Input your search keywords and press Enter.

Pdt. Noor Anggraito: MAKANAN HALAL DAN HARAM

Shalom, Pak Noor di eBahana

Begitu banyak pertanyaan dan pendapat mengenai makanan, dalam hal ini adalah daging binatang haram dan halal. Apakah larangan memakan daging haram hanya untuk bangsa Israel atau orang Yahudi? Apakah binatang halal dan haram ini mulai dari bangsa Israel? Apakah larangan memakan daging haram hanya untuk zaman Perjanjian Lama? Mohon pencerahannya. Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

William di Salatiga, Jawa Tengah

 Jawaban:

Perlu dipahami bahwa wahyu Tuhan yang ditulis dalam Alkitab bersifat progresif, sesuai dengan perkembangan manusia dan waktu. Kebenaran dinyatakan dari yang sederhana menuju kebenaran yang utuh atau komplit. Kenyataan ini sama dengan kita mengajar anak-anak kita. Pastilah dimulai dari yang sederhana, sesuai dengan perkembangan pemikiran atau daya tangkap, atau kemampuan anak-anak dalam menerima dan mengerjakan apa yang kita ajarkan.

Perhatikanlah kisah Adam dan Hawa setelah jatuh dalam dosa. Tuhan Allah memberikan janji “keturunan perempuan” akan meremukkan kepala ular yang memperdaya mereka (Kej. 3:15). Apakah Adam dan Hawa paham bahwa yang dimaksudkan “keturunan perempuan” itu adalah Yesus Kristus? Tentu tidak! Adam dan Hawa cukup beriman, bahwa suatu saat nanti akan ada penyelamat yang lahir dari perempuan yang akan mengalahkan Iblis. Selanjutnya coba perhatikan kisah Abraham saat dipanggil Tuhan. Apakah dia beriman kepada Yesus Kristus? Sulit dipahami! Tetapi Abraham percaya bahwa suatu saat nanti, keturunannya akan menjadi berkat bagi banyak bangsa, sekalipun waktu itu sangat mungkin belum tahu siapa Yesus (Kej. 12:2–3, ban. Gal. 3:16). Selanjutnya perhatikan Yes. 7:14 mengenai nubuat “anak dara” yang melahirkan “Imanuel” yang digenapi dalam diri Yesus (Mat. 1:23).

Demikian juga mengenai ibadah. Pada zaman anak-anak Adam sampai zaman Yusuf di Mesir, ibadah berpusat pada “mezbah” Tuhan (Kej. 8:20; 12:7; 26:25; 35:3). Pada zaman Musa, ibadah ada di dalam “kemah suci” di mana di dalamnya terdapat tabut perjanjian (Kel. 26:1; 40:29). Zaman Salomo sampai Yesus, pusat ibadah mereka dalam Bait Allah (1 Raj. 6:1–38; Ezr. 4:1; Luk. 19:45; 20:1; Mat. 21:23). Namun, ketika menjelaskan kepada wanita Samaria mengenai ibadah, Yesus berkata, Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran, sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran”  (Yoh. 4:23–24). Ibadah zaman sekarang berpusat pada roh dan Yesus, Sang Kebenaran Sejati.

Demikian pula hal perilaku, termasuk makan daging. Zaman Adam dan Hawa, mereka diminta untuk makan semua buah yang ada di taman kecuali buah pengetahuan yang baik dan jahat (Kej. 2:16–17). Zaman Musa, ada peraturan atau undang-undang untuk tidak makan daging binatang haram (Im. 11:4). Menurut Yesus, semua yang masuk ke dalam mulut akan berakhir di jamban dan yang menajiskan adalah yang dari hati atau pikiran yang jahat (Mat. 15:17–20). Pada masa gereja, kita bisa melihat pergumulan orang-orang percaya, antara orang-orang dari latar belakang Yahudi dan non-Yahudi berkenaan dengan makanan.  Dalam 1 Timotius 4:4–5 Rasul Paulus menulis “Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa. Demikian pula dalam 1 Korintus 6:12–13, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun. Makanan adalah untuk perut, dan perut untuk makanan, tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.”

Artinya segala sesuatu boleh kita makan. Kalau kita makan, kita harus yakin bahwa semuanya sudah dikuduskan oleh Tuhan melalui doa dan firman-Nya. Namun, kalau kita ragu, sebaiknya kita tidak makan, dan jangan terusik dengan mereka yang makan. Demikian juga bagi yang makan, tidak perlu merasa, atau menilai bahwa orang yang tidak makan itu lemah imannya. Sebaliknya, kita harus rela mengorbankan kebebasan kita demi orang yang tidak makan supaya mereka tidak tersandung. Kemerdekaan kita dalam Kristus harus diimbangi dengan kasih kepada sesama.  Demikian jawaban saya, kiranya Tuhan memberkati.

 

 

Leave a Reply