07 September 2010, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
ASAP HITAM DI SELATAN SURABAYABy: Rio | Kesaksian | 02 Juni 2010, 15:22:18 | Dibaca: 567 kali Detik pertama saat bangun pagi, saya bertanya dalam hati, kejadian kemarin malam itu, nyata atau bukan? Apa benar pabrik telah terbakar? Saya berharap itu semua hanya mimpi. 17 Februari 2009, 16.15 WIB Saya mematikan komputer, merapikan meja kerja dan bersiap pulang ke rumah. Enam puluh menit kemudian, sesampai di rumah, handphone saya berdering. Terdengar suara parau yang menandai titik awal pengalaman hidup yang tidak akan saya lupakan: “Pabrik terbakar, Pak!”. Sepuluh menit kemudian saya memacu mobil di jalan tol ke arah Sidoarjo. Terlihat jelas asap hitam pekat mengepul di selatan Surabaya, seperti corong hitam menganga berbentuk segitiga terbalik membelah langit sore berwarna biru kelabu. Saya berusaha fokus pada setir karena otak sudah tidak lagi bisa berpikir, mulut saya hanya bisa mengulang-ulang perkataan, “Yesus tolong, Yesus tolong….” Sampai di lokasi pabrik, hari sudah mulai gelap, kobaran api sedang menggila. Hampir semua karyawan yang tadi pulang, sekarang kembali lagi ke pabrik dan berusaha semampunya memadamkan api. Suasana ramai sekali, sesekali terdengar ledakan di bagian dalam pabrik. Selain puluhan petugas PMK (pemadam kebakaran), banyak sekali polisi berjaga-jaga, juga belasan wartawan dan kameramen televisi swasta membawa lampu sorot. Lima belas unit PMK yang hilir mudik berusaha mengisolasi agar api tidak meluas. Bahan baku karet dalam jumlah besar, membuat api terus menyala dan sangat sulit dipadamkan. PLN sudah dimatikan. Sisi luar bangunan terlihat gelap, tapi di bagian dalam terang benderang oleh kobaran api. Jam delapan malam, atap bangunan induk roboh, karena besi penyangga utama terlampau panas dan melengkung ke bawah. Satu demi satu kaca-kaca jendela rontok dengan suara yang mengerikan. Nyala api terus merembet menghabiskan segala sesuatu yang bisa terbakar. Lewat tengah malam, setelah tujuh jam mengamuk, api baru mulai jinak. BUKAN MIMPI Sungguh dahsyat kerusakan yang ditimbulkan. Keseluruhan atap bangunan luluh lantak. Hanya sebagian dinding yang masih tegak berdiri. Delapan puluh persen mesin hancur, gudang stok barang berubah wujud menjadi gudang arang. Seratus persen produk musnah. Ruangan kantor yang berada di gedung utama sudah tidak bisa dikenali lagi bentuknya. Meja dan lemari di ruangan saya habis jadi onggokan arang. Semua dokumen ludes. Tumpukan buku yang kemarin siang masih saya baca, sudah menjadi serpihan-serpihan abu hitam. CPU komputer meleleh menjadi campuran logam dan plastik seukuran bola sepak. Hari-hari selanjutnya amat berat. Kami harus menyelesaikan proses panjang dan melelahkan di kepolisian, segala macam birokrasi termasuk asuransi. Tidak ada lagi bangunan utuh di pabrik, sehingga tempat parkir sepeda motor kami pakai tempat berteduh. Tidak ada lagi AC. Yang dinamakan kantor darurat adalah dinding-dinding tripleks berdebu dengan udara panas musim kemarau yang membakar badan dan pikiran. Kami bingung dan tidak berdaya, karena begitu banyak urusan yang harus ditangani dan semua itu mengandung ketidakpastian. Kami tidak tahu apakah masih sanggup bangkit kembali. KARYAWAN DI PUNDAK utamakan, sehingga walaupun mereka dirumahkan, mereka tetap mendapatkan gaji agar anak-anaknya tidak sampai terlantar. Di sinilah kami merasakan awal mukjizat pertolongan Tuhan. Para customer yang mendengar musibah ini, tergerak untuk membayar lebih awal. Bahkan salah satu customer besar malah melunasi semua hutangnya tiga hari setelah ia mendengar kabar kebakaran ini. Ajaib sekali, tidak ada satu pun customer yang menggunakan kesempatan untuk lari dari kewajibannya. Di kala kami kesulitan mengurus persyaratan asuransi yang sangat rumit, ada saja teman tergerak menghubungi kami untuk memberi nasihat dan menghubungkan dengan teman-teman lain yang pernah punya pengalaman serupa. Dari mereka inilah, kami mendapatkan informasi hal-hal penting yang harus kami lakukan untuk melancarkan klaim asuransi. Bulan ke empat, sebagian klaim asuransi mulai cair, kami gunakan untuk membiayai bangunan baru. Ini mukjizat Tuhan berikutnya, karena biasanya klaim baru cair lima sampai enam bulan setelah kejadian. Walupun setiap hari berkutat dengan puing-puing reruntuhan, saya menjaga lidah untuk tidak bersungut-sungut. Saya tetap percaya, Tuhan menyiapkan yang lebih baik buat saya, lewat peristiwa ini. Di tengah kondisi yang menyedihkan ini, banyak sekali kejadian yang membuat saya mengucap syukur. Salah satunya adalah harga besi dan baja yang naik luar biasa di tahun 2008, tapi saat kami mulai membangun pabrik ini, harga besi baja turun sampai level terendah dalam 3 tahun! Kontraktor yang kami tunjuk, sambil bercanda berkata, “Musibah ini timing-nya pas sekali, karena harga material besi sedang anjlok tinggal hampir separuhnya jika dibandingkan dengan harga di tahun 2008. Kalau pabrik ini dibangun setahun lalu, biayanya bisa 2 kali lipat. ”Wow, saya merasa Tuhan bermurah hati memberi diskon 50%! “ Juni 2009... Sebenarnya jumlah klaim asuransi yang kami terima tidak seberapa, bahkan jauh di bawah nilai kerugian riil yang kami derita. Bila dihitung dengan kalkulator secanggih apa pun, sulit dipercaya akal sehat, akhirnya pabrik bisa beroperasi kembali tanpa harus meminta kredit dari bank atau talangan pihak lain. Memang kami sangat berhemat. Pengeluaran dana diprioritaskan hanya untuk gaji karyawan dan percepatan kesiapan produksi. Para pemegang saham juga heran karena tidak perlu menyuntikkan dana lagi namun pabrik mampu pelan-pelan berproduksi. Tidak pernah terbayangkan oleh siapa pun, bahwa pabrik yang nyaris rata dengan tanah seperti itu bisa berdiri dan berproduksi kembali dalam waktu 5 bulan. Duit dari mana? Saya percaya, solusi masalah keuangan bukanlah menambah hutang baru tapi menambah waktu teduh bersama Tuhan. Yang menggembirakan, semua karyawan kami bisa bekerja lagi. Bahkan bulan September, kami mampu membayar THR Idul Fitri seluruh karyawan, tepat waktu. Sungguh bersyukur di awal kebangkitan, perusahaan ini bisa menjadi berkat bagi banyak orang. Sebelum terbakar, sebenarnya banyak rencana renovasi bangunan tapi tertunda-tunda karena terbentur kondisi bangunan lama. Melalui kebakaran ini, praktis seperti membangun dari tanah kosong, sehingga inilah kesempatan emas untuk merancang alur produksi yang jauh lebih baik dari yang dulu. Lay-out ruangan-ruangan disempurnakan, ventilasi dibuat lebih lancar dan infrastuktur yang kuno dibuat lebih modern. Ini semua karena anugerah Tuhan. Dalam kamus orang Kristen, saya percaya tidak ada kata kebetulan. Karena semua kejadian yang menimpa kita –yang baik atau yang terlihat buruk sekalipun- pasti ada campur tangan Tuhan di situ. Bagian yang kita lakukan adalah tetap percaya, bahwa Ia mengatur segalanya indah bagi kita pada saat yang tepat. Tetapi seperti ada tertulis: ‘Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia (1 Korintus 2:9). Sumber: Majalah Bahana, Juni 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
![]() Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: 5454 (Telkomsel), 7363 (Flexi dan XL) Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Online Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2010 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||