Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

PERTUKARAN ILAHI




eBahana.com – Seluruh pesan Injil berkisar pada satu kejadian unik sejarah: pengorbanan kematian Yesus di kayu salib. Mengenai hal ini, penulis Ibrani berkata, “Sebab oleh satu korban saja Ia (Yesus) telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” Kombinasi dua ekspresi penuh kuasa: “menyempurnakan” dan “selama‐lamanya”. Keduanya menggambarkan pengorbanan bagi setiap kebutuhan seluruh umat manusia. Efek‐efeknya ada sepanjang masa sampai masuk ke kekekalan. Dengan dasar pengorbanan ini Paulus menulis Filipi 4:19, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Semua kebutuhan kita mencakup setiap bagian dari hidup kita—tubuh, jiwa, pikiran, emosi, termasuk kebutuhan materi dan finansial. Tidak ada yang terlalu besar atau terlalu kecil yang dikecualikan dari pemeliharaan Allah. Melalui satu tindakan berdaulat tak terbatas, Allah membawa seluruh kebutuhan dan seluruh penderitaan umat manusia dalam satu klimaks momen waktu.

Allah tidak menyediakan banyak solusi untuk masalah umat manusia yang sangat besar. Sebaliknya, Dia menawarkan kepada kita hanya satu solusi untuk semua masalah yang adalah jawaban Dia bagi setiap masalah kita. Banyak dari kita mungkin datang dari latar belakang yang berbeda. Setiap kita dibebani kebutuhan masing‐masing. Namun, untuk menerima solusi Allah, kita semua harus berjalan dan melangkah menuju tempat yang sama: salib Kristus.

Penjelasan paling lengkap dari apa yang dicapai pada kayu salib diberikan oleh Nabi Yesaya 700 tahun sebelum itu terjadi. Dalam Yesaya 53:10 Nabi Yesaya menggambarkan seorang “hamba Allah” yang jiwanya dikorbankan kepada Allah untuk pengampunan dosa. Para penulis Perjanjian Baru sepakat dalam mengidentifikasikan “hamba” tanpa nama ini sebagai Yesus. Tujuan ilahi yang dicapai oleh pengorbanan‐Nya disimpulkan dalam Yesaya 53:6, “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.”

Di sini dasar masalah semua umat manusia: kita sudah berbalik, setiap dari kita, kepada jalan kita sendiri. Ada banyak dosa spesifik yang belum pernah kita lakukan, seperti pembunuhan, perzinaan, pencurian, dan lain-lain. Namun, kita semua pada umumnya sudah melakukan satu hal: kita telah berpaling ke jalan kita sendiri. Dengan melakukan itu, kita telah berbalik dari Allah. Kata Ibrani untuk menjelaskan ini adalah avon,  diterjemahkan sebagai “kejahatan” atau “pemberontakan” – bukan terhadap manusia, tetapi melawan Allah. Ini bukan arti sepenuhnya dari kata avon.

Dalam penggunaan alkitabiah-nya avon menggambarkan bukan hanya kejahatan namun juga “hukuman” – akibat-akibat jahat yang dihasilkan oleh kejahatan.

Sebagai contoh, dalam Kejadian 4:13, setelah Allah menjatuhkan hukuman pada Kain atas pembunuhan adiknya, kata Kain kepada TUHAN: “Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung.” Kata terjemahan “hukuman” disini adalah avon, mencakup bukan hanya “kejahatan” Kain, melainkan juga “hukuman” yang dijatuhkan kepadanya. Dengan kata lain, arti avon sepenuhnya adalah “kejahatan”, dan juga semua akibat‐akibat jahat yang dihukum oleh Allah.

Kata avon ini juga diaplikasikan pada pengorbanan Yesus di kayu salib. Yesus sendiri tidak bersalah dari dosa. Dalam Yesaya 53:9, Nabi berkata, “Sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.” Namun, dalam ayat 6 ia berkata, “Tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan (avon) kita sekalian.” Bukan hanya diidentifikasikan dengan kejahatan kita, Yesus juga menderita dan menanggung semua akibat kejahatan kita. Ia memikul akibat-akibat jahat kita agar kita dibebaskan.

Di sini arti sesungguhnya dan tujuan salib. Padanya terjadi pertukaran ilahi yang sudah ditahbiskan. Pertama, Yesus menderita dan menanggung, sebagai ganti kita, semua akibat kejahatan kita karena keadilan ilahi‐Nya. Dalam pertukaran itu, Allah menawarkan kepada kita semua yang baik karena ketaatan Yesus yang tidak berdosa.

Ringkasnya, kejahatan kita dipindahkan kepada Yesus, agar sebagai gantinya, kebaikan Yesus ditawarkan pada kita. Allah mampu menawarkan ini kepada kita tanpa kompromi keadilan kekal-Nya Sendiri, karena Yesus menanggung sebagai ganti kita, semua hukuman karena kejahatan kita.

Semua ini diberikan berdasarkan kasih karunia Allah, dan hanya bisa diterima dengan iman. Tidak ada penjelasan logis sebab akibatnya. Tidak ada dari kita yang dapat melakukan apapun agar layak menerima kasih karunia ini, dan tidak ada dari kita selamanya bisa melakukan apapun untuk mendapatkannya.

Kitab Suci mengungkapkan banyak aspek berbeda dari pertukaran ilahi, dan banyak bagian berbeda dari aplikasinya. Namun, prinsip yang sama tetap berlaku: kejahatan kita ditimpakan pada Yesus agar kebaikan-Nya yang sama dapat di berikan pada kita.

Dua aspek pertama dari pertukaran ilahi diungkapkan dalam Yesaya 53:4-5 “Tetapi sesungguhnya, penyakit (secara harfiah penyakit) kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan (sakit) kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran (hukuman) yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya (luka-lukanya) kita menjadi sembuh.”

Dua kebenaran terjalin disini. Aplikasi yang satu spiritual, yang satunya fisikal. Di tataran spiritual, Yesus menerima hukuman karena pelanggaran dan kejahatan kita agar olehnya kita bisa diselamatkan dan diperdamaikan dengan Allah (Roma 5:1). Di tataran fisikal, Yesus menanggung penyakit dan sakit kita yang melalui luka-luka-Nya kita disembuhkan.

Aplikasi fisikal dari pertukaran ilahi di konfirmasi dalam dua nas Perjanjian Baru.

Matius 8:16-17 mengacu pada Yesaya 53:4 dan mencatat bahwa Yesus “…. menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit, hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”

Lagi, dalam 1 Petrus 2:24, rasul Petrus mengacu kepada Yesaya 53:5-6 dan berkata mengenai Yesus: “…Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya (luka-luka-Nya) kamu telah sembuh.”

Pertukaran dua ganda yang digambarkan dalam ayat-ayat diatas bisa disimpulkan sebagai berikut: Yesus dihukum agar kita diampuni. Yesus dilukai agar kita disembuhkan.

Aspek ketiga dari pertukaran ilahi di ungkapkan dalam Yesaya 53:10, yang menyatakan bahwa Tuhan menjadikan jiwa Yesus “persembahan korban bagi dosa.” Ini harus dimengerti dalam terang tata cara (ordonansi atau peraturan) Musa dalam berbagai bentuk persembahan korban dosa. Orang yang melakukan dosa disyaratkan membawa persembahan korban – domba, kambing, sapi jantan, atau binatang lainnya – kepada imam. Ia akan mengakui dosanya diatas korban, dan imam secara simbolis mentransfer dosanya dari orang tersebut kepada korban binatang. Lalu binatang itu dibunuh, untuk membayar penalti (hukuman) bagi dosanya yang sudah ditransfer ke binatang itu.

Dalam nubuat Allah, semua ini dirancang sebagai bayangan apa yang akan dilakukan dalam pengorbanan Yesus – final dan lengkap mencakup semua. Pada kayu salib, dosa seluruh dunia ditransfer kepada jiwa Yesus. Hasilnya digambarkan dalam Yesaya 53:12: “Ia menyerahkan nyawanya kedalam maut.” Melalui pengorbanan pengganti kematian, Yesus melakukan penebusan dosa bagi seluruh umat manusia.

Dalam 2 Korintus 5:21 Paulus mengacu kepada Yesaya 53:10 dan menunjukkan aspek dari pertukaran ilahi: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Paulus tidak berbicara disini mengenai kebenaran yang kita bisa peroleh dengan usaha kita sendiri, namun mengenai kebenaran Allah Sendiri – kebenaran yang tidak mengenal dosa. Tidak ada dari kita yang bisa memperolehnya. Lebih tinggi dari kebenaran kita – seperti surga dan bumi. Bisa diperoleh hanya dengan iman.

Aspek ketiga dari pertukaran ilahi disimpulkan sebagai berikut: Yesus dibuat berdosa dengan dosa kita agar kita dibenarkan dengan kebenaran-Nya.

Seluruh Alkitab, dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, menekankan bahwa akibat akhir dari dosa adalah kematian. Dalam Yehezkiel 18:4 Tuhan menyatakan, “…Dan orang yang berbuat dosa, itu harus mati.”

Dalam Yakobus 1:15 rasul berkata, “apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Ketika Yesus sudah diindentifikasikan dengan dosa kita, sudah pasti Ia juga harus mengalami kematian akibat dosa kita.

Dalam Ibrani 2:9, penulis berkata bahwa ” Yesus…dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat yang oleh karena penderitaan maut…supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.” Kematian yang Ia alami tidak dapat dihindari akibat dosa manusia yang Ia ambil alih atas diri-Nya Sendiri. Ia menanggung dosa seluruh umat manusia, dan karenanya mengalami kematian yang harusnya dialami seluruh manusia.

Sebaliknya, bagi semua yang menerima pengorbanan-Nya, Yesus menawarkan karunia kehidupan kekal. Dalam Roma 6:23 Paulus meletakkan dua alternatif berdampingan: “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”

Aspek keempat dari pertukaran ilahi dinyatakan Paulus dalam 2 Korintus 8:9: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya…”

Pertukarannya jelas: dari kemiskinan menjadi kaya. Yesus menjadi miskin agar kita sebaliknya menjadi kaya.

Kapan Yesus menjadi miskin? Beberapa orang membayangkan Ia miskin selama pelayanan-Nya di bumi, tetapi itu tidak akurat. Diri-Nya Sendiri tidak membawa uang banyak, namun Ia tidak pernah kekurangan apapun yang Ia butuhkan. Ketika Ia mengutus murid-murid-Nya keluar kota, begitupula mereka tidak kekurangan apa-apa (Lukas 22:35). Jadi jauh dari miskin, Ia dan murid-murid-Nya secara rutin memberi bantuan kepada orang miskin (Yohanes 12:4-8; 13:29).

Benar, metode Yesus mendapatkan uang kadang-kadang tidak konvensional, namun uang memiliki nilai yang sama, apakah diambil dari bank atau mulut ikan (Matius 17:27). Metodenya menyediakan makan juga tidak konvensional, tetapi seseorang yang bisa menyediakan makanan banyak untuk 5000 orang (ditambah perempuan dan anak-anak) sudah pasti tidak bisa dianggap miskin menurut standar normal (Matius 14:15-21).

Kenyataannya, selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus justru menunjukkan “kelimpahan,” seperti di definisikan dalam Alkitab. Ia selalu memiliki semua yang Ia butuhkan untuk melakukan kehendak Allah dalam hidup-Nya. Lebih dari itu, Ia tidak pernah berhenti memberi kepada orang lain, dan persediaan-Nya tidak pernah habis.

Jadi kapan Yesus menjadi miskin demi kita? Jawabannya adalah “di kayu salib.” Dalam Ulangan 28:48 Musa menyimpulkan kemiskinan absolut dalam empat ekspresi: lapar, haus, telanjang, dan kebutuhan akan semua hal. Yesus mengalami semua ini di kayu salib.

Dia lapar. Dia tidak makan hampir 24 jam. Dia haus. Satu dari ucapannya: “Aku haus!” (Yohanes 19:28). Dia telanjang. Prajurit-prajurit Romawi mengambil semua baju dari-Nya (Yohanes 19:23). Dia membutuhkan semuanya. Dia tidak memiliki apa-apa lagi. Setelah kematian-Nya Ia dikubur dengan jubah dan kuburan yang di pinjam (Lukas 23:50-53). Jadi, Yesus menanggung kemiskinan absolut demi kita.

Dalam 2 Korintus 9:8 Paulus menunjukkan bagian positif dari pertukaran ilahi: “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikkan.” Paulus hati-hati menekankan bahwa satu-satunya dasar untuk pertukaran ilahi adalah kasih karunia Allah. Tidak pernah bisa diperoleh sendiri. Hanya bisa diterima dengan iman.

“Kelimpahan” kita sering sekali seperti Yesus ketika Ia di bumi. Kita tidak membawa uang banyak atau memiliki deposito besar di bank.

Namun dari hari ke hari kita memiliki cukup untuk kebutuhan kita sendiri, dan ada kelebihan untuk kebutuhan orang lain.

Satu alasan penting untuk pemeliharaan ini ditunjukkan melalui kata-kata Yesus yang dikutip dalam Kisah Para Rasul 20:35:

“Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Tujuan Allah agar semua anak-anak-Nya harus mampu menikmati berkat yang lebih besar. Karenanya, Ia menyediakan kita cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri dan juga memberi kepada orang lain.

Aspek kelima dari pertukaraan ilahi disimpulkan: Yesus menanggung kemiskinan kita agar kita menerima kelimpahan-Nya.

Pertukaran ilahi di kayu salib mencakup juga penderitaan emosional yang terjadi karena kejahatan manusia. Disini lagi, Yesus menanggung yang jahat agar kita menikmati yang baik. Dua luka paling kejam yang ditimbulkan karena kejahatan kita adalah “kehinaan” (rasa malu) dan “penolakan.” Keduanya ditanggung Yesus di kayu salib.

Kehinaan berbeda dalam intensitas dari rasa hina yang parah hingga merasa jijik tidak berharga yang memutus seseorang dari hubungan yang berarti dengan Allah atau manusia. Salah satu sebab yang paling umum adalah pelecehan seksual atau penganiyaaan anak. Sering ini meninggalkan bekas luka yang hanya bisa disembuhkan melalui kasih karunia Allah.

Berbicara mengenai Yesus di kayu salib, penulis Ibrani berkata bahwa Ia “mengabaikan kehinaan tekun memikul salib…”(Ibrani 12:2). Pembunuhan di kayu salib adalah bentuk kematian yang paling hina (memalukan) dari semua, pada waktu itu, hanya disediakan bagi kriminal kelas rendah. Seseorang yang dibunuh, dilepas semua bajunya dan di pertontonkan telanjang kepada orang-orang yang lewat, yang mentertawakan dan mencemooh. Ini tingkat kehinaan yang Yesus tanggung sementara Ia tergantung di kayu salib (Matius 27:35–44).

Sebagai ganti dari kehinaan yang Yesus tanggung, tujuan Allah adalah membawa mereka yang percaya pada Dia untuk memberi kemuliaan kekal-Nya. Dalam Ibrani 2:10 penulis berkata: “Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah…membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.” Kehinaan yang Yesus tanggung di kayu salib membuka jalan bagi semua yang percaya kepada-Nya dibebaskan dari kehinaan. Bukan hanya itu, Ia memberi kita kemuliaan milik-Nya dengan hak kekekalan.

Luka lain yang sering membuat lebih menderita disbanding kehinaan adalah penolakan. Biasanya ini berakar dari hubungan yang retak. Dalam bentuk awalnya sekali, disebabkan oleh orang tua yang menolak anak-anak mereka sendiri. Penolakan bisa aktif, diekspresikan dalam sikap kasar, cara-cara negatif; atau bisa hanya kegagalan untuk menunjukkan kasih dan diterima. Perceraian sering menyebabkan rasa ditolak.

Pemeliharaan Allah untuk menyembuhkan luka-luka penolakkan di catat dalam Matius 27:46 dan 50, yang menggambarkan puncak dari penderitaan mendalam Yesus:

“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?…”

“Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.”

Untuk pertama kali dalam sejarah alam semesta, Anak Allah berseru kepada Bapa-Nya dan tidak mendapat respons. Begitu Yesus diidentifikasikan dengan kejahatan manusia sehingga kekudusan Allah tanpa kompromi membuat-Nya menolak bahkan Anak-Nya Sendiri. Dengan jalan ini Yesus menanggung penolakan dengan menderita sekali: penolakan oleh seorang bapa. Langsung setelah itu, Ia mati, bukan dari luka-luka penyaliban, namun dari hati yang hancur karena penolakan.

Catatan Matius selanjutnya: “Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah…” Secara simbolis ini mendemonstrasikan bahwa jalan telah dibuka bagi orang berdosa untuk masuk kedalam hubungan pribadi dengan Allah yang kudus. Penolakan Yesus telah membuka jalan bagi kita untuk diterima oleh Allah sebagai anak-anak-Nya. Ini disimpulkan oleh Paulus dalam Efesus 1:5-6: “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya…yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.” Penolakan Yesus menghasilkan diterimanya kita.

Pertolongan Allah untuk menyembuhkan kehinaan (rasa malu) dan penolakan yang membuat banyak orang putus asa sangat dibutuhkan saat ini. Banyak orang dewasa di dunia menderita luka-luka kehinaan dan penolakan. Dua aspek emosional dari pertukaran ilahi pada kayu salib bisa disimpulkan sebagai berikut:

Yesus menanggung kehinaan kita agar kita menerima kemuliaan-Nya. Yesus menanggung penolakan kita agar kita diterima oleh Bapa-Nya.

Aspek dari pertukaran ilahi di atas mencakup kebutuhan-kebutuhan paling dasar dan mendesak umat manusia, namun itu belum seluruhnya lengkap. Dalam prinsip pertukaran ilahi: kejahatan ditimpakan pada Yesus agar kebaikan bias ditawarkan pada kita. Begitu kita belajar mengaplikasikan prinsip ini dalam hidup kita, akan melepaskan pemeliharaan Allah bagi setiap kebutuhan kita.

Ada satu lagi aspek klimaks pertukaran ilahi final yang digambarkan oleh Paulus dalam Galatia 3:13-14: “Kristus telah menebus kita dari hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita (sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”), Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.”

Paulus mengaplikasikan pada Yesus di kayu salib undang-undang hukum Musa, dalam Ulangan 21:23, yang mana seseorang dihukum mati dengan digantung pada “pohon” (tiang gantungan kayu) dengan demikian ia berada di bawah kutuk Allah. Lalu Paulus menunjukan hasil yang berlawanan dengan kutuk, yang adalah berkat.

Tidak dibutuhkan seorang teolog untuk menganalisa aspek pertukaran ilahi ini: Yesus menjadi kutuk agar kita bisa masuk kedalam berkat.

Kutuk yang ditimpakan pada Yesus di definisikan sebagai “kutuk dari hukum.”

Dalam Ulangan 28, Musa memberi seluruh daftar lengkap berkat hasil dari mentaati hukum dan kutuk hasil dari pelanggaran. Kutuk didaftar dalam Ulangan 28:25-68 sebagai berikut: kehinaan, kemandulan atau tak berbuah, sakit mental dan fisikal, kehancuran keluarga, kemiskinan, kekalahan, tekanan, kegagalan, tidak ada kemurahan Allah.

Untuk mengapresiasi seluruh kengerian kutuk yang ditanggung Yesus, coba bayangkan sementara Dia digantung di kayu salib.

Yesus ditolak oleh bangsa-Nya sendiri, dikhianati oleh satu dari murid-murid-Nya, dan ditinggalkan oleh sisa murid-murid-Nya (walaupun beberapa kembali setelah melihat penderitaan akhir-Nya). Dia digantung telanjang antara bumi dan surga. Tubuh-Nya didera oleh sakit luka-luka yang tak terhitung banyaknya. Jiwa-Nya dibebani kesalahan seluruh umat manusia. Bumi menolak Dia, dan surga tidak merespons teriakkan-Nya. Ketika sinar matahari terbenam dan kegelapan menutupi-Nya, darah-Nya menetes keatas debu tanah berbatu. Namun, keluar dari kegelapan, sebelum Dia mati, terdengar satu suara final, teriakan kemenangan: “sudah selesai!”

Dalam teks Yunani frasa, “sudah selesai,” itu terdiri dari hanya satu kata. Yang berarti “menjadikan lengkap atau sempurna.” Dalam bahasa Inggris, “lengkap selengkapnya” atau “sempurna secara sempurna.”

Yesus mengambil alih atas diri-Nya Sendiri setiap akibat jahat dari pemberontakan umat manusia. Ia mengambil setiap kutuk dari pelanggaran hukum Allah. Kita sebaliknya bias menerima setiap berkat karena ketaatan-Nya. Pengorbanan seperti itu menakjubkan dalam lingkupnya, namun mengagumkan dalam kesederhanaannya.

Apakah kita bisa menerima dengan iman gambaran dari pengorbanan Yesus dan dari semua yang Ia sudah sediakan untuk kita? Apakah kita sekarang berhasrat untuk masuk kedalam seluruh pemeliharaan Allah?

Ada satu halangan yang kita harus hadapi – dosa kita yang belum diampuni. Apakah kita punya jaminan bahwa dosa-dosa kita sudah diampuni melalui pengorbanan Yesus? Jika belum, kita harus mulai disitu. Kita bisa menyampaikan doa sederhana seperti berikut: Allah, saya mengakui bahwa saya orang berdosa dan ada dosa yang belum diampuni dalam hidup saya. Saya percaya bahwa Yesus dihukum agar saya bisa diampuni, dan saya minta pada-Mu sekarang: Ampuni semua dosa saya, dalam nama Yesus.

Firman Allah berjanji bahwa “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Sesudah melakukan doa sederhana diatas, percaya saja bahwa Allah sudah benar-benar mengampuni semua dosa kita.

Ada satu respons sederhana yang kita perlu lakukan -ekspresi yang paling sederhana dan murni dari iman yang benar. Katakan “Terima kasih!”

Katakan, “Terima kasih! Terima kasih, Tuhan Yesus, bahwa Engkau dihukum agar saya bisa diampuni. Saya tidak mengerti sepenuhnya, namun saya percaya dan saya berterima kasih!”

Dengan halangan dosa disingkirkan, jalan terbuka bagi kita untuk masuk kedalam seluruh pemeliharaan lain Allah yang sudah disediakan melalui salib. Seperti pengampunan dosa, semua harus diterima dengan iman sederhana dalam Firman Allah.

Setiap dari kita mempunyai kebutuhan-kebutuhan khusus dan setiap dari kita harus datang kepada Allah secara pribadi untuk menerima pemeliharaan-Nya. Berikut kata-kata umum yang kita bisa pakai untuk meng-klaim pemeliharaan apa saja dari Allah:

Tuhan Yesus, saya berterima kasih Engkau dilukai agar saya disembuhkan.

Tuhan Yesus, saya berterima kasih Engkau dibuat berdosa dengan dosa saya agar saya bisa dibenarkan dengan kebenaran-Mu.

Tuhan Yesus, saya berterima kasih Engkau mati untuk saya agar saya bisa menerima hidup-Mu.

Tuhan Yesus, saya berterima kasih Engkau menanggung kemiskinanku agar saya bisa mendapatkan kelimpahan-Mu.

Tuhan Yesus, saya berterima kasih Engkau menanggung kehinaanku agar saya bisa mendapatkan kemuliaan-Mu.

Tuhan Yesus, saya berterima kasih Engkau menderita penolakanku agar saya bisa diterima Bapa.

Tuhan Yesus, saya berterima kasih Engkau dibuat menjadi kutuk agar saya bisa masuk kedalam berkat.

Setiap doa yang kita panjatkan progresif. Doa awal kita telah melepaskan kuasa Allah kedalam hidup kita. Namun, itu hanya permulaan. Agar bisa mendapatkan seluruh

pemeliharaan yang kita cari, kita perlu melakukan tiga hal:

  1. Selidiki kebenaran-kebenaran dalam Alkitab untuk kebutuhan kita.
  2. Secara rutin mengulang pengakuan setiap aspek dari pertukaran ilahi yang menjawab kebutuhan-kebutuhan kita.
  3. Secara rutin mengulang pengakuan iman kita dengan mengucapkan terima kasih kepada Allah untuk apa yang Ia sudah sediakan.

Semakin sering kita mengucapkan terima kasih kepada Allah, kita semakin lebih percaya apa yang Ia sudah lakukan bagi kita. Semakin kita lebih percaya, kita semakin ingin lebih sering mengucapkan terima kasih kepada-Nya.

Dua hal ini – percaya dan berterima kasih, berterima kasih dan percaya – akan membawa kita kedalam kepenuhan pemeliharaan Allah.

Ada satu – dan hanya satu – dasar untuk setiap pemeliharaan kasih karunia Allah: Pertukaran ilahi di kayu salib. Daftar dalam doa diatas tidak lengkap. Ada aspek- aspek lain dari pertukaran ilahi bisa ditambahkan. Namun semua aspek pemeliharaan Allah melalui pengorbanan Yesus memiliki perbedaan kebutuhan masing-masing. Alkitab menyimpulkan itu semua dalam satu kata besar: “keselamatan.” Orang-orang Kristen sering membatasi pemeliharaan Allah dengan pengampunan dosa dan lahir baru. Itu benar namun itu hanya bagian pertama dari seluruh “keselamatan” yang diungkapkan dalam Perjanjian Baru. Pemeliharaan Allah lebih dari itu.

 

Oleh Loka Manya Prawiro.



Leave a Reply