• PELUANG EMAS UNTUK MENJADI AGEN MAJALAH BAHANA
  • SEKALIGUS PEWARTA KABAR BAIK!
  • ANDA BERMINAT? SILAHKAN HUBUNGI: KANTOR MAJALAH BAHANA:
  • JL. BEO 38-40, YOGYAKARTA 55281
  • TELP. (0274)561881 EXT 113/208

Pastoral Membereskan Pikiran yang Kalut dan Buntu

By: Zega | Inspirasi | 02 Aug 2010, 14:11:50 | Dibaca: 3756 kali

Prof. Dr. Mesach Krisetya tidak membantah derasnya tantangan zaman. Dalam masyarakat kita, terdapat jurang yang dalam antara yang kaya dan yang miskin. Banyak orang berpikir kok bisa seperti itu ya. Hidup mereka kelihatan lebih enak. Saya telah banting tulang demikian keras, namun belum mendapat apa-apa.

Biasanya orang yang tak tahan uji ketika melihat ada orang yang kekayaan/kemampuan lebih di atasnya dan dia tidak mampu mencapai seperti itu, akhirnya putus asa. Lalu, langkah selanjutnya ialah bunuh diri. Bagaimana mengatasinya? Pdt. Prof. Dr. Mesach Krisetya mengatakan dalam kondisi demikian diperlukan kecerdasan. Kecerdasan itu bernama kecerdasan tahan uji (Adversity Quotient). Di zaman ini, kecerdasan seperti ini jarang

ditemukan. Semua orang lebih cenderung ke hedonis. Semua minta gampang. Minta instan.

IBARAT NAIK GUNUNG
Bagi Prof. Mesach, orang hidup ibarat naik gunung. Ketika masih di bawah, orang kerap berkata, “Wah...gunungnya terlalu tinggi. Di sini sajalah. Inilah sebagian orang yang menyerah sebelum berjuang, dalam bahasa Paul S. disebut the quitter. Lalu, nrima (menerima, red), tetap tinggal di bawah.

Akan tetapi, di sisi lain ada pula orang yang berkata, “Ah...mari kita coba naik,” di tengah-tengah pendakian tidak kuat lalu berhenti dan mendirikan tenda. Disebut The Campers. Inilah gambaran orang yang putus di tengah jalan. Tidak pernah mencapai puncaknya. Di samping itu, ada pula orang-orang yang berkata, “Bagaimana sih tinggal sedikit lagi, ayo kita teruskan perjalanan.” Inilah gambaran orang yang tekun. Akhirnya mencapai puncak. The Climbers.

Nah, yang di puncak inilah yang jarang. Banyak orang menyerah sebelum bertempur. Mereka yang menyerah, ada kalanya berakhir dengan bunuh diri. Metode yang paling gampang untuk mengatasinya adalah bertekun. Rasul Paulus menuliskannya kepada jemaat di Roma. Roma 5: 3-5 menuliskan dengan sangat jelas.

Kalau ditanya apa peran pastoral? Dalam kondisi ini pastoral meyakinkan umat bahwa ada pengharapan di dalam Tuhan. Selain itu, pastoral dapat mencerahkan agar kebuntuan yang ada dapat diatasi. Pastoral ini berfungsi membereskan pikiran yang kalut, buntu, dan sejenisnya.

Sumber: Majalah Bahana, Agustus 2010

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer




Berita IT

© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2017
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13