatakan anak-anak-Nya (Roma 8 :19-20). 

Apa yang orang lain lihat ketika mereka melihat gereja? "Apakah kita-anak-anak Tuhan sudah seperti orang Samaria yang baik? Atau kita malah seperti imam dan orang Lewi yang lewat begitu saja di sisi lain tanpa peduli? Apakah kita sudah seperti domba, yang semakin menyerupai Gembala Agung kita –Yesus Kristus? Atau kita malah seperti kambing, menutup mata (membuta) terhadap kebutuhan orang lain sembari mengeraskan hati kita? Apakah kita telah menggunakan talenta kita yang Tuhan berikan untuk kepentingan (kebutuhan) orang lain, seperti hamba yang setia? Atau kita malah mengubur bakat kita seperti hamba yang jahat?

4. Apakah benar bencana yang terjadi itu karena murka dari Tuhan?

Jawaban untuk pertanyaan ini tidak sederhana. Ada beberapa kemungkinan. Kita seharusnya tidak menjadi seperti teman-teman Ayub yang langsung melompat ke kesimpulan. Mereka yakin bahwa Ayub menderita karena dosa-dosanya. Orang-orang seperti itu cepat menyimpulkan bahwa semua bencana adalah murka Allah terhadap dosa. Tetapi Yesus menjelaskan bahwa ketika bencana menyerang orang, itu tidak berarti bahwa orang-orang di sana lebih berdosa daripada yang lain (lihat Luk.13:1-5 dan Yoh. (Jn?) 9 :1 – 3 juga Matius 5:45). Banyak juga bencana yang terjadi karena ulah  manusia. Pemanasan global, polusi industri dan kerusakan hutan yang mempengaruhi lebih dari 1 milyar orang dan menyebabkan ratusan ribu orang harus mengungsi atau menjadi tunawisma setiap tahun. Terlepas dari itu, di Roma 8:19 – 22 , Paulus mengatakan bahwa dari awal waktu, bumi memang  sedang berada di jalan menuju kerusakan dan kehancuran akhir. Gempa bumi yang terjadi hampir di sepanjang waktu, banyak terjadi di tempat-tempat yang tak berpenghuni. Penelitian terbaru dari para ilmuwan hanya mengkonfirmasikan apa yang pernah dikatakan oleh Rasul Paulus 2000 tahun yang lalu.

Meskipun Yesus sendiri memperingatkan kita agar tidak terlalu menyederhanakan kesimpulan, tetapi jelas juga dari Alkitab bahwa ada kalanya Allah mengijinkan bencana terjadi pada masyarakat sebagai hukuman atas dosa mereka. Ketika manusia berdosa, dosa-dosa tersebut membawa kutukan dan berpotensi untuk dua hal terjadi pada saat yang sama:  1) Membuat tanah terjajah dan diduduki oleh musuh sehingga musuh dapat membunuh, mencuri, dan menghancurkan, 2) dan membawa pada penghakiman Allah. Baca Mazmur.78:49, Efesus 4:27, Yehezkiel 14 :12 – 20, Ulangan 28 :15-68, Yeremia 4:16 – 18, Imamat 26:14 – 39, Amos3:6, Kejadian 6 :5-13. Banjir, Sodom dan Gomora, dan tulah di Mesir dalam kitab Keluaran adalah contohnya.

Apakah itu adalah murka Allah, atau Tuhan secara tidak langsung mengijinkan bencana terjadi, Allah selalu bisa menggunakan bencana tersebut sebagai sarana untuk membawa orang-orang yang bertahan hidup agar bersedia bertobat (2Tawarikh 7:13-14, Imamat 26:14 – 45, 2 Petrus 3:9, Yesaya 26:5). Allah menggunakan Persia dan tentara Babel pada Israel, gunanya tidak hanya menghukum, tetapi juga untuk membersihkan Israel dan mendapatkan sisa yang akan mengubah hati mereka kepada-Nya (Isa.6 :9-13). Biasanya ketika segala sesuatu berjalan dengan baik atau lancar, banyak orang menjadi kehilangan kerinduan akan Tuhan. Tidak ada kelaparan rohani. Rata-rata orang yang mulai merasa nyaman (berkecukupan secara materi) serta mandiri (self-Sufficient), mereka berusaha hidup tanpa Tuhan. Di Seluruh lapisan masyarakat maupun Negara, agama, politik, budaya, sosial, serta ekonomi  adalah alat yang memungkinkan orang dapat bertahan serta berkembang tanpa Tuhan. Agama, politik dan lain-lain dianggap hal yang paling penting dalam bermasyarakat bukan Tuhannya. Semua bagian itu adalah cara supaya orang berpikir bahwa mereka tidak membutuhkan Tuhan. 

Ketika bencana menyerang, struktur ini (agama, politik, budaya, sosial, dan ekonomi) pecah dan dibongkar. Sistem kepercayaan dan pondasi orang terguncang atau hancur. Orang-orang dipaksa bertelud. Mereka tidak bisa lagi bergantung atau mengandalkan struktur duniawi. Ada pepatah berkata, “Dalam gempa bumi tidak ada orang-orang kafir.” Tuhan tidak pernah menginginkan manusia binasa, tetapi mungkin saja ada kalanya –dalam hikmat dan rahmat-Nya, Allah mengungkapkan murka-Nya melalui bentuk bencana alam. Jika tidak demikian bisa saja masyarakat dari generasi datang kepada generasi akan senantiasa tinggal dalam kebutaan dan perbudakan dosa sampai mati. 

Saya percaya bahwa krisis akhir zaman dan bencana yang dinubuatkan oleh Yesus dalam Matius 24 akan memiliki efek yang sama seperti Babilonia dan Persia. Pengasingan akan menghasilkan sisa-sisa di bumi –orang-orang yang murni hatinya yang akan kembali kepada-Nya dan yang dikuduskan (Maleakhi 3: 2 – 4). Tuhan menggunakan krisis dan bencana untuk menghancurkan segala sesuatu yang berasal dari ‘buatan’ tangan manusia sehingga apa yang hanya dari Dia sajalah yang akan diingat (tinggal tetap, tidak tergoncangkan) (Ibrani 12:26, Wahyu 11:15). 

Hal ini juga harus diingat bahwa ketika Yesus bernubuat di Mat.24:14, bahwa "Injil Kerajaan ini akan diberitakan kepada semua bangsa sebagai saksi dan kemudian kesudahannya baru akan datang", Yesus mengatakan ini dalam konteks krisis dan bencana. Saya percaya bahwa Tuhan akan mengirim atau mengijinkan bencana di akhir zaman, untuk mendorong bangsa-bangsa dan banyak orang ke pojok kehidupan, sehingga mereka akhirnya akan mencari Tuhan (Maaf, pak Eng Hoe: saya sedikit kesulitan membahasakan ini ke bahasa Indonesia).

Ada beberapa orang yang pada peristiwa tsunami Aceh berseru kepada Yesus untuk menyelamatkan mereka karena mereka melihat gelombang besar datang. Sesungguhnya, takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan (Amsal 9: 10). Di akhir zaman, meskipun akan ada banyak orang yang mengeraskan hati mereka (Wahyu 9 :20-21, 16:9-11), tetapi akan ada juga orang-orang yang takut akan Tuhan dan berpaling kepada-Nya (Kisah Para Rasul 2:19 -21).Ketika mendekati akhir dunia ini, Allah akan menarik tangan kemurahan dan anugerah-Nya. Hal itu akan membuat kita bertanggung jawab penuh terhadap pilihan kita. Dia akan jatuhkan pengadilan-Nya untuk setiap pilihan yang kita ambil. Saya percaya, kita mendekati akhir dan kita sudah mulai melihat itu terjadi. Kita akan melihat semakin banyaknya kerusakan dan runtuhnya segala sesuatu yang Tuhan tidak bangun. Setiap sistem buatan manusia dan institusi akan runtuh. Setiap kerajaan akan jatuh. Segala sesuatu akan terekspos apa adanya.  

Allah akan menyingkirkan tangan-Nya yang telah menahan segala sesuatu (agar tidak goncang) lalu akan menggoyangkan semuanya yang bisa Ia guncang, sehingga hanya apa yang tidak bisa terguncang –apa yang Dia buat dan apa yang Dia bangun sajalah yang akan tinggal tetap (Ibrani 12: 27). Pada akhirnya, hanya kerajaan-Nya akan tetap (Why 11: 15). Dalam proses ini, mudah-mudahan saja orang-orang akan terbangun dan berbalik kepada Tuhan. Ini termasuk juga orang-orang yang mengaku sebagai orang percaya (2 Petrus 3).

Kita harus mengerti jelas mengenai ini meskipun –apakah itu gempa bumi yang disebabkan oleh usia  bumi yang semakin tua, atau merupakan bencana karena ulah manusia, atau bencana yang secara tidak langsung Allah ijinkan terjadi, atau dimana Dia langsung menyerang orang dan wilayah geografis. Dalam segala situasi Allah berdaulat, Dialah yang memegang kendali. Yesus berkata sangat jelas bahwa tidak ada yang terjadi tanpa ijin (kehendak) dari Allah (Mat.10: 29). Lihat juga Yesaya .54: 16, Amos 3:6, Yesaya 45:7, Amsal 16: 4. Dia bekerja tidak keluar dari rencana-Nya dan sesuai dengan kehendak-Nya melalui segala sesuatu yang terjadi (Efesus.1: 11).

JAWABAN oleh. Eng Hoe di Malaysia untuk Redaksi BAHANA.

Eng Hoe telah menikah, memiliki 3 anak yang telah dewasa. Ia adalah seorang Barrister at Law, dari Lincoln Inn dan pernah praktik sebagai advokat dan pengacara di Malaysia selama 10 tahun. Ia  meninggalkan praktik hukumnya tersebut pada tahun 1994 dan merintis pelayanan penanggulangan krisis, pelatihan, dan memimpin tim dari Malaysia dan Singapura ke situasi krisis di banyak negara termasuk Afghanistan, Bangladesh, Pakistan, Kosovo, Honduras, Turki, India, Indonesia, Kamboja, pengungsi Karen bersama perbatasan Burma-Thailand, dll.

Eng Hoe kini memberikan pelatihan kepemimpinan, tanggap krisis, dan transformasi masyarakat berdasarkan perspektif Kerajaan Allah. Pelatihan ini diberikan kepada gembala, para pemimpin, dan orang-orang yang bekerja di antara orang miskin di berbagai negara, terutama di Asia. Saat ini ia adalah seorang rekan dari Mitra International, sebuah lembaga berbasis di AS, dan seorang rekan dari Kemitraan Starfish International.

 

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer




Berita IT

© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2017
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13