• PELUANG EMAS UNTUK MENJADI AGEN MAJALAH BAHANA
  • SEKALIGUS PEWARTA KABAR BAIK!
  • ANDA BERMINAT? SILAHKAN HUBUNGI: KANTOR MAJALAH BAHANA:
  • JL. BEO 38-40, YOGYAKARTA 55281
  • TELP. (0274)561881 EXT 113/208

Alam Memoles Flores - Lukisan Pagi di Kaki Gunung

By: Anestasia Briliyanti | Inspirasi | 11 Aug 2010, 09:16:00 | Dibaca: 4333 kali

Selamat malam para penumpang kapal Sirimau. Saat ini Anda sudah sampai di Pelabuhan Larantuka.

Begitu kira-kira seorang kru kapal mengumumkan. Spontan saya meloncat kegirangan. Perjalanan menuju Flores Timur kali ini saya lewati dengan kapal laut dari Tanjung Mas, Semarang, Jawa Tengah. Tiga hari tiga malam, kapal besar Sirimau membawa saya bersama tiga ribu orang dengan rute perjalanan yang cukup mencengangkan.

Waktu memang tak memburu perjalanan kami. Maka wajar jika perjalanan dengan kapal laut menjadi pilihan kami. Selain alasan ekonomis. Lagipula, saya belum pernah melakukan perjalanan dengan kapal ini.

Kabupaten Flores Timur memiliki tiga kecamatan di tiga pulau terpisah, yaitu Larantuka sebagai ibu kota kabupaten, Adonara, dan Solor. Larantuka sebagai ibu kota kabupaten memiliki pelabuhan sebagai pusat aktivitas masyarakat. Siang malam pelabuhan ini tidak pernah sepi dengan pedagang, awak kapal, dan ramainya masyarakat. Banyak kapal berlabuh di sini, termasuk kapal- kapal kecil antar pulau, kapal patroli laut, kapal barang, kapal ikan, dan Sirimau. Tidak lupa, bila ada event–event berskala internasional, kapal- kapal asing pun sering berlabuh di pelabuhan ini.

Air lautnya masih sangat jernih, bahkan di dermaga pelabuhan. Sangat bening sampai kita bisa melihat dasar lautnya yang ternyata tidak terlalu dalam. Jangan heran jika kita menyeberang antar pulau, bisa melihat ikan terbang, dan melihat pusaran air yang dihindari oleh kapal-kapal. Pusaran air ini bisa membuat kapal berputar-putar, hanya di lokasi itu saja.

Di Flores saya menginap di rumah teman saya, di atas bukit, tepat di bawah kaki Gunung Ile Mandiri. Ketika pagi tiba, saya terbangun dan menuju teras rumah. Lukisan alam membentang luas. Di seberang sana, di lautan nan indah, berderet pulau-pulau besar. Pulau Adonara, Pulau Solor, dan Pulau Lembata. Banyak Ikan Paus di laut sekitar pulau ini.

Tidak sabar, dengan hal-hal seru lainnya, bergegas saya mandi dan memulai petualangan mulai hari ini…

Danau Asmara
Dengan jarak tempuh sekitar 50 km dari kota Larantuka, Danau Asmara sebagai salah satu daya tarik wisata di sebelah timur kepulauan Flores memiliki keindahan dan cerita tersendiri. Danau itu sebelumnya dikenal dengan Danau Waibelen. Namun, tahun 1975 berganti menjadi Danau Asmara karena pada tahun yang sama, satu pasangan kekasih bunuh diri ke danau tersebut lantaran tidak direstui orangtua dan keluarga.

Sedikit perjuangan untuk menuju danau itu. Akses jalan kecil, sempit, berbatu-batu, terjal, dan berdebu. Tapi hal ini cukup terobati dengan pemandangan laut dan pantai di sepanjang perjalanan. Pantai biru, airnya sangat jernih. Di sisi kanan dan kiri sejauh mata memandang hanya birunya laut, juga deretan pulau- pulau di seberang lautan.

Memakan Bolomu?
Hampir semua jenis kue basah di Larantuka Flores Timur disebut bolo, dari kata bolu. Padahal kalau bolo di daerah tempat saya tinggal, artinya adalah teman. Suatu ketika teman dari Larantuka bertanya pada saya. “Kamu mau makan bolo?” Mulanya saya takut, tapi ternyata dia ajak saya untuk makan beberapa potong bolo coklat. Tapi bolo sebenarnya bukan menjadi penganan khas daerah Larantuka. Ada beberapa penganan khas dari daerah sini yaitu kue rambut (bolo kekera) dan jagung titi. Kue rambut sendiri terbuat dari tepung beras, santan, telur, dan gula. Disebut kue rambut karena pada saat proses pembuatannya dibentuk seperti rambut-rambut yang panjang, kemudian dilipat sesuai dengan selera. Lain lagi dengan jagung titi, proses pembuatannya hampir sama seperti pembuatan popcorn, tapi setelah itu ditumbuk (dititi ; bahasa flores) sampai berbentuk seperti lempengan- lempengan kecil, kemudian dimakan bersama kacang tanah yang digoreng tanpa minyak. Jagung titi lebih gurih jika dalam proses membuatnya ditambahkan dengan mentega.

Potensi Alam dan Kreativitas Lokal
Salah satu penghasil kacang mete terbesar di Indonesia adalah Nusa Tenggara Timur. Di Pulau Larantuka sendiri, sebagian penduduknya bekerja sebagai petani kacang mete. Seperti salah satu desa di pulau ini yaitu Desa Tanjung Bunga. Seluruh penduduknya rata-rata bekerja sebagai petani kacang mete. Hasil panen mereka jual dalam jumlah besar sampai hitungan ton.

Meski demikian, mereka tidak mengonsumsinya. Penduduk beralasan, jika kacang mete ini dibakar untuk proses pengelupasan kulit luar, maka ayam-ayam peliharaan akan mati kalau menghirup asap atau uap dari kacang mete. Harga mentah dari kacang mete ini juga cukup membuat saya kaget, harga pada saat musim panen, rata- rata berkisar Rp.4.000 – Rp.10.000.

Selain itu, Flores juga memiliki kain tradisional, yakni kwatek. Kain tenun tradisional ini terbuat dari kapas pilihan. Kain ini digunakan masyarakat asli daerah untuk acara-acara tradisi besar. Acara pernikahan, pesta adat, dan pesta panen. Bahan pewarna kain didapat dari akar tanaman tarum yang didapat di daerah perbukitan dan pegunungan, dengan keberagaman warna-warna mencolok seperti merah, oranye, kuning, dan cokelat.

Dengan proses pembuatan yang cukup rumit, satu lembar kain tenun biasanya dihargai mulai harga Rp.500.000,- sampai jutaan rupiah. Selain untuk pesta-pesta rakyat, kain ini bisa dijadikan suvenir untuk teman dan kerabat.

Banyak sekali kenangan di Flores. Betah saya di sana. Tapi pekerjaan menantiku di Pulau Jawa. Juga kapal itu. Yang akan membawaku melewati gelombang air.

Sumber: Majalah Bahana, Agustus 2010

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer




Berita IT

© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2017
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13