Input your search keywords and press Enter.

Yonky Karman: SETIA

 

Serius dengan harta duniawi tidak harus menjadi materialistis, mata duitan, atau hamba uang ….

Dalam Lukas 16:1–13, Yesus mengisahkan sebuah perumpamaan tentang seorang pengurus rumah (oikonomos) yang memboroskan (diaskorpizo) harta majikannya. Seorang oikonomos, seakar dengan kata “ekonomi”, idealnya ekonomis, hemat, tidak boros. Tidak begitu dengan pengurus rumah ini. Karena wanprestasi dalam mengelola harta majikan, ia harus membuat sebuah laporan pertanggungjawaban yang lengkap mengenai pekerjaannya selama ini dan, setelah itu, tidak boleh lagi bekerja di rumah itu. Selama masih bekerja, pengurus rumah yang tidak biasa bekerja berat itu memikirkan apa yang masih bisa dilakukannya agar kelak ada orang lain yang mau mempekerjakannya kalau ia sudah keluar.

Ia memanggil orang-orang yang berutang kepada majikannya. Kepada orang yang berutang 100 tempayan minyak, ia memberikan surat utang baru senilai 50 tempayan. Orang yang berutang 100 pikul gandum dibuatkan surat utang baru senilai 80 puluh pikul. Semua itu dilakukan tanpa pengetahuan serta izin majikan, dan sah hitam di atas putih, tak bisa dibatalkan majikan. Apabila sebelumnya, mungkin ia tak sengaja merugikan majikan, sekarang ia sengaja memetik keuntungan di atas kerugian majikan. Itulah pengurus rumah “yang tidak jujur”.

Anehnya, sang majikan memuji pegawai tidak jujur ini. Yang dipuji bukan ketidakjujurannya, melainkan tindakannya yang “cerdik” (phronimos). Yesus pernah menyinggung tentang “pengurus rumah yang setia (pistos) dan bijaksana (phronimos)” di bagian lain Injil Lukas (Luk. 12:42). Perumpamaan kita juga tentang pengurus rumah yang “setia” (pistos) dan bijaksana. Dalam ungkapan lain, ia cerdik (phronimos) seperti ular meski pun tak tulus seperti merpati (band. Mat. 10:16).

Sang majikan memuji pengurus rumah itu dengan ungkapan “anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang”. Ungkapan “anak-anak” di sini bukan anak biologis, melainkan orang-orang yang serupa karakteristiknya. Anak-anak dunia ini adalah mereka yang hidupnya hanya berorientasi pada dunia ini. Anak-anak terang adalah mereka yang hidupnya berorientasi dunia akhirat. Cara pikir dan cara kerja pengurus rumah itu sangat duniawi, tetapi cerdik. Ada orang yang giat mencari uang, tetapi nilai tambahnya hanya sebatas dunia ini. Kaya di dunia, tetapi tidak di surga.

Pengurus rumah ini dipuji karena bertanggung jawab atas masa depannya. Kita juga harus bertanggung jawab atas masa depan masing-masing. Untuk itu, “barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” Yang dimaksud dengan perkara-perkara kecil adalah “mamon yang tidak jujur”. Kata “mamon” merujuk pada harta duniawi, uang, kekayaan, atau keuntungan. Harta duniawi sendiri netral, tidak berdosa ataupun buruk, tetapi cara memperolehnya atau tujuan pemakaiannya sering tidak jujur.

Memperoleh harta duniawi termasuk perkara kecil, tetapi harta duniawi dapat menjadi jalan untuk “perkara-perkara besar”, untuk “diterima di dalam kemah abadi.” Setia dalam perkara-perkara kecil juga sebuah jalan untuk setia dalam perkara-perkara besar. Belajar menghargai harta duniawi sebagai jalan menghargai harta yang tersimpan dalam keabadian. Setia dalam perkara-perkara kecil juga harus benar dalam perkara-perkara kecil sebab “barangsiapa tidak benar (adikos) dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Mula-mula pengurus rumah itu dinilai “tidak jujur” (adikia), juga mamon, tetapi akhirnya ia dinilai benar dalam perkara-perkara kecil.

Serius dengan harta duniawi tidak harus menjadi materialistis, mata duitan, atau hamba uang sebab “seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.” Mengabdi kepada Tuhan harus segenap hati. Cinta kepada Tuhan mustahil bersemi dalam hati orang yang cinta uang. Mustahil Tuhan memercayakan harta surgawi kepada orang yang cinta uang.

Kita tidak hanya mencari nafkah, mencari duit, tetapi kesetiaan kita juga diuji dalam perkara-perkara kecil. Kesetiaan itu akan menentukan apakah kita nantinya bisa setia dalam perkara-perkara besar terkait keabadian.

 

Leave a Reply