Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Henokh

Meski Henokh hanya disebut di satu tempat dalam Perjanjian Lama (Kej. 5:21-24), ia mempunyai tempat khusus dalam tradisi Yahudi maupun Kristen. Dalam tradisi Yahudi, Henokh digambarkan sebagai sosok yang dipercaya Tuhan sehingga kepadanya diberitahukan rahasia-rahasia ilahi. Ia boleh mengetahui rencana dan maksud Tuhan atas dunia. Dalam tradisi Kristen, Henokh digambarkan sebagai sosok yang percaya bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Allah dan dalam arti itu ia termasuk pahlawan iman (Ibr. 11:5-6).

Henokh istimewa dalam cara hidupnya dan cara hidupnya berakhir. Dalam daftar keturunan Adam melalui Set (Kej. 5), satu per satu digambarkan lamanya hidup, kemudian ditutup dengan ungkapan “lalu ia mati.” Henokh digambarkan berbeda. Cara hidupnya adalah bergaul dengan Allah (BIS “hidup akrab dengan Allah”). Cara hidupnya berakhir adalah diambil Allah (lqh), sebuah eufemisme untuk kematian (Yeh. 24:16; Yun. 4:3). Ungkapan “tidak ada lagi” (’enennu) juga sebuah eufemisme untuk kematian, paling sering dipakai untuk lenyap tiba-tiba, tidak diharapkan, atau tidak dapat dijelaskan (Kej. 37:30; 42:13, 32, 36; Ayb. 7:8, 21; 8:22; Mzm. 37:10, 36; 39:14; 59:14; 103:16; 104:35; Yer. 31:15; 49:10; Yeh. 28:19).

Dibandingkan dengan orang-orang pada zaman itu, umur Henokh terlalu singkat. 365 tahun. Lamekh, keturunan Henokh, saja berusia 777 tahun. Namun, 365 adalah sebuah angka bulat untuk jumlah hari dalam Tahun Syamsiah (Tahun Masehi yang didasarkan pada perjalanan bumi mengelilingi matahari/syamsu). Meski paling pendek umurnya, bilangan jumlah tahun usia Henokh adalah bulat. Agar orang tidak salah tafsir mengira Henokh pendek umur karena dihukum Tuhan, maka ditegaskan kembali bahwa “Henokh hidup bergaul dengan Allah,” sekaligus menunjukkan keistimewaan Henokh dibandingkan keturunan Set lainnya.

Harfiah ungkapan “bergaul dengan Allah” adalah “berjalan bersama Allah.” Hanya Nuh yang juga digambarkan sebagai “hidup bergaul dengan Allah” dengan ungkapan Ibrani yang persis sama (Kej. 6:9). Orang-orang pada zaman Nuh memiliki kecenderungan hati yang membuahkan kejahatan, namun Nuh
dijumpai sebagai sosok yang “benar dan tidak bercela” (şaddiq tamim). Di tengah ketidakbenaran, Nuh hidup benar. Di tengah kehidupan yang tercela, hidup Nuh tidak bercela. Nuh secara moral tampil beda.

Ibrani şaddiq adalah sebuah konsep sosial dalam konteks hukum. Seseorang digambarkan sebagai şaddiq ketika bertingkah laku sesuai dengan peraturan dan hukum. Ibrani tamim adalah sebuah konsep ritual dan sering dipakai untuk hewan kurban yang “tidak bercela” (Kel. 12:5; Im. 1:3). Untuk orang, tamim berarti integritas hidup (Kej. 17:1; Mzm. 15:2; 18:24//2Sam. 22:24). Karena itu, kadang tamim diterjemahkan “orang saleh” (Ayb. 12:4; Ams. 11:5) atau “mengabdi … dengan sepenuh hati” (Ul. 18:13, BIS). Nuh digambarkan bergaul dengan Allah karena ia benar secara hukum dan berintegritas. Kesalehan Nuh pertama-tama tidak bersifat vertikal-individual, tetapi horizontal-sosial. Kerohanian Nuh tidak berkembang di ruang hampa moral, tetapi di dalam kenyataan hidup sehari-hari yang keras dan penuh tantangan. Nuh berhasil membuktikan dirinya saleh dan moralitasnya teruji.

Demikianlah juga jika Henokh digambarkan “bergaul dengan Allah.” Henokh menjadi saleh bukan dengan menarik diri dari kehidupan sosial atau asyik menikmati persekutuan pribadi dengan Tuhan. Menurut Yesus bin Sirakh, “Henokh berkenan pada Tuhan dan diangkat, suatu teladan pertobatan untuk segala angkatan.” Menurut Surat Yudas, Henokh dikenang karena bernubuat tentang hukuman yang akan menimpa orang jahat (Yud. 14-15). Henokh sosok yang terlibat dengan zaman. Ia keluar dari kesalehan pribadi dan membaur di tengah masyarakat tanpa harus menjadi sama dengan mereka.

Henokh memiliki kesalehan yang terlibat. Iman yang terlibat. Moralitas yang terlibat. Dunia bukan ajang reality show, tetapi ajang peperangan moral yang sesungguhnya. Di situlah ujian kesalehan kita.

 

Oleh Yonky Karman Ph.D
Rohaniwan & Pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta

Leave a Reply