Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Natal, Momen Perubahan dan Perbaikan Diri Menuju Komunitas Kristus

Apakah perayaan natal yang selama ini kita rayakan hanya sekedar selebrasi, sehingga terkadang kita kehilangan makna yang sebenarnya? Atau kita terjebak di dalam perasaan suasana natal tanpa diikuti suatu langkah untuk melakukan momen perubahan.

Seyogiyanya ketika Kristus lahir betul-betul dalam diri seorang, maka bisa dibilang dia sudah menjadi mahluk yang baru yang yang sudah ditebus oleh karya Tuhan yang besar yang rela mati baginya. Tapi sayangnya tidak semua orang bisa mengenal Allah Bapa lebih lagi, jika dirinya sendiri-pun tidak dikaruniakan oleh sang Anak untuk bisa mengenal siapa Bapa itu sesungguhnya (Matius 11:27).

Apalagi jika pintu hatinya sudah tertutup, meskipun dia tahu, Yesus telah lahir ke dunia, bisakah kita berharap bahwa dia akan menerima Kristus jadi Tuhannya? Apalagi jika kita hanya sibuk dalam selebrasi kemegahan natal yang kita adakan selama ini, maka jangan harap orang yang di luar Kristus bisa mengenal siapa Yesus sebenarnya.

Apalagi jelas tergambar ketika kita dikatakan sedang melayani, ternyata kita bukan melayani-Nya sebagai Tuhan dan Raja kita. Sebab ternyata yang kita layani adalah diri kita sendiri.

Maka, tulisan kali ini sebenarnya bukan hanya sekedar untuk meramaikan lomba yang telah diadakan oleh e-Bahana.com. Tapi lebih kepada intropeksi lebih lagi kepada diri ini, mencoba mengintropeksi komunitas gereja kita dan dampak apakah yang sudah gereja berikan bagi perubahan bangsa ini?

Salah seorang, mentor rohaniku, Pak Bambang Budijanto, pernah berkata bahwa ketika kita sudah sekian lama mengikut Kristus , sudah seberapa banyak dampak yang kita berikan dalam mewujudkan kerajaan Allah bisa semakin nampak di bumi ini?

Atau-kah kita hanya mengulang-mengulang pengalaman hidup kita di dalam Tuhan yang kalau ditotalkan bisa jadi hanya setahun saja pengalamannya. Meskipun sudah hidup dalam pelayanan dan melayani lebih dari sepuluh tahun?

Kemudian beliau lebih lanjut lagi menjelaskan, bahwa tiada jalan yang lain untuk bisa menghadirkan kerajaan Allah hadir di bumi ini, kecuali satu, yaitu Gereja. No Plan B atau tidak ada rencana B yang disiapkan oleh Tuhan kita, Yesus selain mempesiapkan gerejanya bisa menghasilkan buah dan membawa banyak jikwa-jiwa datang kepada Yesus.

Pertanyaannya ketika Gereja sudah hadir beberapa puluh atau ratusan tahun hadir di daerah itu, dan mungkin sudah berapa puluh dan berapa ratus tahun gereja itu merayakan natal, apakah semakin banyak jiwa-jiwa yang terjamah hatinya dengan moment perayaan natal yang telah kita adakan? Atau justru lebih banyak orang yang melakukan bunuh diri, karena tekanan hidup yang semakin beratnya. Seakan gereja hadir di daerah itu, bukan menjadi jawaban bagi banyak jiwa yang sedang haus mencari kebenaran sejati?

Apalagi praktek-praktek gereja di tanah batak, yang sudah ratusan tahun mengenal siapa Yesus, seharusnya menjadi yang sulung di dalam menjangkau jiwa-jiwa ke suku-suku bangsa yang lain yang ada di Pulau Sumatera ini. Tapi kenyataannya seakan berpuas bahwa cukuplah suku batak yang diselamatkan, yang lain tunggu dulu.

Apalagi orientasi pelayanan gereja saat ini, sudah mulai melenceng. Yakni ketika di dalam suatu pelayanan,uangnya tidak jelas,maka jangan harap pelayanan bisa berjalan dengan baik. Ditambah lagi, ketika suatu perayaan natal selesai, maka persembahan yang dikumpulkan di dalam natal itu, tak jarang akhirnya malah dibagi-bagi ke seluruh pelayan atau pengerja gereja yang kebetulan hadir di dalam natal tersebut.

Sehingga event natal, oleh gereja-gereja tertentu, seakan menjadikan gedung gereja sebagai lahan basah untuk bisa menambah bonus-bonus atau THR dari pada pengerjanya. Dimana ketika banyak pekumpulan-perkumpulan marga, atau perkumpulan STM (Serikat Tolong Menolong) di suatu masyarakat  menggunakan suatu gedung gereja, malah akhirnya dimintai sejumlah biaya atas pemakaian gedung gereja mereka. Meskipun bahasanya diperhalus dengan sebutan uang kebersihan,uang listrik dan lain-lain sebagainya.

Hal ini-lah yang sering terlihat dan sering dilakukan oleh gereja-gereja kita pada saat ini. Jika hal ini terus kita lakukan, maka dampak apa yang bisa gereja berikan untuk bisa mengubahkan bangsa ini? Apakah natal yang demikian akan memberikan dampak?

Bisakah kita berubah?

Jawabnya tentu bisa, jika kita melakukan perubahan total di dalam diri kita masing-masing. Bahwa perubahan suatu komunitas masyarakat tentu dimulai dari perubahan tiap-tiap kita yang ada di dalamnya.

Pertama kita tidak terjebak di dalam seremonial belaka, seperti adanya perayaan natal, tapi lupa esensi yang sesungguhnya. Bahwa ketika Yesus sudah lama lahir di dalam diri kita sudah-kah kita menjadi berkat bagi banyak orang? Atau Yesus yang lahir itu, hanya tetap menjadi bayi mungil, yang hanya jadi bahan lucu-lucu-an kita. Sebab semua orang tentu senang dengan bayi.

Kedua, mari menolong gereja kita serta menyadarkan mereka, bahwa uang memang penting dalam sebuah pelayanan. Dan meminta bukan menjadikan uang sebagai sasaran utama yang harus dikejar terlebih dahulu.

Ketiga, kita punya tanggung jawab dan ini merupakan mandat Tuhan Yesus sendiri kepada kita masing-masing orang yang sudah percaya terlebih dahulu kepada-Nya. Yakni untuk segera pergi, jadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus, membabtis mereka dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus. Mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya kepada kita. Bukankah Dia yang berjanji, bahwa kita akan selalu disertainya senantiasa sampai kepada akhir zaman?

Sehingga pada akhirnya, bahwa Natal betul menjadi momen perubahan dan perbaikan diri kita. Dalam rangka menciptakan komunitas Kristus hadir di dunia, artinya Kerajaan Allah benar-benar hadir di dunia kita ini. Bukankah ini yang kita rindukan selama ini?

Penulis adalah pengajar di STAK Terpadu PESAT dan pemerhati masalah sosial dan

Leave a Reply