Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

KEKUATAN ALLAH YANG MENYELAMATKAN

“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani” 

(Roma 1:16)

Ayat tersebut merupakan ayat mas Martin Luther yang kala itu menggumuli arti keselamatan. Ayat tersebut sesuai pula dengan mata kuliah yang diampunya, Hermeneutik Kitab Mazmur. Hal yang sama selaras dengan Efesus 2:8-9. Marthin Luther telah mengalami pergulatan batin mendalam untuk mencari Kerajaan Allah. Sementara gereja pada masa itu justru memberitakan adanya keselamatan yang dapat ditebus dengan membeli surat penghapusan dosa. “Ketika gemerincing uang jatuh dalam kotak persembahan, melompatlah jiwa-jiwa dari neraka menuju surga,” demikian jargon gereja yang berkembang.

Kita mungkin menyangka telah mengerti latar belakang perjuangan Martin Luther tentang arti kekuatan Allah dalam Roma 1:16 tersebut. Lalu, kita melihat tulisan ini hanya ulasan gampangan. Namun, terpikirkah
kita bagaimana pengertian ini bisa menjadi kuat memengaruhi gereja Jerman sehingga membawa perubahan yang mengarah pada pengertian theologis yang ada saat ini: Sola Gratia, Sola Fide, dan Sola Scriptura. Mengapa harus Martin Luther dan mengapa pula harus pada zaman Martin Luther? Di sini kita dapat belajar bagaimana pergumulan pribadi seseorang yang diterangi Roh Kudus sehingga membawa mata rantai rencana
Allah bergulir kembali.

Kalau kita mempelajari sejarah gereja dan Eropa, kita mengetahui bahwa kekuatan Allah. Wycliff, menurut
catatan sejarah, telah mendesak gereja agar memasyarakat dan menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Inggris. Selanjutnya, kita melihat Gutenberg, pada 1450 (67 tahun sebelum reformasi) telah menemukan mesin cetak dan Alkitab telah diperbanyak dalam bahasa rakyat dan bisa dibaca oleh masyarakat awam.

Pola masyarakat zaman itu sedikit mengalami pergeseran. Sejak penemuan dunia baru, benua Amerika oleh Colombus pada 1492, orang sudah mulai meninggalkan pola hidup yang hanya mengandalkan pertanian. Mereka beralih pada bidang jasa. Karena itu, muncullah para pedagang dan tukang atau orang yang ahli di bidangnya. Industrialisasi mulai berkembang. Perekonomian berubah. Renaissance dan humanisme mendengung keras. Pendidikan sangat diperhatikan dan kesadaran nasionalisme menjadi isu utama. Orang tidak mau lagi terikat pada satu pemerintahan gereja Katolik Roma.

Mungkin kita mengatakan bahwa perubahan adalah hal biasa. Tidak ada yang istimewa. Itu terjadi karena adanya modernisasi. Wajar kalau masyarakat berubah karena memang dunia mengalami kemajuan zaman. Itulah dunia sekuler yang dinamis. Sejak Islam muncul sebagai kekuatan baru pada abad VII, mereka terus berkembang dan memukul kekaisaran Romawi Timur di Konstantinopel pada gerakan reformasi adalah nyata karya 1453. Ibukota Konstantinopel menjadi Istambul dan Gereja Hagia Sophia menjadi mesjid. Inilah yang
kita kenal sekarang sebagai bangsa Turki. Pada masa reformasi, mereka mulai ekspansi menuju Eropa. Pada 1526 tentara Turki merebut Hongaria dan pada 1529 mereka mengepung Kota Wina yang ada di tengah-tengah Eropa. Peristiwa ini lebih genting daripada ancaman reformasi bagi kekaisaran Romawi Karel V. Karena itulah, Martin Luther, Zwingli, dan John Calvin bisa leluasa melancarkan perubahan struktur dalam gereja. Bukankah
ini sebagai bukti tangan Allah yang kuat yang Paulus sebut sebagai kekuatan Allah (Roma 1:16)? Tanpa campur tangan Allah, reformasi pasti tidak berjalan mulus.

Satu lagi yang perlu diperhatikan sebagai bahan perenungan, yakni gerakan-gerakan setelah reformasi. Kekuatan Allah terus berkarya. Dialah yang menghasilkan pietisme dan revivalisme sebagai kelanjutan
dari reformasi. Gereja Katolik pun mengalaminya dengan Serikat Yesuit. Orang mulai mencari kehidupan kudus dan rindu terhadap pengabaran Injil. Selanjutnya, kuasa Allah menopang hati yang rindu dengan
pentakostalisme. Saat ini, gereja menerima karunia-karunia pelayanan yang dikenal sebagai kharismatik. Bukankah ini terjadi karena adanya reformasi yang merupakan bukti karya kekuatan Allah?

 

Pdm. Yohanes Liu, M.Th.
Melayani sebagai gembala jemaat Jemaat Kristen Indonesia (JKI) Sola Gratia Surakarta dan dosen theologi

Leave a Reply