• PELUANG EMAS UNTUK MENJADI AGEN MAJALAH BAHANA
  • SEKALIGUS PEWARTA KABAR BAIK!
  • ANDA BERMINAT? SILAHKAN HUBUNGI: KANTOR MAJALAH BAHANA:
  • JL. BEO 38-40, YOGYAKARTA 55281
  • TELP. (0274)561881 EXT 113/208

Iman Harus Teruji

By: Pst. Jeremy Liem | Vitamin | 12 May 2010, 13:26:08 | Dibaca: 2617 kali

Kekristenan tidak dapat dilepaskan dari sosok Yesus Kristus. Karena tanpa-Nya, Kristen tidak mungkin ada. Lewat sosok Yesus, kekristenan memperoleh bentuk. Baik dalam proses mencapai tujuan maupun tujuan itu sendiri.

Sejak manifestasi Allah ke dunia dalam sosok Yesus, Kristen mendapat tantangan. Sepanjang zaman, tantangan itu akan berlangsung. Bukan hanya pada kekristenan semata, tetapi menohok juga pada Yesus sebagai sentral kekristenan.

Identitas Yesus memang kontroversial bagi pihak-pihak di luar Kristen. Bahkan pada taraf dan kondisi tertentu iman Kristen kerap “tersandung” dengan status tersebut. Status Allah yang juga manusia atau manusia yang juga Allah yang dinilai membingungkan.

Berbagai upaya merasionalkannya disampaikan ke tengah khalayak dengan berbagai teori. Mereka mencoba mengukur Tuhan dengan konsep sendiri. Upaya menginterpretasikan Yesus dengan konteks yang diyakini, kerap berbenturan dengan iman. Tidak sedikit yang mengeroposinya dengan dalih yang sekilas benar.

Pengalaman Rohani
Karena itu pemahaman akan Yesus harus berbarengan dengan pengalaman rohani. Pengalaman berjumpa dengan Kristus. Kalau memahami Yesus hanya pada tataran konsep maka sosok Yesus hanya menjadi sesuatu yang di awang-awang. Ini sangat berbahaya. Ibarat masakan enak. Kita tidak bisa mengatakan makanan enak tanpa merasakannya lebih dulu.

Bagaimana mengalami perjumpaan rohani? Rasanya tidak terlalu sulit. Karena Yesus hadir di tengah manusia. Hanya karena kepicikan hidup dan masalah, manusia kerap tidak melihat kemuliaan Allah. Yohanes, murid yang

dikasihi Yesus mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran,” (Yoh. 1:14).

Ini pula yang dirasakan para martir dalam menghadapi kematiannya. Mereka tidak gentar menjadi saksi Kristus. Pengalaman rohani berjumpa dengan Kristus telah menjadi bekal yang tak tergoyahkan bagi mereka.

Kutak-kutik ketuhanan Yesus ini tidak akan sepi bahkan hilang. Akan terjadi terus-menerus. Seiring sejalan dengan budaya dan pola pikir modern. Ilmu pengetahuan juga mencoba merasionalkan ketuhanan Yesus. Padahal rasio tidak pernah dapat mengukur ketuhanan kecuali jika itu disingkapkan. Pendeknya ketuhanan Kristus harus dipahami dengan iman yang berlandaskan firman Tuhan.

Firman Tuhan
Alkitab merupakan bekal berharga dalam meneguhkan iman. Dalam injilnya, Matius, Markus dan Lukas menggambarkan siapa Yesus sebenarnya. Sekalipun ada beberapa bagian yang berbeda di dalam pengungkapan kisah-kisah, namun perbedaan itu bukan sebagai wacana untuk dipertentangkan. Melainkan memperkayanya.

Ketiga Injil ini menggambarkan Yesus yang begitu manusiawi terkait tujuan kedatangan-Nya. Ini adalah ekspresi Allah dengan bahasa yang dimengerti oleh manusia. Khususnya dalam rencana penebusan.

Berbalik dengan Injil Yohanes yang menekankan sisi keallahan Yesus. Ini merupakan jawaban akan pertanyaan tentang juru selamat. Yohanes memulai sosok Yesus dari ketuhanan-Nya. Menepis ketidakpercayaan orang Yahudi akan Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan.

Meski berbeda, kedua pandangan ini memberi penjelasan utuh mengenai identitas Kristus. Karena pada masa-masa itu beredar ajaran-ajaran yang menyesatkan dari kalangan Gnostik. Menyoroti keillahian Yesus saja itu akan menjerumuskan pada pandangan yang keliru. Begitu juga jika yang ditekankan hanya kemanusiaan-Nya. Dengan memahami keduanya akan memberikan gambaran yang utuh tentang Yesus.

Mengenal Yesus lebih jauh memang tidak mudah. Tapi dengan menjadi pelaku firman Tuhan akan terselami, Allah dalam rupa manusia. Dalam kaitan ini, perlu diingat bahwa kasih yang menjadi dasar hubungan Allah dengan manusia harus dikedepankan.

Seiring bergulirnya waktu, iman akan senantiasa mendapat ujian. Bukan iman kalau tidak melalui ujian. Termasuk ujian yang menggugat Juruselamat kita.

Sumber: Majalah Bahana, Mei 2010

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer




Berita IT

© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2017
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13