Input your search keywords and press Enter.

KERAP MEMARAHI ANAK BALITA: WASPADALAH!

“Seandainya anak balita itu bisa lari, pasti ia sudah memilih tindakan demikian untuk penyelamatan diri”

B.S.Sidjabat

Media massa cukup sering melaporkan tindak kekerasan yang dilakukan oleh orangtua terhadap anaknya. Pada tanggal 26 September 2016 seorang ibu (DE) di Depok ingin membunuh bayinya karena kesal kepada suami. Ia menutupi wajah bayinya dengan bantal. Untunglah tindakan itu segera dicegah oleh anggota keluarganya. Kemudian, pada tanggal 3 Oktober 2016 ibu M (28) di Cengkareng, tega memutilasi bayinya berusia satu tahun. Memang, ibu itu kemudian mengaku sangat menyesali perbuatannya.

Sebelum anak balita menjadi korban penganiayaan fisik dari orangtuanya, tentu ia telah menerima kemarahan yang dilampiaskan. Entah berapa kali anak menjadi objek kemarahan sebelum akhirnya mengalami kekerasan. Seandainya anak balita itu bisa lari, pasti ia sudah memilih tindakan demikian untuk penyelamatan diri. Namun, ketidakberdayaan telah membuatnya harus menerima derita yang berat.

Tulisan ringkas ini ingin menjawab dua pertanyaan: Apa saja bahayanya bagi anak balita bila ia kerap dimarahi oleh orangtua?  Bagaimana sepatutnya orangtua mendisiplinkan anak balita tanpa harus membentak dan memarah

Bentuk-bentuk ekspresi kemarahan

Orangtua biasanya memarahi anak dengan suara keras atau teriakan. Kata-kata kasar diucapkan. Caci maki dan kutukan diungkapkan. Ada kalanya orangtua berdiri bertolak pinggang, dengan mata melotot kepada anak sambil menggertak, membentak dan melampiaskan kekesalan karena anak menangis, merengek atau tidak menuruti saran atau perintah.

Anak yang menerima bentakan itu tertunduk lesu. Ketakutan. Bisa jadi badannya gemetaran. Ingin menangis tetapi disuruh diam. Ada juga anak yang tanpa sadar kencing di celana karena ketakutan. Jika perlakukan demikian hampir tiap hari dialami anak, maka pengalaman itu membawa sejumlah kerugian atau dampak buruk.

Pengaruh buruk terhadap kesehatan fisik

Para ahli psikologi perkembangan berpendapat bahwa belaian yang diberikan ibu kepada kepala bayi disertai nyanyian kasih, akan merangsang pertumbuhan sel-sel otak anak. Sebaliknya, kemarahan, gertakan yang dialami memberi pesan bahwa ia tidak dikasihi. Pengalaman buruk itu dapat menghambat pertumbuhan sel otak anak. Setelah usia dua tahun tampaklah bahwa anak lambat berpikir. Kurang responsif.

Suara keras dan emosional yang didengar anak juga akan membuat jantung anak berdegup kencang. Seolah jantungnya mengalami paksaan untuk bedegup lebih kencang karena ketakutan. Secara perlahan, hal itu menyebabkan kelelahan jantung. Wajah pucat, keringat di tubuh, menjadi tanda bahwa anak merasa lelah dan letih.

Pengaruh buruk terhadap emosi

Usia dua tahun pertama disebut para ahli psikologi sebagai masa pembentukan rasa percaya diri anak. Melalui cinta kasih orangtua anak balita belajar memercayakan dirinya kepada pribadi lain. Bila diajak tertawa ia mau. Bila ditawarkan pelukan dan dekapan, anak memberi respon lalu duduk di pangkuan ibu atau ayahnya.

Sebaliknya, kemarahan orangtua membuat anak sulit memercayai orang yang dekat dengan dirinya, meskipun ia diberi makan dan minum. Ia merasakan adanya jarak emosi. Secara perlahan anak menjadi sulit pula untuk menerima kasih dari orang lain di luar keluarga. Selain itu, anak menjadi mudah marah terhadap temannya di luar rumah seolah merefleksikan pengalaman buruk yang diterima.

Pengaruh buruk bagi aspek sosial

Karena sering dibentak atau diteriaki oleh orangtua, anak menjadi sulit mendengar pendapat orang lain. Sebab ia telah belajar bahwa sedikit saja berbuat kesalahan sudah mendapat kata-kata kasar dan makian. Tanpa ditanya apa sebabnya anak melakukan pelanggaran, ia sudah dimarahi ayah, ibu atau pengasuhnya. Nama hewan disebut untuk memanggilnya. Akibatnya ia belajar menghindar dari orang yang ingin mendekat agar tidak dipersalahkan. Sebaliknya, bisa muncul perilaku sulit konsentrasi dan tenang. Selain rendah diri ia merasa gelisah di tengah komunitas.

Pengaruh buruk bagi keadaan rohani

Sebagai manusia pembawa rupa dan gambar Allah, anak memiliki roh di dalam dirinya disamping pikiran dan emosi (bd. 1 Tes 5:23). Roh anak turut tertekan oleh kemarahan orangtua atau pengasuh. Hal demikian membuatnya sulit menikmati kegiatan doa atau memuji Tuhan.

Nah, jika orangtua yang gemar memarahi anak balita dapat berdampak buruk, apa yang sepatutnya dilakukan dalam mendisiplinkannya? Ada dua hal penting yang dikemukakan.

Dengarkanlah perasaan anak

Jika anak berbuat salah seperti tidak sengaja menjatuhkan gelas berisi minuman atau piring berisi makanan, adalah bijak bila orangtua belajar menahan emosi. Ibu yang berhikmat akan bertanya dan berkata, “Ada apa sayang? Gelasmu berat? Ayo kita bersihkan dulu ya!” Walau terbata-bata ceritanya, namun sikap orangtua mendengar isi hati anak akan membuatnya percaya diri. Akan muncul isiniatif dalam hatinya untuk tidak mengulangi kesalahan serupa. Ia akan minta tolong kepada orangtua bila mengalami kesulitan.

Berikan pujian atas sikap atau tindakan yang baik

Menghadiahi anak dengan kata-kata, “Wah, kamu hebat sayang!” akan membangkitkan emosi positif dalam dirinya. Perbuatan itu secara perlahan akan memunculkan sikap serupa. Sebab, anak balita adalah peniru yang ulung. Apa yang didengar, dilihat, dirasakan tertanam dalam memori dan perasaannya. Orangtua yang mengaculkan jempol atas kebaikan anaknya akan membuat hatinya merasa dihargai.

 

Akhir kata, kitab Injil mencatat tindakan Yesus ketika menyambut anak-anak kecil yang dibawa oleh orangtua kepada-Nya. Ia memeluk mereka. Ia menumpangkan tangan dan memberi berkat bagi mereka. Entah apa yang menjadi percakapan Tuhan dengan anak-anak itu. Ada indikasi bahwa anak-anak merasa senang di dekap Yesus (Mat 19:13-15). Mintalah belas kasihan Tuhan menguasai hati dan pikiran, agar kreatif mengasuh anak yang dikaruniakan-Nya!

 

 

 

 

Leave a Reply