Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Presiden

Presiden (to preside “memimpin”) adalah pemimpin. Dalam konstitusi kita, presiden tidak hanya pemimpin/kepala negara, tetapi juga pemimpin/kepala pemerintahan. Dengan pemilihan langsung, baik buruk nasib bangsa lima tahun ke depan tidak bisa dilepaskan dari pilihan rakyat dalam pemilu. Sebagai warga Indonesia, kita tidak bisa tetap apatis dan lepas tangan dalam pemilihan presiden.

Tidak memakai hak pilih berarti membiarkan orang lain memilihkan untuk kita. Jika secara sadar tidak memilih berarti kita meragukan kualitas para calon. Pengalaman memang membuktikan. Rakyat berharap terlalu banyak pada pemilihan presiden 1999. Pemilu 2004
juga menjanjikan perubahan, namun tidak sedikit rakyat yang kecewa. Memakai hak pilih tidak berarti salah satu calon harus amat baik. Ada kalanya kita bingung, terutama jika menurut penilaian kita, calon yang ada nilainya di bawah 6. Untuk presiden terpilih nanti, siapa pun dia, jangan lupa untuk menepis keraguan ini dengan kerja keras. Buktikan konsistensi antara kata dan laku, janji dan pemenuhan.

Bagi umat kristiani, ketiga calon berlatar nasionalis dan secara ideologis tidak bermasalah. Ketiga calon juga memiliki pengalaman kepresidenan. Megawati pernah menjadi presiden.
SBY dan JK masing-masing masih menjabat sebagai presiden dan wakil presiden (incumbent). Kombinasi latar militer-sipil pun dimiliki ketiga pasangan. Dari segi kepemimpinan, mereka memiliki kapasitas masing-masing.

Salah satu yang membedakan mereka, calon yang satu kebetulan presiden yang sedang menjabat dan dua calon lain mengingini jabatan presiden. Maka, yang satu slogannya “Lanjutkan!” dan yang lain “Perubahan” Kita mesti jelas apa saja yang perlu dilanjutkan. Rangkaian musibah, inefisiensi birokrasi, lebih dari 100 juta penduduk Indonesia masih hidup di bawah pendapatan 2 dollar AS per hari, banyak gedung sekolah yang rusak, harga kebutuhan pokok yang merayap naik, peringkat sebagai negara terkorup di Asia. Jelas itu tidak boleh berlanjut. Tetapi, inikah yang diimpikan para penganjur perubahan? Apakah melanjutkan tidak perlu perubahan? Apakah perubahan tidak perlu melanjutkan? Jangan sampai “Lanjutkan!” adalah kamuflase ambisi untuk tetap berkuasa. Jangan sampai “Perubahan” adalah kamuflase harapan “Gantian dong jadi presiden!”

Salah satu kekurangan besar presiden-presiden Indonesia adalah sering mendengar keluh-kesah rakyat namun tidak serius memerhatikannya. Presiden kita baru belajar “mendengar” (to hear), tahu ada masalah ini itu, namun belum “mendengarkan” (to listen to), sengaja mendengar dengan atensi untuk ditindaklanjuti (to give heed, to take advice).

Dalam masa kampanye, tim sukses masing-masing calon menampilkan berbagai cara untuk
menaklukkan rakyat. Pemimpin bangsa sejatinya tidak perlu menaklukkan rakyat, apalagi
memanipulasi fakta dan data untuk tujuan itu. Ia menaklukkan diri kepada rakyat. Mendengarkan suara rakyat. Menjalankan amanat rakyat. Itulah kepemimpinan yang melayani. Pemimpin yang terpikat kepada rakyatnya. Rakyat selalu di hatinya. Daripada bergaya memerintah, ia menampilkan kepemimpinan yang memberi teladan. Figur seperti
itu tampil adanya. Ia takut tampil berlebihan dan penampilan seperti itu pasti merusak ketulusannya untuk mengabdi. Ia tahu berdiam diri untuk introspeksi “Sungguhkah rakyat di
hatiku?”

Indonesia perlu presiden yang, demi rakyat, mau pasang badan untuk dijauhi partai koalisinya, bahkan parlemen yang koruptif. Berdosalah segala omongan “demi rakyat” yang keluar dari mulut pemimpin, jika hasrat untuk berkuasanya lebih besar daripada kerelaannya untuk berkorban demi kebaikan bangsa.

Memilih presiden adalah siklus untuk memulai harapan baru. Langkah awal yang menentukan perjalanan bangsa ke depan. Kita masih bisa berperan lebih dari itu. Di era demokratis seperti sekarang, berbagai media dapat dipakai untuk menyampaikan kritik dan aspirasi. Jangan percayakan nasib bangsa hanya kepada elite politik. Mari kita ikut mengawal praksis politik dengan berbagai cara, mulai dari berdoa hingga langsung mengupayakan kesejahteraan negeri, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraan kita (Yer. 29:7).

 

Yonky Karman Ph.D
Rohaniwan & Pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta

Leave a Reply