Media Rohani Terlengkap & Terpercaya


Input your search keywords and press Enter.

Gemerlapnya Perayaan Natal, Menggelapkan Makna Natal

Awal Desember, pohon terang mulai terpasang di pojok ruangan. Ruang tamu ditata indah, dipenuhi dengan pernak-pernik dan lampu kelap-kelip. Tak lupa menggantungkan kaos kaki Santa Claus di depan pintu. Sepertinya, tanpa tradisi yang demikian, natal seolah tidak sah.

Di pusat perbelanjaan, tampak kerumunan ibu membeli baju dan sepatu baru. Mereka beradu tawar dengan pedagang. Ketika ada kata sepakat, transaksi pun terjadi. Hati si ibu senang, pedagang pun puas. Kini tas belanjaan ibu dipenuhi baju dan sepatu baru. Terbayang, wajah si buah hati menyambut dengan riang. Kalau tidak begitu, natal seolah ada yang kurang.

Lagu natal menggema di hamper setiap mall. Kumandangnya terdengar bagi setiap orang yang melintas, walaupun sesungguhnya lagu tersebut dimaknai berbeda oleh setiap insan. Tepat di tengah mall, ada pula pohon natal yang tinggi dengan hiasan yang serba wah, menjadi incaran para penikmat “selfie” untuk dipajang di media sosial.

Sementara dikolong jembatan, ada sebuah lilin yang hamper redup. Jasanya begitu besar bagi orang sekitar sebagai penerang. Dari kejauhan terdengar lagu natal dilantukan merdu dan sayup. Tepatnya dari sebuah gereja yang ada di ujung jalan. “Malam kudus sunyi senyap, dunia gemerlap….” Lalu lilin pun padam, tak ada pengganti penerang. Mereka memilih tertidur pulas. Di wajahnya terpancar rasa syukur penuh ketulusan. Seperti sedang menyampaikan, “Terimakasih Tuhan buat berkatMu hari ini.”

Sejak subuh pemulung sudah berkeliling, berharap ada botol bekas air mineral yang dibuang sesudah perayaan natal. Baginya, itulah berkat di hari natal. Dengan botol bekas itu, mereka dapat melanjutkan kehidupan keluarga.

Ada juga kisah sedih di perempatan jalan, di bawah teriknya matahari, terlihat seorang anak yatim terpanggang sedari tadi. Berharap belas kasih dari mereka yang lalu lalang di jalan. Tampak berbeda, di sebuah mobil ada sekeluarga merasakan sejuknya pendingin udara, sambil menikmati sepotong coklat yang harganya setara dengan makanan seminggu bagi si anak yatim.

Paradoks!

Terkadang, sebagian orang memaknai natal dengan pohon terang, hiasan natal, makanan lezat, baju dan sepatu baru. Kita lupa, di sekitar kita sungguh banyak orang yang kurang beruntung. Kemiskinan dan ketidakadilan terjadi karena tidak ada kesempatan. Tidak ada yang peduli. Terkadang mereka tak berdaya. Hanya menengadah minta belas kasih di tengah gemerlapnya natal.

Di manakah natal sesungguhnya?

Natal sesungguhnya ada di palungan. Di sanalah bayi Yesus dilahirkan. Tidak ada kemewahan. Semuanya penuh kesederhanaan. Bahkan tidak lazim sebagai tempat kelahiran seorang bayi. Artinya kehadirannya sungguh tak terselami oleh cara berpikir manusia duniawi.

Kalau begitu, apa hak kita merayakan natal bermewah-mewah? Di manakah konteks natal saat ini? Jawabannya ada di hati. Di hati yang terbuka bagi bayi kudus yang lahir di kandang domba tanpa harta dan takhta. Di hati orang yang menerimaNya sebagai penyelamat hidup. Bukankah semua manusia sesungguhnya sudah jatuh dalam dosa? Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23) Sementara, upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Tidak ada jalan lain, bahwa Allah sendirilah yang mampu menyelamatkan manusia. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Itulah makna natal sesungguhnya. Allah mau hadir melalui bayi kudus di palungan. Maukah kita meneladani hidupNya? Akhirnya, jangan biarkan gemerlapnya natal, menggelapkan makna natal. Mari kita kasihi bayi kudus dengan mengasihi sesame manusia. (Thurneysen Simanjuntak)

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply