Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Memilih Perguruan Tinggi dengan Bijak

Tidak mudah jalan yang sedang dilalui oleh para siswa SMA kelas XII saat ini. Untuk mengakhiri pendidikan tingkat menengah. Mereka harus menempuh Ujian Nasional (UN) dan Ujian Akhir Sekolah (UAS).

Meski hati dan pikiran mereka sudah letih, mereka harus terus terjaga untuk menantikan hasil kelulusan yang sangat didambakan. Di tengah keletihan itu, harus segera menentukan ke mana mereka merajut masa depannya. Pilihan demi pilihan diperhadapkan. Apakah akan
melanjutkan ke perguruan tinggi (PT) atau langsung bekerja? Apabila akan ke PT, maka akan diperhadapkan dengan pilihan Universitas, Sekolah Tinggi atau Akademi. Selain itu, harus memilih ke PT Negeri (PTN) atau Swasta (PTS). Jika PTS, harus memilih lagi apakah PTS yang sesuai dengan religiusitasnya. Pergumulan yang dihadapi oleh para siswa tersebut tidaklah mudah.

BUTUH PERTIMBANGAN
Inilah saat mereka membutuhkan pertimbangan dan perhatian dari orang lain, khususnya dari orangtua. Meski sering tidak tampak di raut wajah, tetapi kegalauan hati mereka sangat besar. Jikalau mereka memiliki kesempatan untuk curhat (mencurahkan isi hati), maka tidak
sedikit yang akan meluapkan isi hati dengan penuh emosi dan air mata. Kehadiran dan perhatian orangtua dalam situasi pergumulan yang hebat ini sangat penting dan dinantikan oleh anak-anak. Maka, sudah sewajarnya orangtua yang telah hidup baru dan diubah menjadi seperti Kristus akan mengumandangkan tawaran cinta-Nya. Anak-anak yang sedang mengalami keletihan perlu perhatian dan kelegaan. Orangtua perlu mengajarkan kebijakan dan kebajikan, agar jiwa mereka mendapatkan ketenangan (bdk. Mat. 11:28-30). Tidak bijak bila orangtua membiarkan anak-anak memilih sendiri, orangtua tinggal menyediakan
dananya. Tidak tepat pula bila sebaliknya orangtua memaksakan kehendak dan pilihannya. Anak-anak tidak membutuhkan kebebasan seluasluasnya atau paksaan, tetapi mereka
membutuhkan nasihat.

PERTIMBANGKAN EMPAT HAL
Bagi anak-anak yang akan melanjutkan ke PT akan dihadapkan pada banyak pilihan. Tentu saja perguruanperguruan itu menjanjikan hasil yang terbaik bagi masa depan anakanak
tersebut. Namun, beberapa pertimbangan berikut perlu diberikan.

Pertama, pilihlah PT yang dapat membentuk kepribadian, mental dan moral untuk takut akan Tuhan, selain bekal pengetahuan dan keterampilan (Ams. 1:7). Tujuannya, agar mereka memiliki ruang pergaulan yang sehat dan tumbuh seimbang menjadi sarjana yang takut akan Tuhan. PT yang membentuk kepribadian takut akan Tuhan akan memberi ruang bagi pertumbuhan religiusitas, di samping suasana akademis yang sehat antara pendidik dan peserta didik.

Kedua, pilihlah PT yang secara kreatif dan inovatif menjawab tantangan masa depan. Hal itu dapat dilihat dari program dan kegiatan yang berlangsung, hasil karya para peserta didik, dan kepuasan dari mitra kerja yang menyerap sarjana lulusannya.

Ketiga, setiap anak memang bebas bercita-cita, tetapi dalam pemilihan program studi sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan dasar yang secara umum dapat dilihat dari hasil tes potensi akademik (TPA). Mengapa begitu? Agar mereka kelak tidak mengalami kesulitan
yang prinsip dalam menjalani masa studi dan dapat lulus tepat waktu. Semua program studi memiliki masa depan yang cerah dan bermanfaat untuk menjawab pelbagai tantangan hidup (1 Kor. 12:14-17). Jangan merasa program studi yang satu lebih memiliki masa depan dibanding yang lain. Keberhasilan para sarjana di bidang itu berpulang pada peserta didik itu sendiri dalam menekuni bidang tersebut dan secara kreatif menggunakannya untuk menjawab tantangan hidup sehari-hari.

Keempat, orangtua juga perlu memberi pengertian kepada anak-anak, bahwa dana yang disediakan untuk pendidikan mereka terbatas. Karena itu, yang dilakukan adalah mengajak
anak-anak untuk bersama-sama mengelola berkat Tuhan itu secara bertanggung jawab.
Oleh karena itu, anak-anak didorong untuk mengumpulkan informasi dan menghitung semua dana pendidikan dan biaya hidup selama menempuh pendidikan di suatu PT. Dengan demikian, mereka tidak asal ikut teman atau memuja gengsi dalam memilih PT.

 

Oleh Budi Sutedjo Dharma Oetomo, S.Kom., MM.

Leave a Reply