Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

PASKAH




eBahana.com –¬†Di dalam Perjanjian Lama, Paskah atau “Passover” atau “Pesakh” (Ibrani) atau “Pascha” (Yunani) adalah perayaan pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir, di mana pada saat itu di adakan upacara “roti tidak beragi” dan “persembahan anak sulung” dengan “upacara korban domba paskah”, dan merupakan perintah Tuhan agar dikenang oleh Musa dan bani Israel (Keluaran 12:14,17,21).

Pada masa lalu, umat Allah merayakan Paskah dalam berbagai lambang, karena seperti yang dinyatakan dalam Kolose 2:17 dan Ibrani 10:1, hari raya pada masa Perjanjian Lama adalah bayangan dari apa yang akan datang, dan wujudnya adalah Kristus. Pada masa kini, Gereja Tuhan di seluruh dunia merayakan Paskah dalam arti yang sesungguhnya dan sempurna yaitu Kristus Anak Domba Paskah (1 Korintus 5:7-8).

Sejalan dengan makna Paskah dalam Perjanjian Lama, Paskah dalam Perjanjian Baru menunjukkan kasih, anugerah, dan kuasa Allah yang meluputkan umat-Nya dari kutuk dan maut, membebaskan orang percaya dari perbudakan dosa serta memberikan kepastian kebangkitan kekal di akhir zaman, melalui kebangkitan Kristus.

Peristiwa penyaliban, kematian dan kebangkitan Kristus bukan saja mempunyai makna keluaran yang sama dengan Paskah Yahudi.

Upacara perjamuan makan “Roti tidak beragi” yang diadakan pada hari Jumat malam kemudian menjadi “Upacara Perjamuan Malam” yang dilakukan oleh Yesus dan rasulnya.

Upacara perjamuan itu kemudian dijadikan peringatan “jumat agung” dalam kalender Kristen. Sekalipun begitu, upacara makan roti perjamuan juga dirayakan setiap umat bertemu dalam persekutuan. Upacara makan roti perjamuan itu menyiapkan penebusan Yesus, dimana ia menjadi “Domba Paskah” disalibkan (Yohanes 20:1, 19, 26; Kisah Para Rasul 20:1; Korintus 16:2; Wahyu 1:10).

Perayaan mingguan mengenang kebangkitan Yesus inilah yang membuktikan dengan jelas bahwa peristiwa kebangkitan Yesus terjadi dalam sejarah, dalam ruang waktu, sebab dalam perayaan “Sabat” yang begitu ketat diikuti oleh umat yahudi dalam praktik umat kristiani – terutama Yahudi Kristen – telah bergeser menjadi “Hari Tuhan” yaitu kenangan akan hari kebangkitan.

Makna Paskah bagi orang Kristen sangat penting. Bersama Hari Natal, Paskah adalah perayaan terbesar umat kristiani. Karena itu, sudah sepatutnya kita mengerti tentang makna Paskah yang sesungguhnya bagi orang percaya, menurut Alkitab Perjanjian Baru. Sekalipun Paskah Kristen awalnya adalah untuk mengingat kematian Yesus, Paskah Kristen di Perjanjian Baru ternyata juga untuk memperingati kebangkitan-Nya (1 Korintus 15:17-19).

Makna Paskah yang sesungguhnya adalah penggenapan. Alkitab Perjanjian Lama berulang-ulang menubuatkan tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Dan itu semua telah digenapi saat penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Salah satunya adalah nubuat Nabi Yesaya, 700 tahun sebelum kelahiran dan kematian Yesus, yang menubuatkan tentang penderitaan dan kematian-Nya, yang disebutnya sebagai Hamba Tuhan. “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian;

seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena¬† pemberontakan umat-Ku ia kena tulah” (Yesaya 53:7-8).

Yesaya menyebut bahwa Yesus “terputus dari negeri orang-orang hidup.” Maksud Yesaya adalah bahwa Yesus mati karena dosa-dosa kita, seperti nyata dari ayat-ayat selanjutnya.

Dan Hamba Tuhan yang dimaksud Yesaya di situ jelas adalah Yesus Kristus, seperti dicatat di Kitab Kisah Para Rasul 8:32-35 di Perjanjian Baru.

Demikian juga dengan kebangkitan Yesus. Alkitab telah menubuatkan sebelumnya bahwa Yesus akan bangkit dari kematian. Hal ini terdapat di dalam beberapa ayat Perjanjian Lama. Salah satunya adalah dalam kitab Mazmur 16:8-11, yang penggenapannya melalui kebangkitan Yesus dikutip oleh rasul Petrus dalam kotbahnya pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:20-32)

Paskah bagi orang percaya adalah penggenapan atas nubuat-nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus yang menderita, mati, dan bangkit kembali.

Makna Paskah kedua adalah pengampunan. Pada saat perjamuan malam terakhir-Nya dengan murid-murid-Nya, Tuhan Yesus mengatakan bahwa darah-Nya, yang saat itu dilambangkan oleh anggur, adalah darah untuk pengampunan dosa bagi banyak orang.

“Sesudah itu ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Matius 27:27-28).

Dengan mengatakan bahwa darah-Nya adalah darah Perjanjian, maka Yesus menahbiskan sebuah perjanjian yang baru, yang berbeda dengan perjanjian lama. Jika Perjanjian Lama itu disahkan dengan darah domba, maka Perjanjian Baru ini disahkan dengan darah Yesus sendiri.

Dan jika dalam perjanjian yang lama pengampunan dosa tercapai dengan mempersembahkan korban-korban, maka dalam perjanjian yang baru ini pengampunan dosa terjadi melalui pengorbanan Yesus di kayu salib. Karena Yesus berbicara tentang darah-Nya, maka pastilah Ia berbicara tentang kematian-Nya, yang terjadi hanya beberapa jam setelah perjamuan malam tersebut.

Paskah bagi orang percaya adalah pengampunan dosa-dosa seluruh manusia atas korban Kristus di kayu salib. Tetapi pengampunan dosa tersebut “hanya efektif” bagi mereka yang percaya kepada-Nya.

Makna Paskah ketiga adalah pemulihan. Ketika manusia pertama (Adam dan Hawa) jatuh ke dalam dosa, maka hubungan manusia terputus dengan Allah. Dosa memisahkan manusia dengan Allah, yang maha kudus. Karena semua manusia adalah keturunan Adam dan Hawa, maka semua manusia juga mewarisi dosa Adam dan Hawa tersebut, yakni dosa asali atau dosa warisan. Dengan demikian maka hubungan semua manusia dengan Allah telah rusak.

Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk memulihkan hubungan kita yang rusak dengan Allah. Ia mendamaikan kita dengan Allah. Kepada jemaat di kota Roma, rasul Paulus mengatakan, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya” (Roma 3:25). Melalui kematian Yesus di kayu salib maka hubungan kita yang rusak dengan Allah akibat dosa, dipulihkan kembali. Paskah bagi orang percaya adalah pemulihan hubungan manusia yang rusak dengan Allah.

Makna Paskah keempat adalah jaminan. Alkitab berkata bahwa hukuman dosa adalah maut (Roma 6:23). Artinya, dosa-dosa kita seharusnya membawa kita pada maut – kematian kekal – neraka. Namun karena kasih Allah begitu besar bagi manusia yang berdosa, maka Ia telah mengutus Anak-Nya, Yesus, untuk mati bagi kita sehingga kita tidak perlu mengalami kematian kekal tersebut, malahan akan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Yesus telah mati menggantikan kita manusia berdosa. Melalui kematian Yesus, Allah memberi kita hidup yang kekal, atau keselamatan yang kekal. Inilah yang disebut sebagai surga. Kepada jemaat di Roma rasul Paulus mengajarkan: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Roma 5:8-10).

Jadi melalui kematian Yesus, Ia membebaskan kita dari kematian kekal (neraka), sekaligus memberi kita hidup kekal (surga). Paskah bagi orang Kristen adalah jaminan bahwa kelak kita akan memperoleh hidup kekal di surga bersama Allah.

Makna Paskah kelima adalah kemenangan. Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, maka kuasa Iblis telah dihancurkan. Iblis adalah sumber dosa, kematian, dan berbagai penderitaan di bumi. Dan kematiannya telah direncanakan oleh Allah sendiri, setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Dalam Kejadian 3:15, yang dikenal sebagai Proto-Evaangelum atau Injil Pertama/Benih Injil, Allah menubuatkan bahwa keturunan perempuan (Hawa), yakni Yesus Kristus, akan meremukkan kepala Iblis. Ayat ini digenapi saat kematian Yesus, seperti nyata dari ayat dibawah ini. “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut” (Ibrani 2:14).

Melalui Paskah (kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus), maka kuasa Iblis telah dilucuti (Kolose 2:15) dan kematian telah dikalahkan (1 Korintus 15:53-57). Memang kita masih hidup di dunia yang di kuasai Iblis, penuh dosa, kejahatan, penderitaan, kematian, dan ketidakadilan. Kemenangan kita yang sesungguhnya baru terjadi pada akhir zaman, dimana tidak ada lagi dosa, kejahatan, penderitaan, sakit penyakit, dan kematian. Namun melalui peristiwa Paskah, kita telah mencapai sebuah tahapan kemenangan.

Paskah bagi orang Kristen adalah kemenangan atas Iblis, dosa, dan kematian.

Makna Paskah keenam adalah pembebasan. Melalui karya Yesus di kayu salib, kita dibebaskan dari Hukum Taurat. Hukum Taurat adalah seperangkat hukum, peraturan, dan pengajaran yang diberikan oleh Allah kepada umat Israel, bangsa pilihan Tuhan.

Pemberian Hukum Taurat itu bertujuan agar bangsa Israel hidup menurut kehendak Tuhan. Tuhan tidak memberikan Taurat kepada bangsa-bangsa lain. Tetapi melalui kematian Yesus, Hukum Taurat tersebut sudah dibatalkan. Kepada jemaat di Efesus rasul Paulus mengajarkan, “Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya” (Efesus 2:15).

Yang dimaksud dengan “dibatalkan” disini adalah digenapi. Yesus datang ke dunia untuk menggenapi seluruh Hukum Taurat (Matius 5:17), dan itu dilakukan-Nya melalui kematian-Nya. Menggenapi artinya adalah melakukannya secara sempurna. Sejak Taurat diberikan kepada manusia (bangsa Israel), tidak ada seorang pun manusia yang mampu melakukannya secara sempurna. Karena itulah Yesus datang untuk melakukannya dan menggenapinya bagi kita (Roma 8:3). Jika Yesus telah menggenapi Taurat, maka mereka yang percaya kepada Yesus tak perlu lagi mengikuti aturan-aturan Taurat tersebut. Yang perlu kita lakukan adalah hukum kasih, mengasihi Tuhan dan sesama. Jika kita mengasihi Tuhan dan orang lain maka kita telah melakukan hukum Taurat (Roma 13:8-10).

Paskah bagi orang Kristen adalah pembebasan dari ikatan peraturan-peraturan Hukum Taurat yang memang tak mungkin dapat dilakukan oleh manusia.

Makna Paskah terakhir adalah hidup baru. Melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus, orang percaya akan hidup dalam suatu cara hidup yang baru. Rasul Paulus menulis, “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Roma 6:4). Disini rasul Paulus membandingkan kematian dan kebangkitan Yesus dengan “kematian” dan “kebangkitan” orang percaya melalui baptisan.

Melalui baptisan, orang percaya telah “dikuburkan” bersama Kristus. Maksudnya, sebagaimana Kristus mati dan dikuburkan secara fisik, maka orang percaya juga telah “mati dan dikuburkan” secara kiasan. Dan sebagaimana dengan kebangkitan Kristus dari kematian, maka orang percaya juga telah “dibangkitkan” secara kiasan untuk menjalani hidup yang baru di dalam Kristus.

Yang dimaksud rasul Paulus dengan “kematian” adalah kematian terhadap dosa. Dan yang dimaksud dengan “kebangkitan” adalah kehidupan yang baru, yang meninggalkan dosa dan hidup bagi Allah dalam Kristus (Roma 6:11-13). Jadi sebagaimana Tuhan Yesus telah mati dan bangkit karena dosa kita, kita pun harus mati terhadap dosa dan hidup dalam kehidupan yang baru, yaitu hidup yang memuliakan Allah.

Paskah bagi orang percaya adalah mati terhadap dosa dan hidup dalam hidup yang baru yang memuliakan Allah.

 

Oleh Loka Manya Prawiro.

Sumber: Haleluya Group dan Rubrik Kristen.com



Leave a Reply