Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Imanuel Kristo : Tikus Menjadi Harimau

Sebuah dongeng dari India menceritakan persahabatan seorang pertapa dengan seekor tikus. Persahabatan mereka begitu dekat sehingga mereka seolah tidak dapat hidup tanpa yang lainnya. Sampai sekali waktu tikus kecil tersebut dikejar-kejar oleh seekor kucing. Sadar ia tidak dapat menjaganya terus-menerus, sang pertapa mengubah tikus kecil itu menjadi seekor kucing. Setelah menjadi kucing, tikus itu pun dapat bermainmain bersama dengan kucing-kucing lainnya. Semuanya tampak berjalan menyenangkan. Namun, hal itu berubah ketika segerombolan anjing mengejar kucing yang sebelumnya seekor tikus itu hingga ke pondokan sang pertapa. Melihat hal tersebut, sang pertapa sakti memutuskan mengubah kucing yang sebelumnya tikus itu menjadi seekor anjing. Dengan perubahan tersebut, anjing yang tadinya kucing, dan sebelumnya tikus itu tampak merasa aman.

Namun, ternyata semuanya berubah ketika anjing tersebut dikejar seekor harimau. Dalam ketakutannya dia menjumpai sang pertapa. Demi melihat semua itu, sang pertapa sakti kemudian memutuskan mengubah anjing itu menjadi seekor harimau. Dengan menjadi harimau, sekarang dia menjadi binatang yang paling ditakuti. Sejauh ini harimau yang tadinya anjing, yang sebelumnya kucing, dan yang awalnya tikus, menikmati keadaan dirinya. Binatang-binatang lain menghormatinya. Mereka semua takut padanya. Dia betul-betul nyaman dengan hidupnya.

Hingga sekelompok anak-anak sekolah yang mengetahui asal muasalnya selalu saja menggoda dirinya dan mengolok-oloknya sebagai “harimau berhati tikus”. Mendengar hal itu, dia marah. Dia berpikir semua olok-olok itu akan berhenti jika dia berhasil membunuh pertapa sakti yang telah menciptakan dirinya. Niatnya sudah bulat, hatinya sudah mantap – dia hanya menunggu kesempatan untuk melakukannya. Namun, sebelum kesempatan itu terwujud, sang pertapa sakti sudah terlebih dahulu mengetahuinya. Karena semua itu, sang pertapa kembali mengubah harimau yang tadinya anjing, sebelumnya adalah kucing, dan awalnya adalah tikus itu, kembali menjadi tikus lagi.

Pesan moral apa yang kita dapatkan melalui kisah dari India tersebut? Sesungguhnya kehidupan ini selalu memberi kesempatan kepada siapa pun untuk mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Kehidupan membentuk siapa pun menjadi pribadi yang lebih tangguh. Semakin hari kita tampak semakin pantas di hadapan sesama kita karena kita belajar dari kehidupan dan memanfaatkan pelajaran itu sebaik mungkin. Berbagai pengalaman yang kita jumpai tidak jarang membuat diri kita menemukan peluang untuk memperbaiki diri kita. Jika saja kita mampu mengelola dan menjaganya, semua itu akan mengantar kita menaiki anak tangga pencapaian kita.

Pada sisi yang lain, kehidupan juga menggoda kita untuk kurang menghargai semua tahapan itu. Suara-suara di sekitar kita menciptakan kebisingan dalam hati kita yang menggelitik egoisme dan egosentrisme diri kita untuk menjadi yang paling di antara yang lain, sampai-sampai kita tidak mampu mengendalikan diri. Sarana yang menjadi jalan menuju anak tangga pencapaian yang selama ini mengantar kita menjadi lebih pantas, kita hancurkan sendiri. Hasilnya adalah kita malah kehilangan semuanya.

Suara-suara di sekitar kita selalu mempunyai dua sisi: pemberi semangat bagi kita sebagaimana sekelompok suporter dalam pertandingan olah raga bagi jagoannya, tetapi juga dapat memengaruhi motivasi bertanding bagi lawannya. Dan yang pasti, kita tidak mungkin dapat mengatur agar orang-orang di sekitar kita memperdengarkan segala sesuatu yang melulu menyenangkan dan mendorong kita, tetapi kita toh dapat menyikapi semua yang mereka perdengarkan tentang kita. Cara menyikapi yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik.

Leave a Reply