• PELUANG EMAS UNTUK MENJADI AGEN MAJALAH BAHANA
  • SEKALIGUS PEWARTA KABAR BAIK!
  • ANDA BERMINAT? SILAHKAN HUBUNGI: KANTOR MAJALAH BAHANA:
  • JL. BEO 38-40, YOGYAKARTA 55281
  • TELP. (0274)561881 EXT 113/208

Merchandise Berbahan Karet Meraup Untung

By: Abednego Afriadi/Luci | Inspirasi | 05 Aug 2010, 09:16:16 | Dibaca: 2959 kali

Sekilas produknya sederhana. Namun dari usaha ini Nathanael Abe Rendrata dapat meraup omset puluhan juta rupiah. Semua tidaklah instan, banyak sekali pengorbanan yang ditaruhkan.

Usaha ini diawali ketika Nathanael Abe Rendrata (29) ingin mencari usaha sampingan selain bekerja di sebuah percetakan milik pamannya. Sang pacar, Maria Lawrencia Ida Ratnawati yang sekarang menjadi istrinya menyarankan supaya usaha sampingan tersebut dapat dikerjakan di rumah jika mereka sudah menikah. “Lalu kami coba merchandise. Awalnya kami kulakan di tempat lain. Waktu itu teman badminton bisa suplai gantungan kunci berbahan karet,” katanya. Tak lama order datang dari teman istrinya yang akan menikah. Abe menawarkan gantungan kunci untuk suvenir.

Tantangan pasar pun mulai terasa karena usaha seperti ini sudah terlanjur melekat di salah satu usaha merchandise terkenal di Yogjakarta. Warga Jatimulyo, Yogyakarta ini tidak menyerah. Tak henti-hentinya ia menawarkan order. Abe juga mengembara ke luar kota untuk mencari tempat belajar memproduksi sendiri barang baku tersebut. Utamanya rubber logo untuk sarung tangan golf dan garmen. Akhirnya Abe mencari di Bandung, dan Jakarta. Abe berhasil mendapat informasinya. “Tapi hasilnya jelek,” kata bapak dari Patricia Belinda Rendrata ini. Sampai pada akhirnya ia harus rela merogoh puluhan juta rupiah untuk mendapatkan informasi detail proses produksinya. Setelah ditimbang-timbang, ia nekat meminjam uang mertua untuk membeli ilmu tersebut. “Mereka saya suruh datang ke Jogja. Waktu itu dia bawa bahan jadi karet yang siap langsung diproses menjadi barang.”

FORMULA AMPUH
Abe mulai produksi di kamar seluas 9 m2 rumah orangtuanya Tiga dari warga sekitar direkrut jadi karyawan. “Saya datangi teman tempat mencari bahan baku untuk minta order. Kurang lebih satu tahun pertama produksi berjalan lambat. Pengeluaran untuk membayar pegawai dan income tidak seimbang.”

Meski demikian Abe terus investasi modal. Dua tiga bulan kemudian ia kesulitan mencari bahan baku. “Saya terus mencari info tentang bahan baku lagi. Ternyata saya harus impor dari Taiwan, dan Korea untuk bahan yang bagus kualitasnya. Saya juga dibantu relasi di Jakarta yang bisa melancarkan proses impor ini.”

Abe mulai memproduksi sendiri bahannya. Dengan formulasi yang sudah dikuasai, ia memodifikasi produk tersebut sesuai standard. Lalu mulai masuk ke segmen pabrik. “Saya dipercaya oleh salah satu pabrik sarung tangan berpasar lokal. Dari tes yang lakukan terhadap bahan kami, mereka cocok. Mereka setuju kemudian saya mulai produksi.”

UTAMAKAN KUALITAS
Klien demi klien pun bertambah. Home industri yang diberinya nama Berkat Jaya Sejahtera itu pun kemudian menambah karyawan. “Saya tanamkan prinsip kualitas. Ada cacat sedikit harus ditinggal. Bagi saya rugi tidak masalah demi menjaga kepercayaan klien,” kata umat Paroki Bintaran Yogyakarta ini.

Abe investasi lagi mesin yang lebih modern dengan kerja yang cepat dan rapi, seharga Rp. 20 juta untuk satu unit mesin. Order untuk sarung tangan dan tas pun datang. Abe menambah karyawan hingga 15 orang. Klien pun semakin luas, hingga ke luar Pulau Jawa. Salah satunya dari Bali, yakni manajer band Superman is Dead yang minta dibuatkan merchandise untuk band tersebut. Menyusul klien dari Aceh, pabrik tambang batubara di Kalimantan, Surabaya, Jakarta, dan Solo. Kami juga pernah memenangkan tender untuk pembuatan jas hujan. Padahal waktu itu ada perusahaan karet dari Semarang dan Tangerang yang sangat terkenal,” katanya. “Saya sungguh merasakan Tuhan itu bekerja luar biasa. Padahal harga saya lebih mahal, pertama mengajukan sampel ditolak, kemudian saya usahakan cari bahan lain. Akhirnya bisa mendapatkan yang sesuai.“

Sekarang Abe memiliki 26 karyawan tetap. Omset dari usahanya ini, Abe menerima sekitar Rp. 20-50 juta perbulan kotor. Meski demikian, Abe masih bergumul untuk penerapan sistem akuntansi yang maksimal. Bukan tak lain karena order masih naik turun. Harga barang juga berdasarkan order. Provitnya pun naik turun..

Sumber: Majalah Bahana, Agustus 2010

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer




Berita IT

© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2017
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13