• PELUANG EMAS UNTUK MENJADI AGEN MAJALAH BAHANA
  • SEKALIGUS PEWARTA KABAR BAIK!
  • ANDA BERMINAT? SILAHKAN HUBUNGI: KANTOR MAJALAH BAHANA:
  • JL. BEO 38-40, YOGYAKARTA 55281
  • TELP. (0274)561881 EXT 113/208

Tuhan Memulihkan Rumah-tanggaku

By: las | Kesaksian | 21 Aug 2009, 09:01:04 | Dibaca: 3347 kali
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya ... ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari. (Pkh. 3:1, 4) Firman Tuhan di atas merupakan refleksi atas apa yang terjadi dalam kehidupan rumahtanggaku. Aku menikah dalam usia 20 tahun dengan seorang lelaki yang berbeda iman. Bulan-bulan pertama pernikahan kami berjalan penuh keceriaan. Namun, kenyataan bahwa kami belum kunjung memperoleh keturunan malah menjadi duri dalam daging yang kerap menjadi pemicu pertengkaran. Kami sudah mencoba berkonsultasi dengan dokter, dan hasilnya normal. Hanya saja aku dinyatakan memiliki penyakit tiroid. Pergumulan ini lalu kubawa ke dalam doa yang kunaikkan setiap malam kepada Tuhan. Aku yakin bahwa Tuhanlah satu-satunya yang sanggup menolongku. Tak lama kemudian doaku dijawab-Nya. Aku hamil dan melahirkan seorang anak perempuan. Sungguh, hal itu merupakan suatu kebahagiaan tak terkira bagi keluargaku. Namun, hal itu tidak bertahan lama. Suamiku terkena PHK tepat saat anakku berusia 40 hari. Hal ini pun kembali menyulut api pertengkaran dalam keluarga kami. Setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya aku memutuskan untuk bekerja sedangkan suamiku yang mengurus rumah. Terlalu mengandalkan diri sendiri membuatku melupakan pertimbangan Tuhan. Aku bekerja di tempat yang tidak benar dengan gaji dan tips besar. Pikirku saat itu, yang penting kebutuhan keluargaku tercukupi. Pelan tapi pasti, aku pun mulai jauh dari Tuhan. Suatu hari di bulan Februari 2002, Tuhan menegurku dengan keras. Aku mengalami kecelakaan parah yang membuatku mengalami gegar otak dan koma selama empat hari. Tak hanya itu, mata kananku buta dan tangan kananku lumpuh. Dokter hanya dapat menyarankan agar aku menjalani operasi, meski untuk itu tidak ada jaminan kesembuhan total. Benar-benar suatu pukulan telak bagi kami sekeluarga. Beberapa dokter yang kami mintai pendapat pun mengatakan hal yang sama. Akhirnya suamiku membawaku pulang dan berobat jalan. Kami pun mulai belajar untuk pasrah menerima keadaan. Mukjizat itu nyata Suatu hari adik iparku membawakan sebuah VCD yang berisi kesaksian orang-orang yang disembuhkan melalui mukjizat. Orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan yang sakit disembuhkan. Saat suamiku melihatnya, tiba-tiba ia berkata, “Kalau hal yang sama terjadi pada istriku, aku mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.” Mendengar perkataan itu, aku langsung berupaya mencari hamba Tuhan yang ada dalam VCD tadi. Beberapa orang mengatakan bahwa hamba Tuhan ini memiliki karunia kesembuhan. Beberapa kali usahaku untuk menemuinya berujung dengan kegagalan. Sampai suatu ketika aku mendapatkan kesempatan itu. Sebelum mendoakanku, ia berkata, “Apapun yang terjadi, tetaplah ingat bahwa semua karena Tuhan. Saya hanya hamba-Nya.” Setelah mendoakan kami, ia berkata bahwa aku tidak perlu dioperasi. Yang penting harus hidup baru dalam pertobatan. Tidak lama berselang, suamiku menepati janjinya kepada Tuhan. Ia menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi. Tak hanya itu, beberapa waktu kemudian ia pun menyatakan bersedia untuk dibaptis. Satu bulan setelah itu aku mengalami mukjizat besar. Mataku dapat melihat kembali, tanganku kembali pulih tanpa digips, dan gegar otakku pun sembuh. Setelah itu aku dan suamiku sepakat mengikuti peneguhan nikah. Tuhan benar-benar luar biasa. Perlahan-lahan keluarga kami dipulihkan. Bulan Agustus tahun itu suamiku berhasil mendapatkan pekerjaan baru sebagai sopir mobil antar jemput anak-anak sekolah. Walau penghasilannya dari pekerjaan itu tergolong pas-pasan, tetapi semua kebutuhan keluarga kami dicukupi Tuhan. Kami benar-benar tidak berkekurangan. Jawaban doa Setiap hari kami selalu berdoa untuk mensyukuri setiap berkat dan memohon penyertaan Tuhan bagi keluarga kami. Oktober 2002, aku hamil anak yang kedua. Harapan kami, anak kedua ini adalah laki-laki, sebab anak sulung kami adalah perempuan. Namun, berbeda dengan yang pertama, kehamilan kali ini tidak semulus yang diperkirakan. Saat kandungan berusia lima minggu, saya kerap muntahmuntah dan tak jarang sampai mengeluarkan darah. Perutku tidak dapat menerima makanan atau minuman sehingga badan terasa lemas. Hal itu berlangsung selama sekitar satu bulan. Saat diperiksa, dokter menyarankan agar aku di-opname dan diinfus. Sedangkan solusi terbaik, menurutnya, aku harus dikuret (aborsi). Hal itu tentu sangat mengejutkan aku dan suamiku. Kami terus berdoa memohon perlindungan Tuhan agar janin yang sedang kukandung selamat. Tak lama berselang keadaanku berangsur membaik. Aku dapat makan dan minum tanpa harus takut merasa mual atau muntah lagi. Kesehatanku mulai pulih. Dan yang paling menggembirakan, sewaktu pemeriksaan USG ternyata janinku dinyatakan sehat dan detak jantungnya normal. Keesokan harinya aku diizinkan pulang. Dokter berpesan agar aku banyak beristirahat. demi kesehatan aku dan janinku. Sukacita pemulihan Bulan-bulan berikutnya kulalui dengan sukacita. Hingga tanpa disadari, aku mengalami kelelahan karena terlalu banyak aktivitas. Akibatnya, pada pemeriksaan USG bulan ketujuh, tali pusar anakku didapati hampir putus. Sekali lagi dokter mengingatkan, kali ini dengan keras, agar aku beristirahat jika tidak mau mengalami pendarahan atau bayi lahir prematur. Setelah itu aku benar-benar menggunakan waktu untuk beristirahat dan berdoa agar janinku dapat lahir dengan baik Setelah genap waktunya, aku melahirkan anak kedua dengan lancar dan normal. Kami sekeluarga benarbenar bersyukur pada Tuhan. Meski kami kerap mengecewakan-Nya, tapi Dia selalu setia menolong kami. Berkat dan kasih setia-Nya tak pernah meninggalkan kami. Benar-benar luar biasa Yesus Tuhanku. “Terima kasih Tuhan, kepada-Mu lah aku ingin selalu menyerahkan perjalanan kehidupan ini. Bukan hanya pada waktu suka, pun pada waktu duka, karena aku tahu inilah satu-satunya jalan yang membawaku pada sentosa...Sumber: Renungan Malam, Agustus 2009
diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer




Berita IT

© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2017
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13