Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

ORANG BENAR AKAN HIDUP OLEH IMAN




ebahana.com – Sekitar enam abad sebelum era Kristen, Allah memberikan pewahyuan kepada Nabi Habakuk yang mana menjadi dasar Injil, “Tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Habakuk 2:4). Begitu tepat nubuat ini mengekspresikan tema sentral berita Injil sehingga dikutip tiga kali dalam Perjanjian Baru (Roma 1:17; Galatia 3:11; dan Ibrani 10:38).

Dari tiga nas ini, nubuat Habakuk diuraikan secara terperinci dalam Roma, bahkan menjadi tema sentral seluruh Kitab Roma. Dalam pasal 1 ayat 1 dan 17 Paulus merepresentasikan tema utama, “Orang benar akan hidup oleh iman.” Dalam Roma 1:16 Paulus menyatakan satu dasar syarat untuk mengalami kuasa Allah dalam keselamatan. “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.”

Keselamatan di sini disediakan bagi “setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” Tidak ada pengecualian. Perbedaan latar belakang agama atau etnis tidak relevan. Dalam keselamatan yang ditawarkan Allah kepada semua umat manusia, Dia telah meletakkan satu syarat sederhana yang tidak pernah berubah, yaitu “iman”.

Dalam ayat 17 Paulus melanjutkan penjelasannya bagaimana kebenaran dari keselamatan ini bisa diketahui. “Sebab di dalamnya (Injil) nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman.’”

Kata “iman” disebut tiga kali dalam ayat ini. Pewahyuan Allah bertolak dari iman, memimpin kepada iman, dan orang benar akan hidup oleh iman. Berawal dari iman Allah sendiri—iman yang melalui firman-Nya mengerjakan maksud yang sudah ditentukan terlebih dahulu. Disebarkan melalui iman orang yang menyampaikan berita. Diterima dengan iman oleh orang yang menerima berita. Dan kabar itu sendiri adalah “Orang benar akan hidup oleh iman.” Dari awal hingga akhir, temanya adalah iman.

Alkitab mengungkapkan bahwa ada hidup lain—kebenaran hidup—yang sumbernya dari Allah sendiri. Siapa saja bisa menerima hidup itu melalui “iman dalam Yesus Kristus”.

Dinyatakan dengan sederhana “Orang benar akan hidup oleh iman.” Jelas “hidup” dalam konteks ini berarti lebih dari memiliki hidup normal kehidupan fisik. Namun, Alkitab mengungkapkan ada kehidupan lain—hidup dalam kebenaran—yang sumbernya dari Allah sendiri. Satu‐satunya jalan yang siapa saja bisa menerima hidup, dengan memiliki iman dalam Yesus Kristus.

Rasul Yohanes terus-menerus membahas kehidupan kekal ilahi ini dalam kitab Injilnya. Pada pembukaan Yohanes 1:4, ia mengatakan mengenai Yesus, “dalam Dia ada hidup.”

Dalam Yohanes 3:36 ia mencatat kesaksian Yohanes Pembaptis mengenai Yesus, “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.” Dalam Yohanes 6:47 Yesus berkata, “Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.” Lagi, dalam Yohanes 10:10, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Dalam Yohanes 10:27–28, “Domba‐domba‐Ku mendengar suara‐Ku dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka.” Terakhir, pada penutupan kitab Injil‐nya, Yohanes menyatakan tujuan utama itu ditulis, “Supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama‐Nya” (Yohanes 20:31).

Dalam 1 Yohanes 5:11, Yohanes kembali kepada tema ini, “Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.” Ayat 12, “Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.” Ayat 13, “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.”

Penting untuk diperhatikan bahwa Yohanes menggunakan “masa kini” (present tense) sepanjang suratnya. “Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup.” “Kamu yang percaya” sudah “memiliki hidup yang kekal”.

Paulus juga berbicara tentang hidup dalam Kristus dengan singkat dan frasa‐frasa yang jelas. Dalam Filipi 1:21 ia berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Dalam Kolose 3:4 ia berkata, “Kristus … hidup kita.” Bagi Paulus, seperti Yohanes, ini realitas pada masa kini, bukan hanya harapan pada masa depan.

Ini inti kabar Injil. Ada kehidupan kekal ilahi yang bersumber dari Allah sendiri. Allah sudah menyediakan hidup bagi kita dalam Yesus Kristus. Ketika kita menerima Yesus dengan iman dalam hati kita dan menyerahkan hidup kita kepada‐Nya dalam ketaatan penuh, kita menerima dalam Dia kehidupan dari Allah sendiri. Ini bukan hidup yang hanya disediakan di dunia lain atau pada masa depan. Ini hidup yang kita bisa alami sekarang juga. ” Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup.” Ia memilikinya “saat ini” dan berlanjut sampai pada kekekalan. Kehidupan kekal adalah milik kita untuk dinikmati sejak kita sungguh‐sungguh menaruh iman dalam Yesus Kristus.

Setelah menerima hidup baru melalui iman dalam Kristus, kita diperhadapkan dengan tantangan mengerjakannya dari hari ke hari dalam kehidupan praktis. Bagaimana kita melakukannya? Jawabannya sederhana, dengan iman. Ini juga terkandung dalam tema pembukaan Paulus “Orang benar akan hidup oleh iman.” Dipandang dari sudut praktis, kata kerja “hidup” adalah satu dari kata‐kata yang bisa kita gunakan untuk semuanya. Segala sesuatu termasuk dalam hidup—makan, minum, kerja, dan aktivitas lain yang tidak terhitung banyaknya diperlukan dalam hidup. Melalui iman, setiap aktivitas umum ini bisa menjadi cara untuk mengekspresikan hidup dari Allah dalam kita.

Kita sering cenderung berasumsi bahwa kehidupan sehari‐hari di dunia tidak memiliki tuntunan spiritual dan tidak memberikan tempat untuk mengaplikasikan iman kita. Namun, sebenarnya Alkitab mengajarkan sebaliknya. Hanya setelah kita berhasil mengaplikasikan iman kita dalam hal‐hal sederhana dalam hidup kita, Allah akan mempromosikan kita ke tanggung jawab spiritual yang lebih tinggi. Yesus sendiri meletakkan prinsip ini dalam Lukas 16:10–11.

Ayat 10, “Barangsiapa setia dalam perkara‐perkara kecil, ia setia juga dalam perkara‐perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara‐perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara‐perkara besar.”

Ayat 11, “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon (uang) yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?”

Hanya setelah kita mempraktikkan iman kita dalam “hal‐hal yang sangat kecil” dan dalam bidang uang, baru Allah akan memercayakan kepada kita tanggung jawab yang lebih besar dan kekayaan spiritual yang benar.

Ada dua sisi dari hubungan kita dengan Allah. Alkitab secara seimbang menaruh empati pada keduanya. Pada bagian yang positif, Allah menyediakan kasih karunia berkelimpahan kepada kita berdasarkan iman. Namun, pada bagian yang negatif, Allah menolak dasar apa pun lainnya yang mana kita dapat menghampiri Allah. Tidak ada dinyatakan lebih tegas daripada Ibrani 11:6, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”

Orang sering mencoba menyenangkan Allah dengan dasar lain, selain iman, seperti moralitas, perbuatan baik, keanggotaan gereja, sumbangan sosial, berdoa, atau aktivitas agamawi lainnya. Namun, tanpa iman, tidak satu pun dari itu yang diterima Allah. Apa pun apa yang kita lakukan, seberapa pun tulusnya kita, tidak ada pengganti untuk iman. Tanpa iman, kita tidak bisa berkenan kepada Allah. Mustahil.

Kita menemukan diri kita, karenanya, berhadapan muka dengan muka, dengan satu syarat Allah yang tidak berubah “barangsiapa berpaling pada Allah, ia harus percaya ….” Ada dua hal yang disyaratkan bagi kita untuk percaya. Pertama, kita harus percaya bahwa Allah ada. Sebagian besar orang percaya bahwa Allah ada, tetapi itu sendiri tidak cukup. Kita juga harus percaya bahwa Allah memberikan upah kepada orang yang sungguh‐sungguh mencari Dia. Ini menjelaskan mengenai kodrat Allah. Kita disyaratkan untuk percaya pada kebaikan Allah—kesetiaan dan bisa diandalkannya Allah. Memercayai Allah dengan cara ini membawa kita melewati lebih daripada doktrin dan teologi, yaitu terbangunnya hubungan pribadi langsung antara Allah dan orang percaya.

Dalam Ibrani pasal 1 dikatakan bahwa iman menghubungkan kita dengan dua objek yang tidak kelihatan, Allah dan firman‐Nya. Objek tertinggi dari iman tidak lain adalah Allah sendiri. Betul bahwa kita percaya kepada firman Allah, tetapi kita melakukan itu karena firman‐Nya adalah perpanjangan dari diri‐Nya. Keyakinan kita kepada firman‐Nya terletak pada keyakinan kita kepada diri‐Nya sebagai Pribadi. Jika kita pernah berhenti memercayai Allah, kita pada akhirnya juga berhenti memercayai firman‐Nya.

Penting untuk dimengerti bahwa hanya percaya pada doktrin atau teologi bukanlah yang terakhir. Mereka yang imannya tidak lebih dari itu tidak akan pernah bisa mengenal kepenuhan dan kekayaan hidup yang Allah tawarkan kepada kita. Tujuan akhir‐Nya adalah untuk membawa kita langsung ke dalam hubungan pribadi yang intim dengan‐Nya. Sekali dibangun, hubungan ini memotivasi, memberikan arah, dan mempertahankan semua yang kita lakukan. Menjadi sumber dan perwujudan hidup. Sesuai nubuat Habakuk, “Orang benar itu akan hidup oleh percayanya,” mengarahkan kita bukan pada suatu pernyataan kepercayaan atau teologi, melainkan pada suatu hubungan yang intim, terus-menerus, sepenuhnya dengan Allah sendiri.

Hubungan seperti ini yang Daud katakan dalam Mazmur 23:1, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Daud tidak menjelaskan suatu teologi; ia menggambarkan suatu hubungan. Berdasarkan hubungannya dengan Tuhan sebagai gembalanya, ia mendeklarasikan, “takkan kekurangan aku.” Tidak ada tempat untuk kekurangan apa pun.

Kita sudah melihat orang benar selalu melangkah hanya dengan iman. Kebalikannya juga berlaku. Dosa berasal hanya dari satu sumber—ketidakpercayaan.

Dalam Yohanes 16:8 Yesus berkata, “Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.” Lalu, dalam ayat selanjutnya Yesus mendefinisikan dosa spesifik yang Roh Kudus akan insafkan, yaitu “dosa karena mereka tetap tidak percaya kepada‐Ku.”

Dosa terbesar yang membuat seluruh dunia bersalah adalah ketidakpercayaan. Ini adalah dasar dari semua dosa.

Ibrani pasal 3 membahas secara khusus tentang dosa ketidakpercayaan. Ayat 12, “Waspadalah, hai saudara‐saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena murtad dari Allah yang hidup.” Sebagian besar orang Kristen memiliki tendensi memandang ketidakpercayaan sebagai suatu penyesalan yang dianggap tidak berbahaya. Namun, dikatakan di sini bahwa hati yang tidak percaya adalah hati yang jahat. Ketidakpercayaan adalah kejahatan karena menyebabkan kita murtad dari Allah yang hidup. Seperti iman membangun hubungan pribadi dengan Allah, demikian pula ketidakpercayaan menghancurkannya. Keduanya memiliki efek yang saling berlawanan. Dalam ayat 13 penulis Ibrani melanjutkan, “Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan ‘hari ini’, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa.” Ketidakpercayaan mengakibatkan hati kita tegar dan keras terhadap Allah dan membuka celah bagi tipu daya dosa dan Iblis.

Peringatan terhadap bahaya ketidakpercayaan sangat mendesak. Ketidakpercayaan adalah sumber semua dosa. Ini bisa didemonstrasikan secara logis, sekali kita mengerti bahwa iman yang benar hanya berdasarkan pada kodrat Allah sendiri. Jika kita mendasarkan iman kita sepenuhnya pada tiga aspek kodrat Allah—kebaikan‐Nya, hikmat‐Nya, dan kuasa‐Nya—kita tidak akan pernah murtad atau tidak menaati Allah. Jika dalam segala situasi, kita percaya bahwa Allah baik, bahwa Dia hanya mau yang terbaik untuk kita, bahwa Dia memiliki hikmat untuk mengetahui apa yang terbaik dan kuasa untuk menyediakannya, kita tidak akan pernah punya motif untuk tidak taat. Jadi, semua ketidaktaatan melawan Allah, jejak asalnya berakar dari ketidakpercayaan.

Pada akhirnya, hanya ada dua sikap di hadapan Allah, iman yang mempersatukan kita dengan‐Nya atau ketidakpercayaan yang memisahkan kita dari‐Nya. Keduanya saling meniadakan. Dalam Ibrani 10:38‐39 penulis sekali lagi mengutip nubuat Habakuk dan mengonfrontasi kita dengan dua alternatif.

Ayat 38, “Tetapi orang‐Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.”

Ayat 39, “Tetapi kita bukanlah orang‐orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang‐orang yang percaya dan yang beroleh hidup.”

Sekali kita sudah membuat komitmen untuk hidup berdasarkan iman, kita tidak bisa mengundurkan diri lagi darinya. Kembali pada ketidakpercayaan hanya mengarahkan kita ke dalam kegelapan dan kehancuran.

Untuk melangkah maju, kita harus melanjutkan seperti kita memulainya … dalam iman.

 

Oleh Loka Manya Prawiro.



Leave a Reply