Input your search keywords and press Enter.

Ibarat Paku yang Tertancap

Tidak peduli berapa kali Anda meminta maaf atas kata-kata Anda yang disertai kemarahan, kemarahan tersebut telah menimbulkan bekas dalam hati orang lain.

Remaja tersebut dikenal pemarah. Orangtua dan teman-teman menyaksikan tiada hari tanpa amarah. Ia sangat marah bila seseorang menyinggung perasaannya. Tidak tanggungtanggung, kemarahannya bisa meledak sewaktuwaktu. Ketika ada sedikit pemicu, kemarahannya tak terbendung ibarat banjir bandang. Kata kasar yang tidak pantas kerap terucap dan melekat kuat di mulutnya.

Menyaksikan emosi negatif anak tersebut, sang ayah merasa susah. Namun, ia tak mampu meredakan sifat pemarah anak laki-laki yang ia kasihi. Bila sang anak diingatkan, ia pasti melawan dan membantah nasihat orangtua.

Tiba-tiba meluncurlah ide kreatif di kepala sang ayah. Ayah yang lemah lembut tersebut memberi sekantong plastik berisi paku. Ia meminta setiap kali marah si anak harus menancapkan sebuah paku di pagar belakang rumah. Kali ini sang anak menurut. Setiap kali ia marah, ia menancapkan satu paku di pagar belakang rumah mereka.

TANCAPKAN DI PAGAR
Pada hari pertama, sang anak menancapkan lima puluh paku di pagar rumahnya. Hal ini berarti sepanjang hari ia marah lima puluh kali. Hari berikutnya, ia setia melakukan hal yang sama, menancapkan paku. Demikian seterusnya hingga paku kian banyak di pagar tersebut. Ia sadar bahwa lebih gampang marah daripada menancapkan paku.

Lantas, sang ayah memberi perintah berikut. “Nak, apabila kamu berhasil tidak marah, cabutlah satu paku yang telah engkau tancapkan,” pintanya. Sang anak pun terus berjuang untuk mengendalikan amarahnya. Setiap kali berhasil, ia mencabut satu paku yang tertancap di pagar tersebut.

Dengan perjuangan dan kesungguhan hati ia berhasil mencabut banyak paku. Ia sangat senang. Hal itu berarti ia berhasil mengendalikan amarah yang selama ini meledakledak ibarat bom yang membunuh banyak orang. Suatu saat ia melihat tinggal satu paku yang tertancap. Hari itu ia memutuskan untuk tidak marah. Ternyata hari itu ia berhasil. Ia sama sekali tidak marah. Berarti paku yang tertancap berhasil dicabut. Kini pagarnya bebas paku. Karena itu, dengan gembira ia memberitahukan keberhasilannya kepada ayahnya. Sang ayah pun menyambutnya dengan gembira.

MENINGGALKAN BEKAS
Sang ayah kemudian mengajak anaknya untuk melihat pagar yang sebelumnya tertancap paku. “Coba perhatikan pagar tersebut,” pinta sang ayah. “Ya, saya memperhatikannya ayah,” jawab sang anak lembut. Nah, paku-paku yang tertancap telah berhasil kamu cabut. Namun, perhatikan lebih seksama lagi. Paku yang tertancap telah menimbulkan lubang yang mengakibatkan cacat selamanya. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Kenyataannya ia telah berlubang dan tidak enak dipandang.

Bila amarah ibarat paku, pasti amarah selalu meninggalkan bekas dalam hati orang yang mengalaminya. Tidak peduli telah berapa kali kita memohon maaf atas perkataan kita yang penuh amarah, amarah telah menimbulkan bekas mendalam ibarat paku yang tertancap di pagar tersebut. Karena itu, kita perlu belajar menguasai amarah dan tidak mengucapkan perkataan tidak membangun agar tidak melukai orang lain di sekitar kita. Tuhan kiranya memampukan kita.

Leave a Reply