Input your search keywords and press Enter.

Membangun Persahabatan

Bagi remaja, hubungan dengan teman sebaya merupakan hal yang sangat penting. Berkenalan dengan teman baru, main bersama teman, dan menjaga persahabatan adalah hal yang demikian penting, kadang-kadang melebihi pentingnya orang tua dan saudara sekandung.

Tiga Bentuk Persahabatan (*)

Pertama, persahabatan yang seperti jangkar: Temanmu orang yang teguh, stabil, dan bisa diandalkan. Namun mungkin ia akan menghalangi kamu untuk melakukan hal yang ingin atau yang seharusnya kamu lakukan.

Kedua persahabatan yang seperti pelampung: Temanmu ada di sana saat engkau membutuhkannya. Dia adalah sumber pertolongan pada masa kesusahan, seseorang yang menarik kamu melakukan hal-hal yang positif.

Ketiga, persahabatan yang seperti jerat: Temanmu mungkin menyenangkan dalam pergaulan, tetapi ia bisa menyeretmu ke dalam berbagai masalah.

Alkitab sependapat bahwa teman itu penting. Bahkan, banyak bagian di Alkitab membicarakan pengaruh teman. Betapa pentingnya kita berhati-hati dalam memilih teman karena pengaruh mereka yang besar. Ada pepatah Inggris mengatakan “birds of feather flock together”. Amatilah dengan seksama bagaimana seorang remaja bersahabat, maka Anda akan tahu ke arah mana dia bertumbuh dan bagaimana perkembangannya nanti. Kehidupan seorang remaja terbentuk oleh dan dengan siapa dia menggunakan waktunya. Ketika kita lama menghabiskan waktu dengan seseorang, maka tidak lama kemudian sikap, nilai, bahkan pemikiran kita tentang Allah akan sama dengan teman sepergaulan kita itu.

Remaja perlu mampu mengatasi banyak tantangan agar dia belajar, bertumbuh, dan menjadi produktif. Salah satu wilayah yang sulit bagi remaja adalah relasi mereka dengan orang lain, termasuk keinginan mereka untuk masuk dan diterima dalam suatu lingkungan tertentu.
Hampir sebagian besar masalah remaja diakibatkan oleh penanganan situasi harian yang dilakukan dengan salah. Masalah juga bisa muncul karena pada kenyataannya “teman” adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan remaja. Melalui teman-temannya, remaja bisa berlatih dan bereksperimen tentang perilaku sosial. Melalui pertemanan mereka bisa memperhalus perilaku sehingga lebih bisa diterima oleh masyarakat.

Bagi remaja, teman merupakan sarana pendukung dalam atmosfer yang bisa membuat mereka merasa aman. Remaja memerlukan hubungan yang kokoh dan persahabatan yang tulus. Seorang teman bisa menjadi sarana yang diperlukannya.

Ketika Persahabatan Menjerumuskan 
Karena teman demikian penting bagi remaja kita, sebaiknya kita menghindari konflik dengan mereka di area ini. Kita perlu mengingat-ingat masa remaja dulu. Mungkin kita pun pernah berkali-kali dinasihati orang tua soal teman dan pergaulan yang tidak sehat. Bagaimana perasaan kita dulu saat diberitahu orang tua?

Waktu Anda merasa perlu mengingatkan remaja soal pergaulan, bangunlah terlebih dahulu hubungan yang baik dengan dia. Setelah itu, sediakan waktu ngobrol untuk memikirkan soal ini. Jangan hanya sesekali. Usahakan ada waktu yang rutin untuk membicarakan soal teman ini.
Diskusikan dengan dia betapa pentingnya persahabatan dan pertemanan. Bantulah dia untuk memahami bahwa teman-teman yang baik memiliki ciri karakter seperti kejujuran, ketulusan, kesopanan, keagresifan, dll. Mintalah remaja Anda menilai dengan sejujur mungkin orang-orang yang sering bermain dengannya.

Sementara Anda berdua mengeksplorasi ciri dan karakter teman-temannya, cobalah membuat dia merenungkan apakah teman-temannya itu sehat baginya atau tidak. Apakah mereka mempengaruhi dia untuk melakukan yang baik? Atau merekamenyeret dia ke dalam berbagai masalah? Diskusikan dengan remaja Anda, tiga bentuk persahabatan di atas. Siapa yang masuk dalam kategori jangkar? Siapa yang seperti pelampung? Siapa yang menjadi jerat? Lakukan role play/ bermain peran dengan remaja Anda, seperti “Bagaimana jika hal ini terjadi padamu?” atau “Apa yang akan kamu lakukan dalam situasi sepertiini?” Ini adalah cara yang baik sekali untuk masuk ke dalam pikiran remaja.

Diskusi dan Negosiasi

Ini adalah kunci bergaul dengan remaja. Ketika anak kita memasuki usia belasan tahun, ini tandanya dia mulai remaja, bukan anak-anak lagi. Karena itu, sudah bukan saatnya menegur dia dengan cara anak-anak dulu. Remaja perlu dihargai sebagaimana dia adanya. Dia senang kalau orang tua meminta pendapatnya. Saya teringat ketika Josephus meninggalkan SD dan masuk SMP. Dia punya beberapa teman baru di lingkungan ini. Waktu semester dua pertemanannya penyempit karena dia masuk kelas akselerasi. Kelompoknya hanya punya enam remaja pria. Maka dapat dimengerti ketika ke mana-mana mereka selalu berenam.

Masalah muncul saat ternyata teman-teman Jo, walaupun ada di kelas percepatan, ternyatapenyuka game online. Kami mulai resah. Bagaimana Jo bisa maju bersama teman-teman demikian?

Pada awalnya kami mengiizinkan dia main dengan teman sejam seminggu saat weekend. Lama-lama mereka main setiap hari. Jo mulai tidak mengindahkan peraturan kami. Uang sakunya disimpan untuk main game. Untunglah Jo masih menghargai Tuhan. Dia tidak meninggalkan saat-saat family altar. Kami menjaga hubungan baik dengannya dan terus menanamkan nilai-nilai dalam hidupnya. Kami mendiskusikan firman dan nilai dengan Jo. Kami belajar bernegosiasi dan membuat kesepakatan. Akhirnya, ketegangan itu selesai juga setelah enam bulan.

Ketika Jo masuk SMU dan bertemu teman-teman baru penyuka game, dia tidak memerlukan waktu banyak untuk menilai teman semacam apa mereka itu. Dia membentuk peer-group baru yang lebih menyukai musik yang baik, berolahraga, dan berbagai aktivitas lain yang lebih membangun. Itulah yang membentuk dia sampai saat ini.

Libatkan Tuhan

Penting sekali mengajak remaja memikirkan bahwa Allah pun mementingkan pertemanan. Karena itu, carilah waktu untuk mendiskusikan dengan anak kita pendapat Allah tentang teman-teman yang dipilihnya.

Bantulah anak Anda untuk melihat bagaimana dia bisa menumbuhkan persahabatan dengan Allah juga. Di mana peran Allah dalam membimbing anak kita menentukan teman yang baik?

Yakinkan diri Anda untuk menolong remaja Anda memandang Allah sebagai sumber persahabatan. Pastikan bahwa anak kita juga mengundang Dia ke dalam kehidupan mereka dan memberi mereka kebijaksanaan dalam memilih teman, termasuk dalam proses pertemanan. (*)

*) Dari buku “The Christian Therapist Notebook” Jilid III. (Buku Pegangan Konseling
Anak & Remaja). Miller, David R. dan Henry, Philip J. Edisi Indonesia diterbitkan oleh Yayasan Peduli Konseling Indonesia. 2008.

Leave a Reply