Otak Kanan, Kiri, Tengah, Depan, Belakang, Bawah, Atas…

By: Benni E.Matindas | Vitamin | 26 Jul 2010, 09:37:10 | Dibaca: 1848 kali

Gara-gara Aristoteles memasukkan teori psikologinya tentang pengembangan kecerdasan dan segenap potensi mental manusia ke dalam karyanya yang bertajuk Etika, bahkan hanya jadi bagian dari kitab Politik yang jadi salah satu karya agungnya, maka terlalu jarang teorinya itu diperhatikan. Apalagi, sejak agama-agama samawi yakni Yudaisme, Kristen dan Islam mendominasi pusat-pusat dunia. Agama-agama yang memiliki ajaran etikanya sendiri dan menilai etika lain hanya omongan iblis yang mesti cepat-cepat diberangus. Massa Kristen membakar musnah sangat banyak kepustakaan Yunani. [Untunglah kemudian ada beberapa pemimpin dari kesultanan Islam yang berpusat di Baghdad menyewa sejumlah pendeta Gereja Nestorian yang pintar bahasa Yunani buat menerjemah karya-karya penting itu.] Dipisahkannya karya Aristoteles itu menjadi dua buku — Ethics dan Politics (Bab Etica Nicomachea dilepas dari buku Ta Politica) — pun kentara dilatarbelakangi sikap politik keagamaan itu: ingin mempelajari teori politiknya, tapi tak usah ajaran etikanya.

Di kemudian hari, hingga di zaman modern kini, semua penelitian psikologi pengembangan kecerdasan yang benar ternyata kian mengukuhkan apa yang dulu sudah diurai oleh Aristoteles secara seksama dan dengan logika-logika yang terkonstruksi kuat. Pengetahuan yang luas membentuk sifat bijaksana yang kemudian membuahkan semua virtue. Berani, rendah hati, sabar, lemah lembut, welas asih, rajin, setia, gigih dalam berjuang, produktif, dan seterusnya. Misalnya saat menghadapi ancaman bahaya, sifat bijaksana itu akan mengarahkan ke jalan keberanian, bukan takut dan bukan sebaliknya nekat. Perjalanan hidup akan jadi proses pembentukan semua virtue tersebut, dan dengan itulah setiap manusia mencapai kebahagiaan bagi dirinya, dan bangsa pun jaya.

Sampai di sini saja, sudah terlihat jelas betapa sumir, tambal-sulam, tanpa arah, dan tanpa dasar benar, semua teori “psikologi pop” mengenai pengembangan potensi-potensi mental dalam rangka peningkatan karir yang banyak beredar lewat pelbagai buku dengan judul-judul membetot serta seminar-seminar dengan janji bisa mengubah nasib orang dalam tempo singkat. Kecuali metode-metode seperti “Lateral Thinking” yang dulu laris dijual De Bono, “Power Mind”, “The Science of Success”, ataupun “LoA” yang diajarkan dalam buku laris The Secret, yang jelas-jelas cuma fantasi melantur, metode-metode lainnya seperti “EQ-SQ”, pengembangan “Etos Produktif”, pelatihan “Otak Kanan”, “Otak Tengah”, dan macam-macam lagi, itu sebetulnya ada bagiannya yang benar. Persoalannya, umumnya teori tersebut, begitu juga pelbagai teori yang diajukan menggebu-gebu oleh mereka yang disebut Motivator di televisi dan seminar-seminar, semua tanpa sistematika yang benar. Akibatnya, tak becus menjadi tuntunan teknis-praktis yang konsisten. Jadi, sudah gagal bahkan sejak di tataran teori. Itulah mengapa semua itu tak lebih hanya jadi mode semusim, hari ini laris dan mahal tapi tak lama kemudian berlalu oleh datangnya mode baru. Sekarang tanyakan pada generasi baru para penggila mode mutakhir mengenai psikologi pop pengembangan kepribadian apakah mereka kenal nama Dale Carnegie dan Norman Vincent Peale. Pasti tidak. Padahal teori Carnegie dan Peale terbilang cukup kadar kebenarannya.

Meski teori Aristoteles jauh lebih sistematis dan benar dibanding umumnya psikologi pop, tapi juga belum lengkap sehingga macet dalam penerapan praktis. Apakah yang bisa membuat manusia terdorong maju buat mengatasi masalah-masalah yang datang silih-berganti dalam hidup ini, sehingga ia mengerahkan pengetahuannya dan kemudian menjadi bijaksana, padahal ada jalan aman yakni berdiam menahan langkah ataupun menghindar? Mengapa orang tidak memilih jalan asketis — “tapa-brata”, “meninggalkan keduniawian”, “mengosongkan pikiran” — yang kendati lebih menjamin “ketenteraman jiwa” dan terlebih sebagai “wujud iman” menjalankan “perintah Sang Mahatinggi”? Mengapa orang harus bersusah payah memperluas pengetahuan, sampai sifat rajin belajar itu bahkan menjadi kebajikan (virtue), padahal tindakan konkrit selalu dinilai lebih membawa hasil nyata, apalagi ditambah tarikan kenikmatan hidup mengumbar nafsu?

Semua pertanyaan buntu tersebut dijawab Yesus: kasih. Sikap dan tindak mengasihi berarti memposisikan diri di dalam masalah yang bukan saja sedang menimpa diri kita tapi bahkan sedang dialami sesama kita, sehingga selalu butuh pengetahuan ekstra.

Kalau Salomo, yang selamanya dipandang sebagai manusia paling bijak-bestari, dalam amsal-amsalnya menetapkan hukum alam bahwa religiositas adalah sumber segala ilmu pengetahuan (Ams.1:7), maka Yesus datang menyempurnakan. Karena pada Hukum Utama Kasih tergantung seluruh Hukum Taurat dan kitab para nabi termasuk kitab Amsal.

Sumber: Majalah Bahana, Juli 2010

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer


Layanan SMS

Untuk Renungan Malam
Ketik REG <spasi> REMA
Untuk Renungan Pagi
Ketik REG <spasi> REPA
Untuk Renungan Siang
Ketik REG <spasi> SIANG

Kirim ke:
Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363
XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363

Untuk berhenti:
UNREG PAGI / SIANG / MALAM
& kirim ke nomor yang sama diatas

Khusus untuk TELKOMSEL
Ketik REG MALAM (atau SIANG, PAGI, MUDA)
Kirim ke 5454.
Untuk berhenti berlangganan, ketik UNREG MALAM (atau SIANG, PAGI, MUDA) ke 5454
*) Rp. 1000,- per SMS + PPN


Pengumuman

RALAT BAHANA cetak edisi November 2012
24 Okt 2012
Lowongan Penerbit Andi
15 Jun 2012
© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2014
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13