Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Mentransfer Karakter Kristus

Sebagai umat Kristen, teladan kita adalah Yesus Kristus. Penulis Injil Matius mengingatkan bahwa dalam usia belia, Yesus telah melakukan proses pendidikan di bait Allah.

Suatu hari saya didatangi orangtua murid yang mengeluhkan situasi ekonomi buruk yang mereka alami. Ia menceritakan kondisi ekonomi keluarganya dan menyatakan tidak sanggup membiayai pendidikan anaknya.
Proses konseling pun berlangsung. Ternyata ia memiliki kemampuan memasak yang belum digali. Padahal dengan kemampuan itu ia bisa menuai penghasilan baru untuk membiayai pendidikan anaknya.

Memang untuk bergelut di bidang pendidikan, terutama yang mentransfer karakter Kristus tidaklah mudah. Penekanan pada nilai menjadi hal utama yang harus dikedepankan untuk membedakan diri dengan lembaga pendidikan lain.

Perlu digarisbawahi bahwa pendidikan, pengetahuan, dan sekolah begitu lekat dengan kekristenan. Hampir setiap penginjilan selalu diikuti dengan aktivitas sosial berupa pendirian sekolah dan rumah sakit. Tentu hal ini bukanlah kebetulan tetapi merupakan aksi yang dilandasi sebuah keteladanan.

Bait Allah
Lebih ke belakang lagi, kita bisa merujuk penulis Amsal yang mengetengahkan, Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian (Ams. 2:6). Ini bukti bahwa pendidikan begitu lekat dengan Sang Pencipta. Lebih dalam lagi, Allah menghendaki pendidikan yang dilakukan untuk memperoleh hikmat (Ams. 3:13-18). Artinya, tujuan pendidikan harus berguna. Bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain terutama untuk kemuliaan Allah. Dengan melihat Alkitab kita tahu bahwa Tuhan Yesus juga disapa dengan sebutan guru. Sedangkan ke-12 rasul disebut sebagai murid. Sekarang kedua istilah itu lazim menunjuk proses pendidikan di sekolah. Jadi, sekolah memiliki dasar alkitabiah. Sehingga tidak mengherankan bila para misionaris menggunakan eksistensi sekolah untuk mentrasfer karakter Kristus. Mungkin saja satu hari nanti hanya sekolah yang diperbolehkan memberikan pelajaran agama.

Takut Akan Tuhan
Pendidikan yang mentransfer karakter Kristus memiliki tiga faktor yang harus dipraktikkan. Ketiga faktor itu adalah takut akan Tuhan, kejujuran, dan hikmat. Takut akan Tuhan merupakan faktor yang mengekang kita untuk tidak melakukan hal yang tidak berkenan kepada Tuhan Yesus. Sekarang ini sudah banyak orang yang tidak takut akan Tuhan. Dengan mengejar ambisi yang menghalalkan segala cara, Tuhan sudah ditempatkan pada urutan terakhir. Tawaran dunia begitu menggiurkan dan mengenyahkan prioritas hidup yang mestinya berada pada posisi teratas. Seharusnya takut akan Tuhan ini menjadi gaya hidup. Kejujuran merupakan nilai lebih dalam marketplace. Ia merupakan bukti yang tidak memerlukan waktu lama untuk diketahui. Dan inilah yang paling dicari di dunia usaha.

The Spring of Livingwater
Hidup sendiri memberikan banyak pilihan yang memaksa kita mempertimbangkan segala sesuatunya. Dengan hikmat, kita tahu mana yang terbaik untuk dipilih. Saya bersama istri, mempunyai lahan di puncak. Ketika masa sulit, kami ingin menjualnya dan masalah akan selesai. Tapi kehendak Tuhan lain. Dengan pergumulan dan hikmat dari-Nya, kami bangun menjadi tempat peristirahatan dengan konsep healthy, home, dan resort. Kini lokasi yang kami perkenalkan dengan nama The Spring of Livingwater ini telah menjadi berkat bagi banyak orang. Akhirnya, dengan takut akan Tuhan, kejujuran dan hikmat, pendidikan yang kita lakukan akan
mengarahkan hidup kita jauh dari jurang kebinasaan. Hidup justru akan menjadi indah dan bermanfaat.

 

Oleh : Pdt. DR. Ir. Hadi Darma Setiawan MBA
Penulis adalah hamba Tuhan GBI Rahmat Emmanuel Bogor

Leave a Reply