Input your search keywords and press Enter.

BERDAMAI DENGAN PAILIT

Keuangan Ilahi

    Benny Santoso, M.Com. CFP®

“Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN! Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.” (Ayub 1:20-22)

Tidak seorang pun ingin mengalami pailit (kebangkrutan) dalam hidup mereka. Setiap orang senantiasa ingin mendapatkan hidup yang baik, serba cukup, dan tidak kekurangan apa pun. Oleh karena itu, tidak seorang pun yang dengan sadar melakukan aktivitas yang membuat diri mereka pailit. Tujuan di kepala mereka ketika melakukan suatu tindakan adalah mendapatkan hidup yang lebih baik.

Kenyataannya, banyak orang yang mengalami bahwa hasil tindakan mereka ternyata tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Inginnya mendapatkan keuntungan, tetapi yang didapat adalah kerugian. Oleh karena itu, pailit seringkali tidak bisa dihindari.

Kita harus menyadari bahwa sering kali Tuhan melatih kita dengan membawa
kita masuk ke kondisi yang tidak mengenakkan menurut kita. Jika kita
berada dalam kondisi seperti ini, kita bisa belajar dari Ayub agar mampu
melewati keadaan pailit dengan baik. Bahkan, kondisi kita akan menjadi
berlipat kali dari kondisi sebelum pailit.

MENERIMA KENYATAAN

Pailit dalam hidup orang Kristen biasanya membawa dampak yang lebih berat. Banyak orang Kristen yang tidak terima ketika mengalami pailit.
Mereka memulai dengan doa dan sangat yakin Tuhan akan memberkati apa pun yang mereka lakukan. Dengan melakukan hal ini mereka beranggapan bahwa setiap tindakan mereka pasti akan mendatangkan keuntungan. Jika Tuhan menyertai, hasilnya pasti menguntungkan. Mereka menjadi sangat tertekan ketika sesuatu yang melibatkan Tuhan ternyata tidak membawa hasil yang baik menurut mereka. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus kita lakukan ketika mengalami pailit adalah menerima kenyataan dan belajar mengucap syukur.

BERFOKUS PADA SOLUSI

Ketika mengalami pailit, biasanya orang cenderung menyalahkan pihak lain termasuk Tuhan. Jangan menyalahkan siapa pun (termasuk diri kita) ketika kita pailit. Kondisi sudah terjadi, jadi jangan menyalahkan siapa pun, tetapi berusahalah mencari solusi.

Ketika sedang membangun pagar rumah saya, para pekerja kurang hati-hati sehingga hasilnya tampak kurang memuaskan. Beberapa teman yang melihat kondisi pagar rumah saya memberi tahu kekurangan pagar tersebut dengan detail. Saya tidak perlu pemberitahuan mengenai kekurangan tersebut terlalu detail karena saya sudah bisa melihat sendiri. Hal yang saya perlukan adalah usulan untuk membuat pagar itu menjadi lebih baik. Menceritakan kejelekan pagar itu tidak akan membuat perubahan apa pun. Solusi untuk membuat pagar saya menjadi lebih baik lebih bermanfaat untuk didiskusikan. Ketika kita menghadapi pailit, sering kali kita hanya membicarakan “kepailitan” itu dan bukannya langkah praktis untuk bisa menyelesaikan masalah kita.

MENYADARI BAHWA PAILIT HANYA KEADAAN SEMENTARA

Kita semestinya menyadari bahwa ini semua adalah keadaan sementara saja. Ketika kita pergi ke dokter karena sakit, sering kali kita harus mengalami “sakit” tambahan karena disuntik. Sakit tambahan ini hanya bersifat sementara dan bisa membawa kesembuhan. Jika karena tidak mau mendapatkan “sakit tambahan” membuat kita tidak mau ke dokter, sebenarnya kita sedang memperparah kondisi kita. Kita harus menganggap bahwa pailit ini hanyalah “sakit tambahan” dalam hidup kita yang cepat atau lambat akan membuat hidup kita menjadi bertambah baik.
Kita harus menyadari bahwa Tuhan ikut bekerja dalam setiap aspek hidup
kita dan semuanya mendatangkan kebaikan untuk kita. Tuhan ikut bekerja dalam segala hal.

MENGETAHUI PENYEBAB PAILIT

Kita harus mencari tahu penyebab pailit. Jika penyebabnya adalah kesalahan yang ada dalam kontrol kita usahakanlah untuk menghilangkan
penyebab tersebut. Dengan melakukan ini semua, kita akan bisa membuat pailit bukannya menjadi batu sandungan, melainkan batu pijakan untuk membuat kita menjadi semakin kuat. Amin!

Leave a Reply