• PELUANG EMAS UNTUK MENJADI AGEN MAJALAH BAHANA
  • SEKALIGUS PEWARTA KABAR BAIK!
  • ANDA BERMINAT? SILAHKAN HUBUNGI: KANTOR MAJALAH BAHANA:
  • JL. BEO 38-40, YOGYAKARTA 55281
  • TELP. (0274)561881 EXT 113/208

"Aku Mau Orang Tahu Papa-Mamaku Menikah"

By: Julianto & Roswitha | Tips | 27 Mar 2009, 09:54:00 | Dibaca: 2792 kali

Ini adalah kalimat Moze (11 tahun) ketika mengisi formulir Data Murid di hari pertamanya di kelas enam, pertengahan tahun lalu.

Entah dengan tujuan apa, sekolah meminta orangtua mengisi kembali Data Murid. Salah satu item-nya adalah “status pernikahan orangtua”. Karena tidak menyangka ada item tersebut, saya mengizinkan Moze mengisi sendiri Data Murid yang diletakkan guru di mejanya. Dia mencentang bagian-bagian seperti: jenis kelamin, status anak (kandung atau angkat), dsb. Tetapi di kolom ”status pernikahan orangtua” ada pilihan: menikah, berpisah, bercerai. Moze menghitamkan kotak kecil di depan kata ”menikah”. 
”Lho, mengapa tidak centang saja?” tanya saya. 
”Ini supaya lebih jelas, Ma, “ jawab Moze, “aku mau orang tahu, papa-mamaku menikah; tidak berpisah dan tidak bercerai!”

Dahan yang Patah 
Dalam pelayanan kami di LK3, kami bertemu dengan pasangan-pasangan yang sedang dalam kondisi hendak bercerai. Alasannya macam-macam, suami atau istri punya affair, kondisi ekonomi, kekerasan, penyakit, dsb. Yang masih membuat mereka bertahan atau mencari pertolongan adalah karena pasangan ini mengerti bahwa Allah tidak menghendaki perceraian. Di samping itu mereka masih mempertimbangkan adanya anak-anak sebagai hasil dari perkawinan mereka. 
Anak-anak adalah pihak yang paling dirugikan dengan perpisahan atau perceraian orangtua. Mereka mengalami kehancuran yang sangat sulit dipulihkan, seperti dahan yang patah, hampir tidak mungkin kembali utuh. Anak-anak lebih takut menghadapi perpisahan orangtua daripada kematian. Mereka akan merasa diabaikan, kehilangan, ditinggalkan, dikhianati, kesendirian, kesepian. Ini perasaan yang hampir tidak tertanggungkan oleh siapa pun. 
Jika kita bermaksud menjadi penolong bagi anak-anak “yatim-piatu” sebagaimana yang diisyaratkan oleh Yakobus 1:27, kita perlu memahami berbagai masalah umum yang menimpa kehidupan suatu keluarga Kristen dengan orangtua tunggal. 

Pergumulan Keluarga 
Dalam rumah tangga dengan orangtua tunggal biasanya anak-anak kekurangan dukungan emosi yang diperlukan. Misalnya, kakek-nenek akan kurang mengunjungi cucu-cucunya. Ketidakhadiran orangtua dengan gender sejenis akan membuat anak kehilangan contoh. Keluarga menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mendisiplin anak-anak yang tumbuh menjelang dewasa. 
Anak-anak menjadi cemas akan keselamatan orang tua yang mendapatkan hak asuh mereka. Biasanya beberapa saat setelah perceraian, anak-anak menjadi enggan ke sekolah. Orangtua yang mempunyai hak asuh juga kemungkinan besar tidak mempunyai banyak waktu bagi mereka karena dia terpaksa harus bekerja lebih keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Anak-anak mungkin tidak bisa ikut berpartisipasi seusai sekolah karena mereka diperlukan di rumah. 
Berkurangnya perhatian orangtua juga bisa meningkatkan penggunaan sebagian besar waktu anak untuk menonton TV dan melakukan berbagai kegiatan lain yang mungkin tidak akan diizinkan orangtua jika mereka ada di rumah. 

Beberapa data 
Dalam kehidupan masyarakat Amerika masa kini, hampir separuh anak usia 0-18 tahun hidup hanya dengan orangtua tunggal. Lebih dari 95% kasus, yang menjadi orangtua tunggal adalah ibunya. Kita hanya bisa membayangkan betapa besarnya perubahan emosi dan akibat yang terjadi dalam kehidupan seorang anak yang diabaikan oleh orangtuanya. Kehilangan ayah biasanya sangat mempengaruhi kehidupan anak laki-laki, yang akhirnya terpaksa tumbuh sendiri tanpa mempunyai model untuk ditiru.
Perceraian dan ketidakhadiran salah satu orangtua sangat mempengaruhi tingkat kemampuan akademik anak-anak. Sebagai contoh: 38% anak SD dengan orangtua tunggal memiliki rata-rata angka akademik yang rendah, dibandingkan dengan 24% angka akademik rendah bagi anak-anak SD dari keluarga utuh. Di tingkat SMU, 34% anak dengan orangtua tunggal mempunyai angka akademik rendah, dibandingkan dengan 23% anak SMU dengan orangtua utuh. 
kekurangan dukungan emosi yang diperlukan. Misalnya, kakek-nenek akan kurang mengunjungi cucu-cucunya. Ketidakhadiran orangtua dengan gender sejenis akan membuat anak kehilangan contoh. Keluarga menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mendisiplin anak-anak yang tumbuh menjelang dewasa. 
Anak-anak menjadi cemas akan keselamatan orang tua yang mendapatkan hak asuh mereka. Biasanya beberapa saat setelah perceraian, anak-anak menjadi enggan ke sekolah. Orangtua yang mempunyai hak asuh juga kemungkinan besar tidak mempunyai banyak waktu bagi mereka karena dia terpaksa harus bekerja lebih keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Anak-anak mungkin tidak bisa ikut berpartisipasi seusai sekolah karena mereka diperlukan di rumah. 
Berkurangnya perhatian orangtua juga bisa meningkatkan penggunaan sebagian besar waktu anak untuk menonton TV dan melakukan berbagai kegiatan lain yang mungkin tidak akan diizinkan orangtua jika mereka ada di rumah. 

Beberapa data
Dalam kehidupan masyarakat Amerika masa kini, hampir separuh anak usia 0-18 tahun hidup hanya dengan orangtua tunggal. Lebih dari 95% kasus, yang menjadi orangtua tunggal adalah ibunya. Kita hanya bisa membayangkan betapa besarnya perubahan emosi dan akibat yang terjadi dalam kehidupan seorang anak yang diabaikan oleh orangtuanya. Kehilangan ayah biasanya sangat mempengaruhi kehidupan anak laki-laki, yang akhirnya terpaksa tumbuh sendiri tanpa mempunyai model untuk ditiru.
Perceraian dan ketidakhadiran salah satu orangtua sangat mempengaruhi tingkat kemampuan akademik anak-anak. Sebagai contoh: 38% anak SD dengan orangtua tunggal memiliki rata-rata angka akademik yang rendah, dibandingkan dengan 24% angka akademik rendah bagi anak-anak SD dari keluarga utuh. Di tingkat SMU, 34% anak dengan orangtua tunggal mempunyai angka akademik rendah, dibandingkan dengan 23% anak SMU dengan orangtua utuh. 
Anak-anak dengan orangtua tunggal cenderung sering terlambat datang ke sekolah, membolos atau harus menghadapi tindakan disiplin dari sekolah karena berbagai pembangkangan yang mereka lakukan. Anak-anak dengan orangtua tunggal juga menghadapi ancaman yang tiga kali lebih tinggi untuk dikeluarkan dari sekolah, dibandingkan mereka yang hidup dengan orangtua utuh, dan anak-anak muda ini juga mempunyai angka dua kali lebih tinggi terancam gagal sekolah/tidak lulus (Hodges, 1986). 

Penyebab Perceraian
Kita tidak bisa serta merta menyodorkan ayat-ayat Kitab Suci kepada pasangan yang bermaksud bercerai. Meski kita tidak setuju, pertama-tama kita perlu empati melihat mereka yang menghadapi dilema ini, apalagi yang sudah kadung mengalaminya. Umumnya perceraian terjadi karena tindak penyimpangan seksual, penganiayaan anak atau suami-isteri, kriminalitas, atau perilaku kecanduan yang tak tertangani. 
Sah-sah saja untuk meyakini bahwa tidak ada perceraian yang menyukakan hati Allah sehingga orang harus melakukan apa saja yang diperlukan untuk membantu memulihkan suatu pernikahan. Di ruang konseling, kami mendorong klien untuk mempertahankan pernikahan mereka. Namun pada kenyataannya orang-orang yang menderita pasca perceraian, berteriak meminta pertolongan. Dalam kondisi demikian tidak akan menolong jika kita hanya mengecam perceraian tanpa membantu mereka mengatasi masa transisi, sehingga memperoleh kehidupan yang lebih baik, terutama menolong anak-anak mereka. 

Menolong Anak Korban Perceraian
Bagaimana menolong anak korban perceraian? Pertama, kita berusaha meyakinkan anak bahwa dia tidak bersalah atas perpisahan orangtuanya. Beberapa anak mungkin merasa, orangtuanya bercerai karena kenakalannya. Mungkin keadaan akan lebih baik jika dia dilahirkan sebagai anak laki-laki (bagi pasangan yang menginginkan anak laki-laki), atau sebaliknya. 
Ayah atau ibu yang mempunyai hak asuh (maupun yang tidak) perlu meminta maaf kepada anak-anaknya atas peristiwa ini. Janganlah mengecam mantan pasangan di depan anak. Mereka sudah cukup menderita atas perpisahan orangtuanya (termasuk pertengkaran yang terjadi sebelumnya), tidak perlu lagi ditambah dengan informasi mengenai kejelekan ayah atau ibu yang tidak bersama dia. 
Keluarga yang diserahi hak asuh perlu mencari figur pengganti orangtua dengan gender sejenis. Jika anak laki-laki tinggal dengan ibu, dia memerlukan pelaku ayah, dan sebaliknya. Ini bisa difasilitasi dengan kehadiran paman atau bibi, opa atau oma, pendeta, guru Sekolah Minggu atau guru sekolah, guru les, dan sebagainya. 
Terakhir, kita perlu memperhatikan jika anak menunjukkan perubahan signifikan. Misalnya, anak tidak mau ke sekolah, prestasi di sekolah cenderung menurun, sering melamun, mudah marah/moody. Gejala lainnya yang perlu diwaspadai adalah ngompol (padahal biasanya tidak), mengisap ibu jari, menyendiri, merasa sakit perut terus-menerus, mengamuk. Jika anak menunjukkan gejala-gejala depresi seperti ini atau kondisi psikis lainnya, orang di sekitarnya perlu mencari bantuan konselor atau profesional.

Sumber: Bahana, Maret 2009

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer




Berita IT

© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2017
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13