Input your search keywords and press Enter.

Kerapuhan Tak Terlihat

Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih… dan kepada ketabahan Kristus.
(I Tes. 3:5)

Bacaan: Roma 8:35

Liu Xing Mahasiswa terbaik dari Beijing. Ia dikirim untuk belajar di USA. Di sana ia belajar di bawah arahan Professor Jack yang disebut sebagai Profesor Reiser. Mereka mempelajari teori Materi gelap dalam ilmu Kosmologi. Liu Xing seorang pembelajar yang tekun dan mengagumkan. Pemikirannya selalu berjalan dengan begitu logis, sistematis. Ia adalah seorang calon peraih Nobel di bidang Kosmologi. Tetapi akhir kisahnya di Amerika ia goreskan dengan begitu tragis. Ia mati bunuh diri di ujung pistolnya sendiri setelah ia menembak mati beberapa dosen penguji yang meluluskan rekannya sesama Mahasiswa dari Beijing. Rekan Mahasiswanya itu ternyata adalah seorang pencuri teori materi gelap yang telah ia temukan sebelumnya.

Di balik jubah kepandaian seorang calon peraih Nobel itu tidak terlihat sama sekali kerapuhan jiwa. Yang terlihat hanyalah ketekunan, semangat tinggi, dan impian yang menggebu-gebu tentang keberhasilan, masa depan, kepopuleran, pujian dan sanjungan kekaguman dari orang lain. Begitu tiba saatnya impiannya tertolak dan belum tercapai, ternyata pemikiran logisnya tidak begitu siap menerima itu semua.

Pemikiran logis dan sistematisnya ternyata tidak selamanya bisa menumbuhkan ketabahan di dalam jiwanya.

Ketabahan sangat penting sekali di dalam hidup ini. Ketabahan sebenarnya hanya bisa bertumbuh di dalam karakter seseorang yang hidup dengan takut terhadap Tuhan. Ketabahan menambah-nambahkan pengharapan serta iman. Ketabahan membentuk kekuatan yang lebih kuat untuk menghadapi permasalahan. Ketabahan memberikan kemampuan untuk Daud bertahan menghadapi cemoohan ketika ia berdiri di hadapan Goliat. Ketabahan juga membuat Musa bertahan ketika ia diperhadapkan dengan besarnya gelombang Laut Merah di depannya dan persungutan orang-orang Israel di belakangnya. Ketabahan membuat Yesus Kristus, Tuhan kita mampu berjalan tertatih-tatih memikul salib dan bersedia tersalib di atas bukit Golgota untuk menebus dosa-dosa setiap kita dan menyembuhkan sakit-penyakit kita.

Hari lepas hari, selama kita hidup di dunia ini tetap sama seperti hari ini –permasalahan  masih tetap kita hadapi. Pertanyaannya, masihkah kita memiliki ketabahan hidup sampai detik ini atau ketabahan itu sudah terlalu lama memudar? Hari ini, kita ambil sikap yang terbaik, terus pertahankan ketabahan dalam diri dan karakter kita!

Tidak ada resep yang lebih baik saat menjalani kehidupan penuh duri; berjalanlah mengenakan ’sepatu’ ketabahan, di situ kita akan dimampukan Tuhan berjalan sampai tujuan.

Leave a Reply