Input your search keywords and press Enter.

ORANG MISKIN

“Berbicara tentang orang miskin itu jangan sembarangan! Ada ukurannya untuk menentukan apakah seseorang itu benar-benar miskin, hampir miskin, atau tidak miskin. Ukurannya adalah jumlah penghasilan per hari.” (Royandi Tanudjaya)

Sumber: Aceh.net

Secara internasional, Bank Dunia menetapkan bahwa orang miskin adalah yang berpenghasilan kurang dari
Rp18.000,00 (setara 2 dolar AS)/hari. Namun, secara nasional, pemerintah Indonesia punya 2 ukuran untuk
menetapkan seseorang benar-benar miskin dan hampir miskin. Menurut pemerintah, di negara kita hanya orang yang berpenghasilan  di bawah Rp8.000,00 (setara 0,85 dolar AS)/hari dapat disebut benarbenar miskin. Jumlahnya 30,2 juta jiwa (menurut BPS per Maret 2011). Namun, orang yang penghasilannya di bawah Rp 10.000,00 – Rp8.000,00 (setara 1 dollar AS)/hari hanya bisa disebut hampir miskin, tetapi belum
miskin. Jumlahnya 27,12 juta jiwa (menurut BPS per Maret 2011).

Jika digabungkan jumlah orang miskin dan hampir miskin sekitar 60 juta jiwa. Jika memakai ukuran internasional (berpenghasilan di bawah Rp18.000,00/orang/hari) jumlah orang miskin di Indonesia malah bisa 2 kali lipat.Jumlahnya sekitar 120 juta jiwa atau setengah dari jumlah penduduk Indonesia sekarang
(240 juta jiwa).Di tengah lautan orang miskin di Indonesia apakah yang dapat kita lakukan?

HIDUP SEBAGAI SESAMA SAUDARA DAN ANAK ALLAH

Selama hidup-Nya di dunia, Yesus paling sering dan paling banyak bergaul dengan ”orang banyak” (ochlos), suatu istilah yang dipakai untuk menunjukkan orang-orang yang diremehkan dalam masyarakat, termasuk orang berdosa dan miskin. Mengapa? Sebab Yesus menghargai mereka sebagai sesama saudara ciptaan Allah atau sesama anak Allah. Begitu dekatnya Yesus dengan ”orang banyak” sehingga apa saja yang dilakukan orang lain kepada mereka Dia merasakannya (Mat. 25:40,45). Yesus tahu bahwa menghargai orang miskin itu adalah awal dari kesediaan untuk menolong mereka. Jika sudah tidak menghargai mereka sebagai sesama saudara dan sesama anak Allah, kita pun tak akan pernah terdorong untuk menolong mereka.

Dalam sebuah rumah makan, satu keluarga Kristen pernah menyaksikan ada satu keluarga lain yang tega makan enak ditonton oleh seorang pembantu yang tidak diberi makan apa pun. Itu salah satu contoh dari sikap tidak menghargai orang miskin sebagai sesama saudara atau anak Allah.

Sumber: akhirjaman.org

MENGASIHI DENGAN AKAL SEHAT

Tanpa mengabaikan orang yang beruntung, sepanjang hidup-Nya Yesus mendahulukan orang miskin. Sikap ini bukan didasarkan oleh sikap pilih kasih, melainkan sematamata kasih yang memakai akal sehat (common sense). Jika orang beruntung itu boleh disamakan dengan orang sehat, dan orang miskin itu disamakan dengan orang sakit, sedang Yesus boleh disamakan dengan dokter, masuk akalkan jika Yesus lebih mendahulukan yang sakit. Orang sehat juga butuh Yesus, tetapi orang sakit lebih membutuhkan-Nya. Tuhan Yesus pernah mengatakan, ”Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mrk. 2:17). Kita pun harus bersikap sama seperti Yesus terhadap sesama kita yang kurang beruntung dan yang miskin.

JOHN WESLEY

Kepada orang Kristen yang merasa susah untuk menolong sesamanya yang miskin pada zaman tersebut, John Wesley mengajarkan caranya. Katanya, ”Sebanyak kamu bisa, kumpulkanlah, simpanlah, dan berikanlah!” Wesley mengajarkan sesuai dengan kemurahan Tuhan. Jika mau dan rela, kita dapat menolong sesama yang miskin. Cobalah perhatikan, selalu ada orang yang lebih miskin daripada

Leave a Reply